artikel


After the flood, time to change people’s mind-set
B. Nicodemus, Jakarta

The impacts of economic development on the environment have been expounded for years. In 1972, the Club of Rome, a global think thank on international issues, published its famous report Limit to Growth, which predicted that economic growth could not continue indefinitely due to the limited availability of natural resources. Fifteen years later, the World Commission on Environment and Development (WCED), chaired by Gro Harlem Brundtland, published its report titled Our Common Future.

The report, also known as the Brundtland Report, introduced environmental concern to the development concept. Next, considering the detrimental effect of excess carbon dioxide in the atmosphere, the Kyoto Protocol was designed in 1997 to cut the emission of CO2 and other greenhouses gases as a response to climate change.
(lebih…)

Indonesians unnecessarily at the mercy of nature
Aris Ananta and Evi Nurvidya Arifin, Singapore

Earlier this month Jakarta — the center of Indonesian politics and business — was inundated by floodwater for about a week. Many thought it was Jakarta’s worst ever flooding, as it paralyzed 70 percent of the city.

The economic impact was felt beyond Greater Jakarta. The flood struck both rich and poor, regular people and elites. It killed at least 54 people and left more than 200,000 homeless. The death toll may yet increase from the water-borne diseases that have emerged in the aftermath of the flood. The financial loss from the flood is expected to reach Rp 8 trillion (US$879 million), pushing up Indonesia’s yearly budget deficit.
(lebih…)

Pelanggaran Serius dalam Pembangunan Jakarta

Ibukota Jakarta ini tidak akan terperangkap masalah kemacetan harian dan banjir tahunan jika pemerintah tunduk pada master plan yang pernah dibuat. Ratusan tahun lalu, penjajah Belanda mendesain kota Batavia ini sedemikian rupa karena menyadari kontur tanah dan kondisi faktual lain yang tidak menguntungkan.

Demikian juga sesudah kita merdeka. Namun, sejak Orde Baru berkuasa, tidak sedikit peraturan pemerintah dikeluarkan atas nama pembangunan, akan tetapi justru menjadikan Ibukota seperti saat ini: macet dan banjir. Lalu untuk apa konsep metropolitan yang belum selesai dipertanggungjawabkan itu diganti dengan konsep megapolitan, jika kondisi Jakarta tetap seperti saat ini? Untuk itu di dalam pembahasan undang-undang pemerintahan Ibukota Jakarta sebelum disahkan di DPR perlu terlebih dahulu dikaji di masyarakat atau disosialisasikan. Juga dijelaskan pengertian istilah-istilah megapolitan kepada masyarakat.
(lebih…)

Nyawa Manusia yang Makin Murah
Benny Susetyo

Musibah beruntun mulai dari kapal laut tenggelam, terbakar, kereta api anjlok, kapal terbang hilang, sangat menyita energi kita berhari-hari. Peristiwa itu seharusnya menyadarkan semua pihak akan arti penting manusia sebagai manusia. Manusia bukan sekadar material yang bisa dieksploitasi demi kepentingan ekonomi semata.

Keselamatan manusia jauh lebih penting di atas semua kepentingan material dan modal. Selama ini kita memperlakukan manusia sering di luar batas-batas kemanusiaannya. Terlalu banyak pelanggaran kemanusiaan dilakukan hanya untuk kepentingan personal yang memiliki modal dan kekuasaan.
(lebih…)

Memahami Banjir Jakarta, Masalah Bumi atau Langit?

Oleh Sunaryo

Secara ilmiah banjir dan kekeringan, berdasar sejarah kejadiannya dapat dirumuskan pola kemunculannya. Hujan terderas dapat dipolakan sebagai hujan terlebat siklus 100 tahun, 50 tahun, 25 tahun, 10 tahun, dan lima tahun.

Seperti kapan datangnya gempa, para ilmuwan belum bisa meramalkan secara pasti, kapan siklus hujan terlebat terjadi sebelum benar-benar terjadi.
(lebih…)

Flood recovery efforts reveal great divide between rich, poor

Anissa S. Febrina, The Jakarta Post, Jakarta

Those who are not directly affected by the flood might think the nightmare is over when the waters recede.
(lebih…)

Badai dan Siklon Tropis
Ada Apa dengan Cuaca?

Yuni Ikawati

Angin kencang dan gelombang pasang menyapu Samudra Hindia, meluas hingga ke Laut Jawa di barat dan Laut Sulawesi di timur Indonesia. Selain mengempaskan pesawat dan kapal-kapal di kawasan itu, gangguan cuaca ini juga mengaki- batkan hujan lebat di berbagai wilayah.

Ancaman hujan badai yang datang bertubi-tubi itu hingga mengakibatkan bencana banjir dan longsor pun tidak hanya diakibatkan anomali cuaca dalam skala lokal, tetapi juga regional. Serbuan badai “asing” dari Siberia akhir Januari hingga awal bulan ini, misalnya, menjadi penyebab lumpuhnya Jakarta oleh banjir yang diakibatkannya.
(lebih…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.