artikel


Pemerintah Harus Punya Kompetensi

Jakarta, Kompas – Pemerintah pusat dan daerah harus memiliki kompetensi dalam menangani bencana.

“Bencana yang terjadi di Indonesia bukan lagi dalam skala kecil. Tindakan yang dilakukan selama ini hanya reaksi dan tidak ada kemampuan manajemen bencana untuk meminimalkan dampak sebelum dan pascabencana,” ujar anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) DKI Jakarta, Sarwono Kusumaatmadja, Rabu (21/2).

Ia mengatakan hal itu dalam seminar “Permasalahan Banjir: Bahaya dan Penanggulangan” yang diselenggarakan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jakarta Selatan di Jakarta.
(lebih…)

Adaptasi Lingkungan: Mengukur Efisiensi Sejumlah Solusi Banjir

Nawa Tunggal

Serasah-serasah bekas bungkus rokok, kulit jeruk, dan kertas tisu dipungut Didin dari tempat sampah plastik di kiosnya dan dibuang satu per satu ke dalam aliran limpasan air hujan yang mengalir di pinggir ruas jalan persis di depan kiosnya. Jika perilaku seperti Didin ini tetap dipelihara, niscaya Jakarta akan terus menuai bencana. Warga jadi bulan-bulanan penderitaan.

Didin, yang berusia 40-an tahun, itu kembali seperti bocah. Sambil duduk, begitu asyik ia menikmati pelepasan satu per satu buangan serasah sampah itu. Itu seperti bermain kapal-kapalan yang dihanyutkannya ke sungai.

Kamis (15/2) sore itu, Jakarta memang diguyur hujan deras. Didin, pemilik kios rokok di pinggir Jalan Utan Kayu, Jakarta Pusat, itu ternyata tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membuang sampah, apalagi ia membuang sampah tanpa perlu beranjak keluar dari kios rokoknya yang memang sempit.
(lebih…)

Law, floods and power manipulation

Frans H. Winarta, Jakarta

Massive floods hit Jakarta in 2002 and five years later, on Feb. 1, 2007, severe flooding again submerged much of Jakarta, lasting for seven days. Economic and other activities were paralyzed, and the floods caused much misery for residents.

This constitutes another case in which the Indonesian government has shown itself incapable of surmounting a natural disaster. Strangely, in spite of predictions about imminent floods in January and February 2007, the Jakarta regional administration took no concrete steps to reduce the impact of the coming floods, such as river dredging, proper maintenance of drains and the development of water resorption areas. With such precautions, the adverse effects of the floods, which immobilized Jakarta for several days with trillions of rupiah lost, could have been mitigated.
(lebih…)

Setelah Banjir Usai

AGNES ARISTIARINI

“Man has lost the capacity to foresee and to forestall. He will end by destroying the earth” (Manusia telah kehilangan kemampuannya meramal dan mencegah. Ia akan berakhir jika ia merusak Bumi.)

Albert Schweitzer, 1875-1965.

Sebagaimana makhluk hidup, manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bedanya, hewan mengandalkan adaptasi biologis, manusia dengan peradaban.

Namun, cara hewan berinteraksi dengan alam tak berubah, sementara perilaku manusia terus berkembang—walau tidak selalu pas. Kemajuan peradaban, misalnya, membuat manusia lepas kontrol mengeksploitasi alam. Hancurlah lingkungan, seperti yang diramalkan filsuf Jerman, Albert Schweitzer.

Begitulah yang terasa hari-hari ini, ketika air sempat merendam hampir 80 persen wilayah DKI Jakarta. Banjir itu datang ketika belum genap dua bulan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum menyatakan, situ di Jabodetabek sebagai daerah tangkapan air tinggal 30 persen. Awalnya 2.337 hektar kini 875 hektar.
(lebih…)

Banjir Donasi, Banjir Promosi

Hamid Abidin, PIRAC

Jakarta kembali terendam banjir. Namun, bencana banjir kali ini jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya sehingga menimbulkan banyak kerusakan dan korba jiwa. Besarnya dampak dan kerusakan yang ditimbulkan banjir ini memicu keprihatinan banyak pihak. Tak lama setelah berita bencana banjir itu tersiar, berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pengusaha, tokoh agama, ibu-ibu rumah tangga, media massa sampai anak-anak sekolah, secara spontan bergerak mengumpulkan bantuan. Dalam sekejap, spanduk, poster, pamflet dan papan penumuman yang berisi informasi posko pengumpulan bantuan, baik uang, barang dan tenaga relawan, bermunculan di berbagai tempat.
(lebih…)

Penanganan Depresi Pasca Banjir

Goenardjoadi Goenawan

Saat ini pembersihan rumah-rumah dari banjir telah hampir selesai, lumpur tebal telah dibersihkan, pembersihannya memakan waktu 4 hari. Bagaimana kondisi para korban banjir? Apakah masalah utama yang timbul yang dialami pasca banjir ini? Mengapa para korban banjir mengalami depresi berat? Apakah penyebab deresi tersebut?

Jangankan para korban banjir, yang rumahnya tidak kebanjiran namun mati listrik, dan mati PAM saja sudah sangat tersiksa. Kondisi gelap, panas, pengap, tidak bisa mandi, tidak ada kipas angin, dan tidak bisa melakukan hal yang paling simple, seperti charge handphone. Contohnya ini sharing teman kita yang kena banjir.

Baru bisa gabung lagi setelah lebih dari 1 minggu “terkukung” dalam “kegelapan”. Maklum rumah kebanjiran dan harus jadi nomaden. Dan terus terang saya mengalami depresi yg cukup berat selama periode kebanjiran kemarin itu. Saya paksakan untuk menulis posting ini karena mengharapkan hal ini bisa mengurangi stress saya tsb.

Kejadian kebanjiran di rumah saya ini adalah ke 3 kalinya (yg terhitung ‘huebat’); dari 1996, 2002 dan 2007 ini. Seperti juga mungkin dialami teman2 lainnya, banjir di Jakarta 2007 ini memang lebih parah juga menimpa saya sekeluarga. Tapi saya ingin tetap bisa mengambil “pelajaran” dari musibah ini.

Dari segi ‘kebutuhan’ (yg lagi lumayan ramai didiskusikan juga di sini), saya tiba2 merasakan suatu kebutuhan yg tinggi sekali dan tak dapat terpenuhi saat kebanjiran itu; yaitu kebutuhan atas INFORMASI. Saya tidak peduli dgn gak bisa makan/minum ataupun rasa aman….boro2 aktualisasi diri (ini istilah2 dari Maslow yah hehe). Stress saya adalah karena saya benar2 kekurangan informasi. Area saya tiba2 kalau malam hari seperti lautan luas yang gelap gulita dan sunyi. Tidak ada TV, orang pada takut keluar, gak ada koran yg datang karena siapa yg mau mengantarkan koran ke daerah yg banjirnya sudah sedada? Paling2 mendapat ‘sedikit’ berita dari radio saku dgn baterei saya….”sialnya” isinya nyaris seragam semua yaitu: pintu air A sudah sekian meter, banjir di daerah B masih tinggi, macet total di daerah C dan sejenisnya. Bukannya bikin gembira, eh ini informasi malah bikin aku makin stress. Pengen banget bisa akses internet…tapi pakai apa? HP saya batereinya sudah sangat tipis sehingga saya batasi hanya untuk SMS krn kalau habis, mau charge dimana? Saya belum baca bukunya mas Goen yg terakhir (BTW, saya beli 1 buku anda dan belum sempat saya baca, sekarang sudah jadi bubur kertas :-)….tapi moga2 mas Goen sudah memasukan adanya kebutuhan atas Informasi ini disana yah :-) Yang pasti ketidak-mampuan saya memenuhi kebutuhan atas informasi itu rasanya benar2 membuat saya jadi org ‘bego’ selama seminggu itu.

Saat siang hari, saya mengalami situasi yang lain lagi. Bila saya keluar menembus banjir, maka saya bertemu dengan berbagai macam individu yg ‘senasib’ dan tiba2 bisa dgn mudah berakrab-ria dengan mereka. Tolong-menolong jadi demikian mudah dan indahnya. Yg satu kasih segelas aqua, yg lain sebatang rokok dan yg lain lagi sekedar sharing informasi….wah lega dan rada terlepas sedikit stress-nya….padahal di sekitar kita air bercampur sampah campur aduk dgn baunya yg alamak banget….tp kita bisa tersenyum juga bersama disitu (walaupun ada juga bbrp org yg nimbrung ngobrol dgn umpatan2-nya hehe). Rasanya kalau dalam kondisi begini, gak perlu itu ada latihan kompati hehe….semua tiba2 jadi ahli berempati dgn org lain :-) Hilang perbedaan apakah kita WNI asli atau bukan,
apakah dia Muslim atau bukan, apakah dia kaya atau miskin dlsb. Mungkin inilah kekuatan ‘alam’ yang bisa menyatukan empati antar manusia yah. Mungkin ini PR buat Vincent dkk agar bagaimana kekuatan alam seperti itu selalu ada dalam diri kita masing2.

Hal lain yang saya perhatikan adalah bahwa memang situasi kritis/darurat akan lebih memacu kreatifitas manusia. Beberapa warga di RW saya tiba2 berubah profesi menjadi ‘ojek rakit’. Bahan rakitnya bermacam-macam sekali, ada yang pakai botol aqua galon, ada yg tetap ‘tradisional’ pakai bambu, ada yg pakai tong sampah, ada yg pakai gerobak sampah RT yg disulap jadi rakit, ada yg pakai ban mobil bekas, ada yang pakai kasur basah, macam2 deh. Dan penghasilan mereka sangat menarik lho….per orang bisa kena biaya Rp. 10rb hanya unt. jarak sekitar 300-400 meter (ya cuma jalannya di air yah :-)). Apakah mungkin bencana alam yg akhir2 ini terjadi di Indonesia adalah salah satu ‘jalan Tuhan’ agar insan Indonesia bisa lebih kreatif? Moga2 demikian!

Di saat yang bersamaan, saya juga bisa ‘menikmati’ perilaku angkuh dari sebagian orang. Lah sudah lihat di depan banjir sedada, ada saja org dgn motor dan mobil yang mencoba ‘nekad’ melewatinya. Ada satu mobil toyota jeep dgn. stiker angkatan di kaca belakangnya ditambah stiker perkumpulan berburu, ditambah pengemudinya yang pakai topi koboi, nekad dan mogok dan jadi bahan tertawaan para ojek rakit :-) Kacian deh loe!

Bagi sebagian orang lagi mungkin “cahaya” adalah kebutuhan pokok juga. Akibatnya setelah bbrp hari tidak ada listrik, tiba2 saya melihat cukup banyak ojek rakit membawa genset ke rumah2 yg masih dihuni. Saya dengar Carefour kena serbu org2 yg ingin beli genset sampai harganya melambung….dan org sudah tidak peduli lagi apakah itu genset buatan amerika, eropa, china or made in pulogadung :-) Saya sih masih cukup puas dengan lilin dan senter baterei saya saja.

Perasaan terisolasi cukup kental saat itu. Walaupun saya akhirnya harus mengungsi juga ke rumah teman, tapi tidak bisa jauh-jauh karena area saya boleh dibilang ‘terkurung’ banjir. Rumah teman tempat saya mengungsi juga kebanjiran walaupun hanya sebatas halamannya saja. Tapi ya tetap saja di rumah itu tidak ada listrik (untung PAM masih menyala). Di rumah teman itulah saya jadi merasa mendapat ‘teman karib baru’…krn sebelumnya saya hanya bertemu dia belum tentu 1 bulan sekali…tiba harus bertemu tiap hari untuk beberapa malam. Guyonannya cukup membuat saya mampu berkomunikasi dgn baik lagi.

Hal lain yg harus saya terima dgn iklas adalah bahwa usia memang tidak bisa dibohongi. Saat banjir 1996 seingat saya, saya masih kuat mengangkat perabotan rumah saya agar selamat dari air. Tp saat banjir kemarin, tiba2 saya merasa tenaga saya sudah sangat berkurang dibandingkan 11 thn lalu sehingga akibatnya lebih banyak perabotan rumah saya yang hancur. Yang paling saya sayangkan adalah buku2 saya yg jadi bubur kertas! Padahal ada sebagian buku2 itu yg belum tuntas saya baca atau bahkan belum sempat saya sentuh (masih mulus terbungkus plastiknya!)

Saya yakin ada rekan lain yg mengalami hal yg lebih parah daripada saya. Yah…semoga seberapapun parahnya musibah yang menimpa anda, ada pelajaran yang bisa kita peroleh. Teman saya bilang “Tuhan tidak akan memberikan musibah yang tidak dapat ditanggung manusia”. Saya percaya itu juga, khususnya dalam pengertian, mungkin tubuh kita tidak dapat menanggungnya, tapi jiwa dan iman kita seharusnya jauh lebih kuat dari tubuh fana kita.

Salam damai selalu

Saya ikut prihatin anda mengalami horor berhari-hari tanpa kejelasan, terkucilkan, terisolir, dan itu membuat anda depresi berat. KEBUTUHAN Manusia itu bukan makan minum saja, manusia bisa tidak makan berhari-hari dan bisa survive, kebutuhan dasar Manusia adalah kebutuhan untuk Didengar / berkomunikasi. Bila jeritan hati ini tidak didengar (tidak bisa saling berbagi), maka depresi akan menjadi gejala sakit. Sakit apalagi, kalau bukan sakit jiwa.

Yang menyelamatkan anda adalah kebutuhan kedua, yaitu KEBUTUHAN untuk empati, anda masih menerima kebaikan orang lain, dan dengan demikian anda amsih bisa memiliki harapan. Oleh karena itu, janganlah segan-segan untuk mengungkapkan kondisi anda kepada teman terdekat, ungkapan perasaan anda yang didengar akan membuat anda kembali pulih, istilahnya “aligning your spirit”, mengembalikan jiwa anda. Ini membuktikan bahwa membaca berita, membaca koran, misalnya adalah bukan demi berita, namun lebih berfungsi dalam keadaan tak pasti, informasi ketakutan bersimpang siur, kita memiliki pedoman, memiliki Kompas.

Ada istilah Crach syndrome, apad sebuah kejadian kaget luar biasa, atau tabrakan, maka tubuh akan mengalami goncangan jiwa, dan oleh karena itu 5 menit pertama adalah menenangkan diri, dengan berdoa, dengan minum air, sebab bila tidak, besar kecenderungan terjadinya metabolism breakdown bukan karena organ terbentur, atau terhantam, namun karena jiwa yang terguncang, sehingga tidak mampu mengendalikan metabolisme fungsi hati, jantung, paru-paru, penglihatan mata.

Buku-buku anda sudah hanyut menjadi bubur, namun anda menemukan buku anda yng paling mahal, yaitu buku hati anda. Mohon anda dapat menuliskan apa yang
terbaca dari hati anda, untuk apa manusia hidup? mengapa beban kok terasa semakin berat? mengapa hidup ini penuh penderitaan?

Bacalah, maka anda akan menemukan surga di hati anda.

salam,
Goenardjoadi Goenawan

sumber: http://groups.google.com/group/milis-fpk/browse_thread/thread/1e50745c9d478d1b/3e901a05d439448e?lnk=st&q=banjir+jakarta&rnum=4#3e901a05d439448e

Press Release:

Hasil Pemantauan Penggalangan Sumbangan Banjir di Jakarta

Seperti pada kejadian bencana alam sebelumnya, PIRAC (Public Interest Research and Advocacy Center), sebuah lembaga nirlaba independen yang concern pada kegiatan kedermawanan sosial (filantropi), melakukan pemantauan terhadap berbagai kegiatan penggalangan dan penyaluran sumbangan untuk korban banjir di Jakarta. Kegiatan ini dilakukan dengan mengamati secara langsung kegiatan penggalangan dan penyaluran sumbangan yang terjadi di lapangan, serta berbagai kegiatan penggalangan dana yang dilakukan lewat media cetak dan elektronik. Pemantauan ini bertujuan untuk mendorong kegiatan kedermawanan untuk korban bencana dikelola secara terorganisir, transparan dan akuntabel. Kegiatan pemantauan kali ini difokuskan pada aspek transparansi dan akuntabilitas yang dilakukan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam melakukan penggalangan dan penyaluran sumbangan.

Berikut kami sampaikan beberapa temuan dari hasil pemantauan tersebut yang dilakukan mulai
3 Pebruari 2007:

1. Seperti bencana alam sebelumnya, masih banyak anggota masyarakat, aktivis lembaga sosial, pelajar dan mahasiswa yang melakukan penggalangan dana di jalan-jalan sehingga mengganggu lalu lintas dan keamanan pengguna jalan. Selain itu, agak susah memantau pertanggungjawaban dari kegiatan yang bersifat sporadis tersebut. Tanpa berniat mengecilkan niat baik dan kepedulian mereka, pihak-pihak yang ingin melakukan penggalangan sumbangan hendaknya berkoordinasi dan bersinergi dengan lembaga-lembaga sosial yang sudah berpengalaman dan punya kompetensi dalam menggalang sumbangan. Dengan demikian, kegiatan penggalangan sumbangan bisa dilakukan dengan lebih terorganisir, lebih bertanggungjawab dan tidak mengganggu ketertiban masyarakat.

2. Hal yang sama juga berulang pada penggunaan rekening pribadi untuk menggalang sumbangan masyarakat. Masih banyak pengelola sumbangan yang menggunakan rekening pribadi untuk menampung dana publik ini. Salah satu lembaga yang melakukannya adalah Partai Keadilan Sosial (PKS) yang mengiklankan program kedermawananya secara besar-besaran di beberapa harian nasional. Dalam iklan tersebut PKS menghimbau masyarakat untuk menyalurkan dana lewat nomor rekening pribadi, yaitu BCA No.229145.9261 atas nama Sahrullah (Bendahara PKS). Penggunaan rekening pribadi semacam ini tidak bisa dibenarkan karena melanggar asas transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana bencana. Untuk organisasi kecil atau penggalangan dana dalam lingkungan terbatas, penggunaan rekening pribadi masih bisa dimaklumi. Lembaga sebesar PKS yang sudah sering terlibat dalam pengelolaan dana bencana selayaknya menggunakan rekening khusus, seperti yang dilakukan oleh lembaga sosial lainnya. Hal itu diperlukan agar dana masyarakat tidak tercampur aduk dengan dana pribadi atau partai yang masuk ke rekening tersebut.

3. Selain itu, masih banyak pihak-pihak yang mempolitisasi kegiatan penyaluran sumbangan banjir untuk kepentingan politik praktis. Beberapa partai politik dan bakal calon gubernur DKI Jakarta mencoba memanfaatkan momentum bencana ini untuk berkampanye. Bahkan, sebagian dari mereka secara khusus “mengiklankan” kepeduliannya secara besar-besaran di surat kabar. Tentu saja promosi kedermawanan ini tidak gratis. Berdasarkan tarif iklan yang ditetapkan oleh masing-masing surat kabar, parpol serta para bakal cagub harus mengeluarkan dana puluhan juta rupiah untuk “promosi kedermawanan” itu.
Politisasi kegiatan kedermawanan ini memang tidak melanggar hukum, namun bisa dipersoalkan secara etis. Kegiatan kedermawanan harus dikembalikan pada esensinya sebagai aktivitas sosial yang dilakukan secara tulus dalam rangka membantu sesama. Para aktifis parpol dan bakal calon gubernur juga harus mempertimbangkan perasaan masyarakat yang ditimpa bencana dan tidak justru memanfaatkannya untuk kepentingan politik praktis. Selain itu, alangkah lebih baik dan bermanfaat jika dana yang digunakan untuk “iklan kedermawanan” itu disalurkan dalam bentuk makanan, pakaian, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya yang sangat diperlukan oleh korban banjir.

4. Tim PIRAC juga menemukan adanya indikasi pengelabuan masyarakat pada penggalangan sumbangan banjir lewat program SMS Donasi Nasional yang dikelola oleh Departemen Sosial dan Haltek Group. Indikasi tersebut terungkap berdasarkan pengaduan beberapa donatur yang menyumbang pada program tersebut lewat SMS yang dikirimkannya. Tim PIRAC kemudian melakukan pengecekan dan pembuktian dengan melakukan SMS secara langsung ke nomor yang dimaksud. Kasus ini terutama dialami oleh penyumbang yang menggunakan kartu Mentari (Indosat), Matrix (Indosat), IM3 (Indosat), Simpati (Telkomsel), Kartu Hallo (Telkomsel), Kartu AS (Telkomsel), Flexi (Telkom), dll

Seperti diketahui, Depsos bekerja sama dengan PT. HALTEK MULIA MEDIA (HALTEK GROUP) menyelenggarakan program SMS Donasi Nasional. Program ini dilakukan dengan menyediakan nomor khusus (7505) bagi masyarakat yang ingin menyumbang lewat SMS. Program ini juga melibatkan semua operator telepon seluler dan beberapa organisasi sosial sebagai penerima bantuan. Depsos dan lembaga peserta program tersebut kemudian mempromosikannya di beberapa media massa. Program ini juga dipromosikan pada saat banjir melanda Jakarta oleh beberapa lembaga di beberapa media dengan tujuan menggalang sumbangan bagi korban banjir. Dalam promosi tersebut disebutkan bahwa dengan mengetik nama lembaga spasi program yang didukung (misal, ACT DONASI atau LM ACK) dan dikirim ke 7505, maka penguna telepon seluler akan menyumbang korban bencana sebesar Rp.5000. Pengelola program selanjutnya akan menyalurkan sumbangan tersebut kepada lembaga yang dituju oleh donatur. Pada iklan program yang dimuat beberapa media massa maupun web site Depsos, tidak disebutkan adanya biaya tambahan yang harus dibayarkan oleh pengirim SMS. (lihat http://donasi.tvkemanusiaan.org/depsosRI atau http://www.tvkemanusiaan.org, serta iklan dan pemberitaan seputar program di beberapa media)

Namun, praktek yang terjadi di lapangan ternyata menyimpang dari apa yang diiklankan. Dana yang diambil lewat pemotongan pulsa ternyata jauh lebih besar dari jumlah yang diiklankan. Hal itu dikeluhkan oleh beberapa pengguna telepon seluler yang menyumbang lewat program tersebut kepada Tim PIRAC. Pulsa yang terpotong untuk SMS tersebut ternyata sebesar Rp.6.600, bukan Rp.5000 seperti yang diiklankan. Sebagian besar donatur merasa tertipu karena dalam iklan tidak disebutkan adanya dana tambahan di luar sumbangan sebesar Rp.5000. Mereka juga mempertanyakan ke mana larinya selisih dana sebesar Rp.1600 yang mereka salurkan. Beberapa donatur dan Tim PIRAC sudah mencoba mengadukan kasus ini pada SMS Pusat Pengaduan (5505) yang disedikan Depsos dan Haltek, namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Promosi program yang tidak dilakukan dengan tepat dan transparan ini jelas merupakan pelanggaran dalam penggalangan sumbangan masyarakat. Terlebih lagi, jika didalamnya juga didapati pengutipan dana di luar sumbangan yang sudah disepakati. Hal ini melanggar peraturan mengenai pengumpulan sumbangan, yakni UU No. 9 tahun 1961, PP No. 29/1980 dan Kepmensos No.1/HUK/1995. Peraturan-peraturan tersebut mensyaratkan pengumpulan sumbangan dilakukan secara terang-terangan/transparan, sukarela, tidak dengan paksaan atau cara-cara lain yang meresahkan masyarakat. Pelanggaran terjadi karena program SMS Donasi Nasional yang dikelola Depsos dan Haltek Group tersebut dipromosikan secara tidak transparan. Unsur pemaksaan juga ditemui dalam pelaksanaan program itu karena pemungutan selisih dana sebesar Rp.1600 tidak dilakukan atas kerelaan masyarakat. Depsos dan Haltek Group sebagai penyelenggara program juga tidak menjelaskan ke mana dan untuk apa selisih dana tersebut disalurkan.

Jika selisih dana sebesar Rp.1600 itu digunakan untuk pembiayaan program, maka tindakan itu juga melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri, yakni pasal 4 keputusan Mensos No.1/HUK/1995 tentang Pengumpulan Sumbangan untuk Korban Bencana. Dalam peraturan tersebut dinyatakan: ”Pembiayaan untuk penyelenggaraan pengumpulan sumbangan untuk korban bencana dan penyalurannya, tidak diperbolehkan menggunakan dana dari hasil kegiatan pengumpulan sumbangan yang bersangkutan.” Dengan kata lain, seluruh sumbangan yang diberikan oleh pengguna telepon seluler sebesar Rp.6.600 tidak boleh dipotong untuk penyelenggaraan/ operasional program maupun organisasi penerimanya dan harus diserahkan sepenuhnya kepada korban banjir.

Karena adanya pelanggaran-pelanggaran di atas, PIRAC mendesak kepada Depsos dan Haltek Group untuk:
1. Menarik program SMS Donasi Nasional ini dan memperbaikinya jika ingin diluncurkan kembali ke masyarakat. PIRAC menyadari bahwa program ini penting dan bermanfaat, khususnya bagi korban bencana. Namun, penyelenggaraannya tidak boleh melanggar peraturan dan prinsip-prinsip dasar pengelolaan sumbangan.
2. Menjelaskan kepada masyarakat penyumbang mengenai pemanfaatan dana sebesar Rp.1600 per SMS yang merupakan selisih dari dana Rp.6600 yang ditarik dari masyarakat penyumbang
3. Depsos sendiri harus mempertimbangkan keterlibatannya sebagai penyelenggara program-program semacam ini dan menyerahkan penyelenggaraannya kepada lembaga-lembaga sosial, seperti praktek yang terjadi sebelumnya. PP No. 29/1980 mengenai ”Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan” telah mengamanatkan kepada Depsos untuk menjalankan fungsi sebagai regulator dan pengawas dalam pengelolaan sumbangan. Fungsi tersebut akan sulit dijalankan jika Depsos sendiri terlibat sebagai penyelenggara program penggalangan sumbangan, seperti dalam kasus SMS Donasi Nasional. Dengan kata lain, jika terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan program itu, Depsos tidak mungkin bisa mengawasi dan memberi sanksi kepada dirinya sendiri.

Penjelasan lebih lengkap mengenai hasil pemantauan ini dapat menghubungi:
Hamid Abidin/ Yuni Kusumastuti
Di Kantor PIRAC
Jl. M. Ali No. 2 Tanah Baru, Beji, Depok
Telp: 021 7756071/ 7752699 atau Hp.08164841438
Email: pirac@cbn.net.id
Website: http://www.pirac.web.id

sumber: “PIRAC”

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.