artikel


banjir – sudah saatnya untuk bertindak!

Banjir di Jakarta memang udah bukan hal yg aneh. Tp banjir yg terjadi kali ini membuat perasaan sy campur aduk antara prihatin, marah, sedih, dan bersyukur. Oleh krn itu sy ingin sekali mengungkapkan perasaan sy ini kpd semua rekan2, tp maap sekali kl tulisan sy ini kacau-balau. Krn sebenernya sy tdk terbiasa utk menulis ttg perasaan sy.

Kenapa sy sampai bersyukur? Sy beryukur krn tempat sy tdk kena banjir sama sekali, tidak terkena mati lampu, tdk mengalami kekurangan apapun (bahkan tukang sayur di rumah sy tetap berkeliling walaupun hujan lebat sekalipun). Paling hanya saluran telp aja yg bermasalah. Tp kan msh ada HP jd tdk perlu terlalu dimasalahkan. Sy juga bersyukur menjadi seorang ibu rmh tangga yg pd saat banjir ini tdk perlu bingung masuk kantor apa tdk, dan terkena macet yg gila2an di jalan krn banjir. Sy juga bersyukur anak msh kecil2 (2th & 8bl), blm pd sekolah. Jd tdk perlu mersakan macet di jalan. Jd dg semua keadaan yg sy terima sekarang sudah sepantasnya kan sy mengucapkan syukur yg sedalam2nya?

Tp sy merasa sedih & prihatin sekali krn banjir yg katanya terhebat ini terjadi di Jabodetabek. Setiap hari sy melihat beritanya di TV bahkan banyak komplek2 perumahan di sekitar sy jg mengalami banjir hingga 2m lebih! Ya Allah, kenapa ini bisa terjadi? Untuk itu sy mengucapkan prihatin yg sedalam2nya kepada para korban banjir. Semoga diberi ketabahan.

Siapa yg harus disalahkan dg adanya kejadian ini? Menurut sy sebelum kt saling menyalahkan (tdk ada gunanya jg. Masalah gak selesai malah bertambah), kenapa kita gak introspeksi aja? Kita bisa aja nyalahin pemerintah yg membuat proyek2 pembangunan tp memperhatikan lingkungan. T papa kita juga udah bebas dr kesalahan? Dr hal2 yg paling sederhana aja. Apa kita masih suka buang sampah sembarangan? Bayangin aja kl setiap hari kita buang 1 plastik sampah, mungkin buat kita gak seberapa. Tp kl semua penduduk Jkt buang 1 plastik sampah. Bayangin berapa byk tuh jumlahnya!! Itu br satu hari, kl di lakukan tiap hari? Salah satu buktinya adalah ada gak sungai2 di Jkt yg airnya bersih? Bebas dr sampah? Kyknya gak ada y…. Kl kita semua udah berdisiplin utk tdk buang sampah sembarangan mungkin tdk otomatis membebaskan Jkt dr banjir. Tp setidaknya bs mengurangi kan?

Fenomena Alam & Siklus 5 Tahunan. Byk yg bilang banjir di Jabodetabek ini krn Fenomena Alam & Siklus 5 tahunan. Mungkin sy bodoh, tp jujur aja sy gak ngerti dg pernyataan ini. Kl memang ini hy fenomena alam & siklus 5 tahunan berarti kita seharusnya sudah bs memprediksi kan? Kl kita sudah bs memprediksi harusnya kita bisa mencegah atau plg tdk mengurangi. Tp yg terjadi setelah 5 tahun terakhir banjirnya kok malah tambah dahsyat? Kl begitu apa 5 thn ke depan kita harus mengalami banjir yg lebih dahsyat lg dari ini? Aduh jangan sampe deh!! Ada jg yg bilang yg penting nyawa selamat, harta bisa di cari. Bener bgt tuh! Tp kl dipikir2 apa kita rela susah payah, siang malem cr uang u/ keluarga dll, eh begitu banjir dtg semua harta yg kita kumpulkan terbuang begitu saja dan itu mungkin akan terjadi 5 th sekali!

Sy malu sbg warga Jakarta. Jabodetabek, terutama Jakarta selama ini dilihat sebagai kota yg glamour, penuh kemewahan, pembangungan di mana2, Jakarta jg menjadi ibukota dr RI. Gak heran sp sekarang msh banyak aja org dr luar Jakarta yg tergiur utk mengadu nasib di Jkt. Tp liat aja deh begitu Jkt diterjang banjir, hampir semua aktifitas lumpuh! Tp gak mungkin kan sy keluar dr Jkt krn masalah ini? Harusnya Jakarta sbg ibukota Negara tuh bisa jd proyek percontohan. Tdk hanya dlm pembangunannya tp juga dlm hal menjaga lingkungannya.

Sy yakin masih ada jalan kok untuk memperbaiki keadaan. Ada cerita, orang tua sy br aja pulang dr menunaikan ibadah haji. Ini yg kedua kalinya. Menurut orang tua sy, keadaan di Arab sudah sangat berbeda. Dulu (kira2 10 th yg lalu), tanah Arab masih gersang. Sekarang Pohon dimana2. Pokoknya rimbun, banyak burung beterbangan). Bayangin deh, Arab yg selama ini kita tau sebagai tanah yg gersang (padang pasir & byk gunung2 batu), kok bisa jd rimbun? Sy mungkin tdk ngerti bgmn caranya, byk ahli yg lbh tau. Tp pasti bisa kan? Asal kita mau. Nah sekarang kita yg terlahir di tanah yg ktnya kaya dg SDA, kok bukannya berkah yg dateng tp malah bencana terus sih? Salahnya dimana?

Menurut sy ini bukan cm cobaan & musibah aja. Tp Allah jg udh marah & ksh peringatan ke kita. Ibaratnya kl Orang tua melihat anaknya berbuat salah pasti di hukum spy anaknya nurut. Tp krn anaknya gak nurut, maka orang tua akan beri hukuman yg lebih berat lg. Begitu seterusnya. Mungkin Allah jg sedang memperingatkan umatnya y? Tp krn umatnya gak nurut2 jg, ya tambah berat deh hukumannya.

Jd yuk buat rekan2 mulai sekarang kita jgn cuma bisa membantu ketika banjir datang, tp udah saatnya kita mulai berusaha mencegah supaya bencana banjir jgn sp terulang lagi.

Tulisan sy ini bukan untuk memprovokasi atau memaksa, sy hy menulis sesuai dg apa yg sy rasa & pikirkan. Kl ada peduli dg tulisan sy, sy ucapkan terima kasih byk. Tp bg yg tidak berkenan sy mohon maap sebesar-besarnya. Dan untuk yg mengalami kebanjiran sy mengucapkan turut prihatin sedalam2nya, semoga diberi ketabahan dl menghadapi musibah ini)

Myra

sumber: “myra anastasia” (myra1577@yahoo.com)

Natural Disasters or Mass Murder?

Bahasanya lugas. Tapi memang itu kenyataannya kan? Membiarkan deforestasi, ilegal logging, dst. akhirnya sama dengan membiarkan bencana terjadi dan membiarkan orang lain menjadi korban.
Ayo perkuat program advokasi dan empowerment.

Natural Disasters or Mass Murder?

Andre Vltchek
Worldpress.org correspondent
January 16, 2007

http://www.worldpre ss.org/Asia/ 2637.cfm

Another day, another unnecessary loss of lives: at least 28 people were killed and 7 are still missing on the small island of Tahuna, off Indonesia’s Sulawesi, in the aftermath of ravaging Jan. 12 landslides caused
by heavy rains and flooding.

At an alarming rate, Indonesia is replacing Bangladesh and India as the mostdisaster-prone nation on earth. Whenever the word “Indonesia” appears on the list of headlines on Yahoo news, chances are that another enormous – and often unnecessary – tragedy has occurred on one of the islands of this sprawling archipelago.

Airplanes are disappearing or sliding off the runways, ferries are sinking or simply decomposing on the high seas, and trains crash or get derailed at average rate of one per week. Illegal garbage dumps bury desperate communities of scavengers under their stinking contents. Landslides are taking carton-like houses into the ravines; earthquakes and tidal waves are destroying coastal cities and villages. Forest fires from Sumatra are choking huge areas of Southeast Asia.

The scope of disasters is unprecedented, and it absurd to discount them simply as the nation’s bad luck, or to blame the wrath of the gods or nature. Corruption, incompetence and simple indifference by the ruling elites and government officials are mostly to blame. It is poverty, and a lack of public projects that kill hundreds of thousands of desperate Indonesian men, women and children.

Since the 1965 U.S.-sponsored military coup that deposed Sukarno and installed the corrupt military regime of staunch anti-communist, pro-market dictator General Suharto, Indonesia has escaped serious scrutiny by the West’s media and governments. After Suharto stepped down in 1998, the country has been hailed by said media as an emerging and increasingly tolerant democracy.

Some of these disasters are man-made; almost all of them are preventable. With closer scrutiny, it becomes obvious that people die due to almost non-existent prevention, lack of education (Indonesia spends the third least amount on education as percentage of its GDP, after Equatorial Guinea and Ecuador) and a savage pro-market economic system which allows enrichment of very few at the expense of the majority – who live on under 2 dollars a day. Ugly conclusions can be drawn, which casts an unflattering light on the way the present-day Indonesian society functions. However, continuing to avoid exposure would doubtlessly lead to further loss of many precious lives.

Indonesia is profit-driven to the extreme. It is also one of the most corrupt nations on the face of the earth, and there seems to be no immediate profit to be made from implementing preventive measures. Dams and anti-tsunami walls are considered as public works almost everywhere else. It seems that the word “public” has almost disappeared from the lexicon of those who make decisions in Indonesia. Short-term profits for a particular group of individuals are given much higher priority than long-term gains for the entire nation. The moral collapse of the nation is reflected in the scale of values – corrupt, but rich, individuals command incomparably higher respect than those who are honest but poor.

Ferries are sinking not because of high winds and waves, but due to overcrowding and poor maintenance. More precisely, they are allowed to be overcrowded and badly maintained. Everything is for sale, even the safety of thousands of passengers. Companies care only about their profits, while government inspectors are mainly interested in bribes. The recent well-publicized sinking of a ferry, Senopati Nusantara, killed more than 400 people, but it was just one of hundreds of maritime disasters that occur in Indonesia each year. While there are no exact statistics available (for predictable reasons, the Indonesian government makes sure to avoid publishing comprehensive comparative data), some maritime routes lose three or more vessels a year.

The Indonesian airline industry has one of the worst safety records in the world. Since 1997, at least 666 people have died in eight separate airplane crashes in the country. Some of the pilots are so badly trained that planes sometimes skip off the runway, or miss it altogether. Maintenance is another issue: flaps often don’t function properly; wheels cannot retract properly after take-off; and seldom-changed tires have a tendency to blow out upon
touchdown. It is a mystery as to how some airplanes – particularly old Boeing 737s flown by almost all Indonesian airlines – make it through the inspections.

After consulting with local civil aviation officials (who obviously do not want to be identified), it was ascertained that the navigation systems at several major Indonesian airports are in disastrous state – particularly those at Makassar in Sulawesi, and Medan in Sumatra.

On average, there is one deadly train accident every six days in Indonesia, many caused by the lack of gates at its approximately 8,000 crossings. By comparison, Malaysia suffered no fatal train accidents for the 13 years up to and including 2005 (the last year for which statistics are available).

Despite the fact that Indonesia has a relatively small number of cars per capita, its roads are the “most used” of any nation in the world (second only to Hong Kong, which is not a country) – 5.7 million vehicle-kilometers per year on the road network (2003, “Pocket World in Figures”-The Economist Books, 2007 Edition). Despite this epic congestion and the generally slow pace of traffic, more than 80 people die on average every day on Indonesian roads, mostly due to the terrible state of the infrastructure and poor law-enforcement, according to The Financial Times.

Earthquakes alone do not kill people. Poor construction of houses and buildings are the main culprits, together with the lack of preventive measures and education. It is a well-known fact that Indonesia is prone to natural disasters; that it is located on the Pacific Ocean’s “ring of fire” of volcanoes and earthquakes. But the poor can count on no massive public housing projects (like those in neighboring Malaysia), which could withstand earthquakes. Almost every family is on its own; members have to design and build their own dwelling. Major earthquakes kill hundreds, sometimes thousands of people, leaving hundreds of thousands homeless. At least 5,800 people died and 36,000 injured on May 27, 2006 during a 6.3-magnitute earthquake, which hit central Java near the historic city of Yogyakarta. Primitive infrastructure, inadequate medical facilities and corruption in distribution of aid are to blame for the unacceptably high number of casualties after each major tremor.

Illegal logging and deforestation are the main reasons for the landslides, which often occur after heavy rains and flooding. The individuals who are responsible for the forest fires in Sumatra and elsewhere are commonly known, but officials are reluctant to make arrests as those to blame for de-forestation are often rich and well connected in a country where even justice is for sale. There are countless solutions to this problem, including law-enforcement, inspections and providing an alternative means of livelihood to those communities that are so desperate that they are literally forced to participate in digging their own graves by destroying the environment, that in return annihilates entire communities. But almost nothing is done, as illegal logging is a huge, lucrative business that can afford to grease hundreds of willing palms.

Last month, dozens of people were killed in landslides and flush floods in northern Sumatra Island, which forced some 400,000 people to flee their homes. In June 2006, floods and landslides triggered by heavy rains killed more than 200 people in a southern Sulawesi province.

Tidal waves, known as tsunamis, killed more than 126,000 people in Aceh province in December 2004. Not only was response of the Indonesian government and military inexcusably slow and inadequate, large portions of the massive amounts of foreign aid disappeared in corruption. Instead of helping victims, many members of the Indonesian military were extorting bribes from relief agencies and destroying precious supplies or drinking water and food in cases where the bribes were not paid.

In a scandalous land-grab sponsored by the government, many victims were prevented from returning to their own land while children were forcefully separated from their parents (who lost birth certificates during the tragedy) and “adopted” by religious organizations, some falling victim to human trafficking. More than two years after this devastating tragedy, hundreds of thousands are still living in temporary housing.

Many victims of yet another tsunami, which hit the coast of southern Java on July 17, 2006, are still waiting for any substantial help. By the official count 600 people died, but the real number was almost certainly much higher. Indonesian officials received an early warning from Japan but refused to act, later claiming that there was not much they could do, as the area was not equipped with the sirens or loudspeakers.

Indonesia often suffers from some man-made disasters beyond any comprehension and comparison. A recent “mud flood” inundated entire villages right outside Surabaya. It occurred due to inadequate safety procedures by a gas exploration company (co-owned by one of the cabinet ministers). This “accident” displaced more than 10,000 people and covered over 1,000 acres of land with hot mud, destroying Surabaya’s only motorway as well as the major railway line. Garbage buried entire communities of poor scavengers at an illegal dumping site outside Bandung. There are many more cases of a similar nature, but the complete list would require too much space – probably an entire book would need to be dedicated to the subject.

The question is when will the Indonesian people say that enough is enough, and demand accountability and justice, exact statistics and concrete blueprints for solutions? In almost any other country, two recent disasters – the grizzly sinking of the Senopati Nusantara and the “disappearance” of Adam Air Boeing 737 with 102 people on board – would be more than enough to force cabinet ministers to resign. In Indonesia, these tragedies are seen (or presented) as yet another misfortune without holding anyone responsible or accountable.

The Indonesian press and mass media report each and every disaster in detail. However, they are failing to establish that what is happening there is extraordinary and intolerable; that there is probably no other major country in the world that is experiencing such unnecessary and devastating loss of human lives due to calamities that are either man-made or easily preventable. To link the enormous number of lost human lives in countless disasters with corruption and the socio-economic system is actively discouraged. For example the Jakarta Post, the leading daily newspaper in Indonesia, recently suppressed this article, refusing to publish it.

Since December 2004, Indonesia has lost around 200,000 people in various disasters, not counting car accidents and military conflicts ranging all over its archipelago. That’s more than Iraq lost in the same period of time, and more than Sri Lanka or Peru during their long civil wars. Indeed, many Indonesians are experiencing lives that are as dangerous and hazardous as those in war-torn parts of the world. However, most of them don’t realize it, as comparative statistics are not available or are suppressed.

Indonesia is poor, but it is still in the position to protect some of its most vulnerable citizens. The main problem is that there is no political will. There is plenty of concrete and bricks to build dams and walls against tsunamis, and to reinforce the hills around towns that are in danger of being buried by landslides. One just has to look around Jakarta where dozens of unnecessary new shopping malls are growing in several locations, and where kitschy palaces of corrupt officials cover acres of land.

The unwillingness to deal with the problems is rooted mostly in corruption. Local companies and officials have developed a unique ability to make profits from everything, even from disasters and the suffering of millions of fellow citizens. In simple terms, corruption is stealing from the public. But when the overall toll has to be calculated in hundreds of thousands of lost human lives, it becomes mass murder.

sumber: amelia fauzia (amelia_fauzia@yahoo.com)

Angin Goreng Sutiyoso 2
Eddi Santosa – detikcom

Den Haag – Sutiyoso tahu itu. Dulu ikan-ikan yang berenang di sana, kini warga Jakarta beserta segala isinya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Mengapa negeri bangsa taat beragama ini tiada henti dilanda bencana? Padahal mereka siang malam memanjatkan doa di masjid, gereja, vihara dan pura? Ratusan ribu haji juga tiap tahun mendoakan keselamatan dan kesejahteraan negeri. Tapi mengapa tak kunjung terkabul jua?

Jawabnya, karena doa-doa itu disabot oleh para elite bangsa. Caranya? Ya, seperti yang umum terlihat: merusak, berbuat durjana, melanggar sumpah, dusta, khianat, abai pada si miskin, kkn, dan tak lupa menindas. Sementara terhadap alam keseimbangan anugerah Tuhan diacak-acak demi fulus. Situ-situ jadi sini-sini, fulus situ mengalir ke kocek sini.

Saya ingat, dulu sebelum berangkat ke Belanda, Jakarta ramai wacana menentang pembabatan hutan bakau di Pantai Kapuk (Jakut) dan pengurukan daerah sekitarnya seluas 2.000 Ha. Ini setara 2.000 lapangan sepakbola! Tapi tabiat penguasa negeri ini mencuat: dalih dan dalil bisa disulap. Hap! Jadilah perumahan mewah. Tak peduli merusak keseimbangan lingkungan, mematikan penghidupan nelayan, dan kelak ikut andil menenggelamkan Jakarta.

Ratusan situ lainnya diuruk, dimatikan, dimampatkan. Situ-situ diplesetkan jadi sitos-sitos. Jadilah mal-mal dan jutaan kubik beton. Terbentuklah kulah-kulah ideal penampung air hujan. Dulu air yang parkir di sana, kini mobil-mobil dari yang butut sampai mewah. Dulu ikan-ikan yang berenang di sana, kini semua warga Jakarta beserta segala isinya. Tenggelam!

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Sutiyoso, para gubernur pendahulunya, para wakil rakyat dan elite bangsa alaihim, tahu persis apa yang saya ceritakan di atas itu.

Masalah banjir itu kasat mata kok. Jika Jakarta tidak hujan, tapi tenggelam, maka kemungkinan karena luapan air sungai kiriman dari hulu dan sungainya bermasalah. Tapi jika Jakarta hujan, hulu cerah, lalu Jakarta tenggelam, ya -meminjam lidah Srimulat- kapokmu kapan?

Silakan dibuat model untuk pembuktian, dengan struktur geologi, morfologi dan kemiringan yang sama dengan Bogor-Jakarta, termasuk sungai-sungainya. Satu model memiliki daerah resapan air cukup, tak banyak beton. Satunya lagi dibuat sama dengan kondisi Jakarta kini. Lalu turunkan hujan dengan kombor di hulu, lihat perilaku air dan apa yang terjadi. Turunkan lagi hujan di atas Jakarta, atau Jakarta dan kawasan hulu sekaligus. Mana yang tenggelam?

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Masihkah mau jualan angin goreng? Banjir itu siklus lima tahunan (2007, 2002, 1997, 1992…), siklus 30 tahunan (2007, 1977, 1947, 1917…), betulkah? Ataukah akibat akumulasi dari salah urus tata ruang?

Sumpah jabatan dilanggar. Keseimbangan lingkungan ditelikung. Lain di muka warga, lain pula di muka taikun (tycoon, konglomerat). Setelah bencana menerjang, mereka ramai-ramai datang mengulurkan bantuan. Tebar pesona.

Bencana dijadikan proyek politik. Padahal mereka, melalui tandatangannya, adalah biang penyebab bencana. Ngeri! Teganya lagi, ada menteri yang kurang peka penderitaan warganya, “Korban masih bisa tertawa,” kata dia. Lho? Menteri ini tidak sadar, bahwa jika rakyat yang dipimpinnya bukan rakyat Indonesia, tentu bukan lagi bisa tertawa tapi sudah revolusi. Mengamuk menumpahkan darah, menggulingkan penguasa.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Warga Jakarta sudah lelah, sakit hati, sakit badan, sia-sia mati, rugi harta benda. Bahkan periuk, pakaian dan kasur pun sudah hanyut, tinggal yang tersisa melekat di badan, gara-gara salah urus Jakarta.

Menjadi tugas dan kewajiban pemerintah DKI yang digaji warga dari pajak untuk mengurus Jakarta dengan baik, termasuk menghukum warga yang membuang sampah sembarangan. Apa kerja mereka kalau pemandangan papan larangan buang sampah di mana-mana, sementara sampah menggunung di bawahnya? Siapa yang meneken daerah resapan air menjadi kolam-kolam beton?

Warga Jakarta juga perlu berubah: saatnya kini menjadikan angin goreng para pejabat sama dengan sampah. Jangan salah pilih pemerintah, agar siklus lima tahunan tinggal sejarah. Jangan pula pilih gubernur yang tak mengerti berhitung: mau ditambah angpao dari taikun beberapa miliar, tapi rugi triliuan sampai tak terhingga akibat air bah. (es/es)

sumber: http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/13/time/151207/idnews/741653/idkanal/10, 13/02/2007 15:12 WIB Kolom

Kolom
Angin Goreng Sutiyoso
Eddi Santosa – detikcom

Den Haag – Banjir karena siklus lima tahunan? Ah, Gubernur Sutiyoso sedang jualan angin goreng. Kok warga Jakarta mau melahapnya begitu saja.

“Yang terjadi kali ini adalah banjir siklus lima tahunan,” (Sutiyoso, 4/2/2007).

Warga Jakarta, yang dirugikan harta, benda, kehidupan sosial dan psikisnya, kok diam saja? Coba periksa statistik sejarah, apa betul ada siklus lima tahunan banjir bandang menenggelamkan Jakarta? Sejak kapan?

Menyimak pernyataan Sutiyoso dan tayangan tangis-derita warga Jakarta di NOS, VRT Belgia dan CNN, saya langsung meraih pena. Warga Jakarta, bicaralah dan ambillah sikap. Pernyataan ini kata ungkapan Belanda: gebakken lucht. Secara harfiah “angin goreng” alias omong kosong, atau menurut bahasa kampungnya Sutiyoso (Semarang): nggedebus.

Mengapa Sutiyoso tidak secara ksatria mengatakan, “Maaf saudara-saudara, kami telah keliru membuat kebijakan tata kota, sehingga saudara menanggung derita dan kerugian tiada terkira?”

Jawabnya simpel saja: kalau Sutiyoso jujur seperti itu dan pasang badan memikul tanggung jawabnya, maka itu sama saja harakiri. Padahal kabar burung mengatakan bahwa dia masih berambisi jadi presiden. Bisa wassalam dia.

Tenggelamnya Jakarta itu lebih disebabkan oleh kombinasi moral hazzard, disintegritas dan inkompetensi pejabat DKI, dengan penanggungjawab akhir: gubernur, dari sejak sebelum Sutiyoso. Dan soal siklus lima tahunan itu Sutiyoso ada benarnya. Setiap ada pergantian gubernur, pelenyapan daerah hijau dan resapan air selalu terulang.

Berapa kali sudah Perda tentang Tata Ruang dilanggar, ribuan hektar daerah hijau dan resapan air dikorbankan dan disulap menjadi beton-beton “penampung air”? Jika dibandingkan dengan masterplan tata ruang warisan Belanda, yang sudah ratusan tahun berpengalaman mengatur Jakarta, berapa besar sudah yang diacak-acak?

Adalah lucu menangani kawasan ibukota yang begitu luas dan letaknya rendah dengan hanya meributkan Banjir Kanal Timur (BKT), seolah-olah ini satu-satunya jawaban mengatasi banjir. Simpul masalah utama adalah ketiadaan daerah resapan karena telah berubah jadi beton. Sehingga setiap hujan, Jakarta menjadi kolam beton terbesar di dunia, menenggelamkan semuanya.

Sekiranya daerah resapan mencukupi, air akan cepat reda, merembes ke tanah. Baru kelebihannya akan mengalir di atas permukaan tanah, mencari kanal-kanal. Kanal-kanal itu, kalau dilihat di Belanda, fungsinya sekunder, sebagai saluran akhir dari luapan curah hujan. Sudah daerah resapan air tiada, kanal-kanal di Jakarta tidak dirawat pula. Ya, banjirlah.

Sutiyoso rupanya tidak sendirian dalam jualan angin goreng. Menteri PU Djoko Kirmanto, mengutip Menristek, juga sami mawon dengan bungkus terkesan ilmiah, “…return period banjir kali ini 30 tahun,” Aduh! Sudah begitu, bulan purnama disalahkan juga. “Bulan purnama menjadi salah satu penyebab.”

Karena bangsa Indonesia adalah bangsa beragama, maka kalau bulan purnama ikut menjadi penyebab, ya ini artinya juga kesalahan Tuhan. Enak nian pejabat Indonesia tinggal menyalahkan alam dan Tuhan. Lalu apa gunanya akal dan segala sumber daya yang sudah dikaruniakan? Apa pula gunanya ilmu yang disandang? Seharusnya semua fenomena alam itu dikenali, dikendalikan dan ditundukkan, dengan perencanaan dan pembangunan yang baik.

Negeri Belanda itu letaknya rendah di muara Laut Utara dan sekitar 60% wilayahnya berada di bawah permukaan laut. “Negeri” ini bisa dihuni berkat tanggul-tanggul dan kanal-kanal. Bandara Schiphol itu berada -3m dapl. Tapi meskipun hujan badai mengamuk, air laut pasang, Schiphol tidak tenggelam.

Kecelakaan pernah sekali terjadi di 1953. Tanggul Zeeland jebol, mengakibatkan separuh wilayah Belanda tenggelam, 1.836 orang tewas, ribuan lainnya mengungsi. Sebenarnya sejak 1920 DPU-nya Belanda sudah mendeteksi ada kelemahan di tanggul itu, namun kabinet saat itu lebih memprioritaskan pembangunan tanggul Botlek, Brielse Maas (1950) dan Braakman (1952). Ini menunjukkan, tanpa kendali manusia Belanda tiada.

Lain cerita negeri orang, lain cerita kita. Ketika hari cerah, para pemimpin kita berpolah, melanglang buana bak raja diraja dari negeri dongeng. Uang dihamburkan, salah prioritas, keliru penggunaan. Siapa mengurusi kanal dan kali? Berapa kali dalam periode kali dikeruk? Siapa menjatuhkan sanksi kalau sampah dibuang sesuka hati?

Kini? Gambar-gambar televisi internasional menjadi karikatur yang menyedihkan: Jakarta seperti kampung Indian di muara Amazone. Presiden, gubernur seolah tidak becus mengurus secuil Jakarta. Dan lagi-lagi kita menengadahkan tangan menerima uluran bantuan.

Salah siapa? Masihkah menyalahkan bulan dan Tuhan ataukah ini semua akumulasi dari kebobrokan dan ketidakbecusan pejabat kita? (es/es)

sumber: http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/08/time/100301/idnews/739488/idkanal/10, 08/02/2007 10:03 WIB

BANJIR JAKARTA – Tanggungjawab Individu vs Kolektif

Salam,

Saya menonton salah satu liputan televisi (RCTI) tentang banjir Jakarta yang mulai surut kemarin. Wartawan RCTI menelusuri Kali Ciliwung, memperlihatkan rumah pinggir kali yang porak-poranda dan timbunan sampah.

Narasi dari sang wartawan kira-kira begini: “Banjir di Jakarta disebabkan oleh ulah warga sendiri, yang membangun rumah di bantaran sungai dan membuang sampah sembarangan.”

Liputan seperti ini, menurut saya, adalah liputan yang tidak memiliki perspektif dan cenderung misleading.

Liputan seperti ini memberi justifikasi keliru tentang rencana pemerintah mentransmigrasikan puluhan ribu jiwa yang mukim di pinggir Ciliwung ke luar Jawa. [Lagi-lagi, orang miskin lah yang harus dihukum menyusul banjir besar Jakarta!].

Liputan itu juga secara tak langsung menjustifikasi proyek ratusan miliar pembangunan Banjir Kanal Timur (ups… Kanal Banjir Timur) seolah-olah itu akan menjadi jawaban ampuh melawan banjir. Dan karena lama Gubernur Sutiyoso telah mengusulkan ini, namun pemerintah tak cukup biaya, para pemirsa/pembaca diajak mafhum bahwa kesalahan tidak terletak pada sang gubernur.

Banjir di Jakarta, seperti juga soal kemacetan lalu lintas dan polusi, seharusnya mengingatkan kita tentang fungsi dasar pemerintah kota. Bahwa di kota besar seperti Jakarta, tanggungjawab terutama ada di pundak pemerintah, bukan individu.

Bukan berarti setiap warga, setiap individu, bebas dari tanggungjawab. Tapi, tanggungjawab terbesar secara kolektif terletak pada gubernur. Seseorang takkan bisa mencerap problem kolektif Jakarta dengan magnitude yang sangat besar.

Sebagai dasar, untuk membangun kebijakan kolektif kita perlu memahami betapa besar penduduk Jakarta, dengan tingkat pertumbuhan tinggi. Jumlah penduduk DKI sekitar 11 juta, dan belum termasuk penduduk sekeliling: Bogor, Bekasi, dan Tangerang.

SAMPAH

Bahkan jika tidak dibuang sembarangan, jumlah sampah yang diproduksi warga Jakarta sangat besar. Makin kaya orang, makin banyak sampah yang dihasilkannya.

Jika kita asumsikan setiap orang menghasilkan 1/4 kg sampah per hari maka jumlah sampah kolektif bisa mencapai 3.000 ton per hari, dan 90.000 ton per bulan.

Tanpa ada ajakan mengurangi gaya hidup serba mewah di kalangan kaya, dan tanpa ada manajemen pengelolaan sampah yang baik, puluhan ton sampah itu tetap akan “terbuang sembarangan”.

Ajakan individual tidak membuang sampah sembarangan, seperti kita lihat sekarang ini, jelas tidak memiliki arti apa-apa. Adalah pemerintah, Pak Gubernur, yang bertanggungjawab menyelenggarakan manajemen persampahan secara baik, secara kolektif.

KANAL BANJIR

Keampuhan Kanal Banjir sebagai pengelak banjir terlalu dibesar-besarkan dan bahkan cenderung menjadi mitos. Bahkan jika warga pinggir kali digusur dan Kanal Banjir diperbesar, banjir serupa kemarin masih akan terjadi jika masalahnya tidak coba diudari secara sekasama.

Air hujan deras langsung masuk ke sungai atau dataran yang lebih rendah karena besarnya run-off akibat pembangunan fisik kota secara keseluruhan, bukan hanya bangunan orang miskin di pinggir kali.

Menjadi watak individu untuk memaksimalkan kenyamanan dan keuntungan membangun gedung/mall yang menghilangkan lahan resapan air. Hanya pemerintah yang bisa mengendalikan kecenderungan individu seperti ini ke dalam kebijakan kolektif yang benar. Lagi-lagi, pemerintah kota lah yang paling bertanggungjawab di sini.

KEMACETAN

Menjadi watak individu untuk memaksimalkan kenyamanan dengan mengendarai mobil/motor pribadi yang kini menyesaki kota. Hanya pemerintah yang bisa mengendalikan kecenderungan individu seperti ini ke dalam kebijakan kolektif transportasi umum yang nyaman dan murah.

Meski masih superfisial, pembangunan busway bisa dianggap sebagai jalan keluar. Namun, jika tarifnya dinaikkan (seperti yang saya dengar belakangan ini) dan terlalu mahal, warga akan tetap memilih mobil pribadi dan sepeda motor.

Pemerintah lah yang bertanggungjawab mengarahkan kecenderungan individu. Pemerintah bisa melakukannya melalui:

– peraturan yang konsisten dan adil
— pajak (disinsentif)
— subsidi (insentif)

Kemacetan, misalnya, bisa dikurangi dengan menerapkan pajak setinggi-tingginya kepada pemilik mobil pribadi, dan memberikan subsidi substansial pada angkutan umum massal. Jika kita masih berpikir “subsidi itu candu yang memanjakan rakyat” (seperti argumen seseorang dalam perdebatan pencabutan subsidi BBM tempo hari) maka kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah.

Walhasil, meski tiap individu tidak bisa lepas tangan, tanggungjawab terbesar terletak pada pemerintah. Kewajiban warga adalah membayar pajak, kewajiban pemerintah adalah mengelola kebijakan kolektif secara benar.

Hal itu belum menjadi renungan mendasar di kalangan pejabat kota. Maka saya sarankan setiap warga Jakarta kini mulai menyiapkan perahu karet di garasi rumah… untuk menghadapi banjir yang sama.

Farid Gaban

sumber: “Farid Gaban” (faridgaban@yahoo.com)

Kota Bebas Banjir?

Kawan-kawan yb.

Terlampir beberapa gagasan untuk mengatasi banjir sebagai sumbangan pikiran. Mungkin salah, mungkin benar. Mohon tanggapan, untuk kepentingan kita bersama mencari jalan terus menerus. Mari kita
jangan bicara banjir hanya ketika banjir berlangsung, tetapi seterusnya, sepanjang tahun.

Salam,
Marco Kusumawijaya

—————————-

Kota Bebas Banjir?

Marco Kusumawijaya
(Arsitek perkotaan, Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta (2006-2009))

Siklus Banjir

Banjir terjadi karena ada selisih positif antara jumlah air yang turun ke bumi dengan jumlah air yang diserap dan dialirkan melalui jalur-jalur yang dikhususkan baginya, pada suatu wilayah dan waktu tertentu. Selisih ini mengalir atau menggenang di tempat-tempat yang tidak dimaksudkan untuknya.

Siklus banjir tidak sama dengan siklus cuaca atau hujan. Siklus banjir adalah siklus dari selisih air tersebut di atas. Jumlah air yang menguap dari, dan turun kembali ke, bumi adalah sama setiap tahunnya hingga beberapa dasawarsa terakhir, ketika pemanasan global membuatnya cenderung terus bertambah, dan air ini jatuh ke bumi dalam rentang waktu yang cenderung makin pendek. Jumlah air ini tidak bersifat siklis. Yang bersifat siklis adalah kemampuan prasarana (buatan manusia!) mengalirkan air dan permukaan bumi menyerap air (yang tergantung kepada perilaku manusia juga).

Saluran dirancang dengan parameter beban tertentu yang diperkirakan akan mencapai maksimum dalam jangka waktu tertentu, misalnya lima atau sepuluh tahun ke depan. Beban ini akan naik karena peningkatan kegiatan dan pembangunan oleh manusia, di samping peningkatan jumlah uap air oleh pemanasan global. Siklus terbentuk karena selisih di atas menjadi positif ketika parameter itu dilampaui, dan menjadi negatif kembali ketika prasarana baru dibangun, sampai menjadi positif lagi ketika kapasitas prasarana tambahan itu terlampaui lagi. Kapasitas resapan juga bersiklus seperti di atas dikarenakan sebab yang sama.

Yang ingin ditekankan adalah bahwa yang bersifat siklus itu banjirnya, bukan cuaca atau hujannya. Yang menentukan siklus itu adalah kemampuan suatu wilayah mengalirkan dan menyerap air. Dan yang menentukan ini adalah MANUSIA, bukan alam.

Tata kota dapat mengurangi banjir sejauh ia memberi ruang untuk suatu sistem menyerap dan mengalirkan air sedemikian rupa sehingga tidak terjadi selisih positif yang liar di atas.

Berbagai sebab banjir dan genangan

Kampung Melayu banjir oleh luapan Ciliwung. Kawasan Cipinang oleh luapan sungai lain lagi. Sedang Kelapa Gading tergenang oleh air hujan yang terjebak di dalamnya, tersebab sistem saluran yang tidak sampai mengalirkan air ke tempat parkir terakhir yang mencukupi (laut atau waduk penampung). Halaman kompleks Sarinah dan Jalan Thamrin di depannya tergenang karena saluran yang rusak, tidak memadai, atau terlampaui kapasitasnya. Pada sungai yang meluap, faktor “kiriman” menonjol, sedang pada genangan kawasan yang jauh dari sungai, faktor hujan menonjol. Tetapi semuanya tidak dapat dipisahkan 100% satu dari lainnya, ada kait-mengait di antara semuanya.

Empat dimensi penanganan: hulu, hilir, menyerap dan mengalir

Beberapa prinsip di bawah ini kiranya dapat dijabarkan lebih lanjut untuk menata kota menanggulangi banjir:

1. Keseimbangan antara menyerapkan dan mengalirkan air.

Untuk mengalirkan air diperlukan sungai dan saluran membawa air ke tujuan akhir, misalnya laut atau waduk, sehingga tidak mengganggu kegiatan manusia.

Untuk menyerapkannya diperlukan ruang terbuka dengan tanah yang menyerap air. Umumnya tanah berupa campuran lempung yang menggenangkan air, dan pasir yang menyerapkan air. Meningkatkan daya serap tanah berarti meningkatkan (sifat) pasir dari tanah. Tumbuhan dapat memperlambat jatuhnya air ke tanah (berarti: menunda air mengalir di permukaan dan menyerap ke dalam tanah) dan memegang air lebih lama pada daerah di sekitar akarnya.

Umumnya sifat tanah asli Jakarta mengandung banyak lempung, sehingga memang kemampuan menyerapnya relatif rendah. Jadi meningkatkan daya serap kota Jakarta terhadap air tidak cukup hanya dengan memperluas ruang terbuka, tetapi harus dibarengi dengan mengubah tanahnya agar lebih menyerap air. Ruang terbuka yang tertutup aspal tidak berguna sebagai penyerap air. Ruang-ruang terbuka yang besar dan bersifat khalayak makin menyusut di Jakarta. Proses ini harus dihentikan. Selain itu di setiap kavling lahan masih terdapat ruang terbuka berupa halaman. Bila ini dijumlahkan, maka besar sekali. Jadi meningkatkan daya serap Jakarta dapat juga dilakukan pada halaman-halaman ini, tidak selalu harus pemerintah membebaskan lahan baru sebagai ruang terbuka. Meningkatkan daya serap tiap-tiap halaman ini punya dua keuntungan efektif. Pertama, ia merata di seluruh Jakarta. Kedua, ia membangkitkan peran serta masyarakat.

Menyerapkan air berguna memperbaiki air tanah, dan akhirnya memperbaiki struktur tanah, serta melawan intrusi air laut. Ruang terbuka hijau juga penting untuk pemurnian udara dan fungsi sosial.

Penyerapan air perlu dilakukan di hulu maupun hilir, di seluruh daerah tangkapan air. Penyerapan air membantu keberkelanjutan bila dilakukan oleh tiap kavling lahan, karena tidak memindah-mindahkan masalah (aliran air buangan) ke tempat lain, menyelesaikannya pada sumbernya, dan memotong pertumbuhan “demand” dan “beban” pada khasanah khalayak.

Ruang terbuka perlu menerapkan pengelolaan yang aktif (active management) dengan peranserta warga, sehingga tidak diserobot oleh fungsi dan kepentingan lain, dan bermanfaat dalam berbagai dimensi sehingga kedudukannya di tengah-tengah masyarakat menjadi kuat.

2. Keseimbangan antara tindakan kolektif dan tindakan individual

Tindakan individual dan kolektif pada tingkat kecil (RT, RW, komunitas) perlu ditekankan untuk membangun modal sosial yang akan menjamin keberlanjutan. Kesibukan menuntut pemerintah melakukan segalanya justru akan memperpanjang mentalitet feodal berupa ketergantungan, inertia, dan membuat biaya lingkungan makin tinggi. Misalnya, membangun saluran kolektif yang lebih besar, karena kegagalan individual untuk menyerapkan air pada lahannya masing-masing, adalah lebih mahal secara ekonomi maupun lingkungan. Inilah sebabnya pendekatan “menyerapkan air” lebih ramah lingkungan secara sosial, selain secara ekologis. Pada prinsipnya sebanyak mungkin harus dilakukan oleh individu atau kolektif yang terkecil, sebelum diputuskan untuk naik ke tingkat berikutnya. Tapi tindakan individual yang salah bisa juga memperparah keadaan. Misalnya upaya tiap rumah berlomba-lomba meninggikan rumahnya sama sekali tidak menyelesaikan masalah banjir, tapi malah memperparah. Begitu juga penggunaan AC, yang sebenarnya hanya memindahkan panas dari ruang privat dan menumpukkannya ke ruang khalayak.

3. Tindakan sekaligus pada berbagai skala: lokal, nasional, dan global.

Kita tidak dapat lagi menghabiskan waktu meragukan dan berheran-heran tentang pemanasan global. Pemanasan global adalah fakta, bukan teori. Musim kering yang panjang, musim hujan yang singkat, jumlah air yang meningkat, adalah satu dasar penting bagi Indonesia untuk terlibat aktif dalam politik lingkungan pada skala global. Juga sangat tidak produktif memperdebatkan siapa yang paling bertanggung jawab. Semua orang dan pihak bertanggung-jawab, tetapi memiliki peran yang berbeda-beda. Sebab itu ada prinsip “shared responsibility, differentiated roles.” Pemimpin tentu saja tidak dapat menggunakan ini sebagai alasan berdiam diri. Perannya adalah memimpin, berprakarsa. Keseimbangan penanganan pada hulu dan hilir perlu melibatkan berbagai daerah dan pemerintah pusat. Begitu juga penanganan sosial-ekonomi seperti pada kemiskinan, juga memerlukan tindakan pada tingkat nasional.

4. Keseimbangan antara tindakan di kawasan hulu dan hilir.
Sebagian air yang melewati Jakarta berasal dari wilayah hulu di luar batas administrasinya. Membangun kanal di Jakarta saja, tanpa mengurusi kawasan hulu di Bogor dan lain-lain, sama seperti menunggu air tanpa tahu berapa jumlahnya.

5. Keseimbangan antara eksploitasi dan investasi lingkungan.
“Susainable city is a possible dream,” kata Prof. John Friedman di World Urban Forum, tanggal 19 Juni 2006. Lanjutnya, “It means a city embedded in its region.” Maksud nya kota-kota harus bertanggung jawab untuk memelihara lingkungan sekitarnya, dengan melakukan re-investasi sehingga kota dan lingkungannya tersebut merupakan suatu kesatuan aset yang berkelanjutan. Kenyataannya, melalui konsep ecological footprint, kita kini dapat melihat jelas bahwa setiap kota sebenarnya “membebani” wilayah yang lebih luas daripada tapak fisiknya sendiri. Hal yang sama mungkin terjadi pada setiap kavling di dalam kota Jakarta. Pembangunan berlebihan pada tiap-tiap kavling sebenarnya bukan saja membebani diri sendiri tetapi juga membebani lingkungannya. Ini berarti bukan Jakarta harus berhenti membangun, tetapi kompensasi dari setiap pembangunan per kavling harus dihitung lebih cermat sehingga seluruh beban lingkungan tambahan yang ditimbulkannya dapat sungguh terbayar. Akibat terburuk dari kebijakan ini mungkin adalah sebagian investasi akan lari ke kota lain. Hal ini malah baik!

6. Keseimbangan antara solusi teknis dan solusi sosial-politik, budaya dan ekonomi.

Tanah, air, ruang dan lingkungan adalah barang sosial. Sebab itu semua tindakan padanya pasti memiliki dimensi-dimensi sosial. Soal ini hendaknya menyangkut bukan hanya substansi kebijakan, tetapi juga proses penyusunan kebijakan. Pasca-Suharto sudah seharusnya kita menjadi “beradab”, menganggap rakyat sebagai pemilik negeri ini. Mereka berhak tahu secara transparan tentang segala hal dan serta dalam membuat keputusan. Sekarang kita mulai mendengar pemerintah nyeletuk dengan gagasan-gagasan fragmentarik seperti membangun 200 situ, di samping beberapa rencana lainnya. Masyarakat berhak tahu lebih spesifik: Mengapa 200? Seberapa jauh mereka dapat mengurangi banjir, bagaimana cara kerjanya? Kita tidak bisa menilai 200 situ itu cukup atau efektif kalau tidak dikaitkan dengan keseluruhan rencana, dengan parameter yang jelas, dan dimensi-dimensi yang terukur. Masyarakat juga perlu diberitahu peta semua faktor penyebab banjir dan, lebih penting lagi, besarnya kontribusi dari masing-masing faktor tersebut. Mereka berhak akan strategi jitu dengan pilihan-pilihan dan konsekuensi-konsekuensi yang jelas.

sumber: Marco Kusumawijaya (marcokw@centrin.net.id)

Banjir Batavia, Banjir Kanal dan Van Breen,,,

Banjir ternyata masalah yang tak pernah selesai sejak jaman Belanda…. Well, we never learn at all…. tanya kenapa???

salam,
~Vie

Kompas; 5 Pebruari 2007, halaman 12

Banjir Batavia, Banjir Kanal dan Van Breen,,,

Banjir datang lagi! Jakarta bagaikan pulau yang terkurung air. Ketika banjir datang, seperti biasa para pejabat sibuk mencari alasan dari mulai belum selesainya banjir kanal timur, curah hujan yang tinggi, pembangunan villa di Puncak yang tidak terkontrol sampai kebiasaan masyarakat yang buruk. Sementara masyarakat sibuk menyalahkan pembangunan perumahan baru yang tidak terkontrol, seolah bagaikan lingkaran yang tidak ada ujungnya.

Hal ini tidak jauh berbeda dengan keadaan Batavia (baca Jakarta) 89 tahun yang lalu. Pada waktu banjir tanggal 19 Pebruari 1918, kala itu hampir seluruh Jakarta kebanjiran. Diantaranya Straat Belandongan, Kali Besar Oost, Pinangsia, Prinsenlaan, Tanah Tinggi, Pejambon, Grogol, Kebon Jeruk, Kampung Tambora, Suteng, kampung Klenteng Kapuran, kampung Tangki, Petaksinkian, Mol belakang penjara Glodok sampai terus ke kampung Pinangsia, air rata-rata setinggi dada. Selain itu juga Kampung Jacatra atau Kampung Pecah Kulit disamping kali Gunung Sari, Angke, Pekojan dan lain-lain. Jakarta bagaikan lautan air. Selain itu di Jakarta pada waktu juga sedang dilanda wabah kholera, setiap hari ada sekitar 6 – 8 orang masuk rumah sakit.

Melihat kondisi seperti itu gemeenteraad Batavia (baca DPRD) langsung mengadakan sidang paripurna pada tanggal 19 Pebruari 1918, jam 19.15. Dalam rapat tersebut hadir walikota Bischop dan 14 anggota DPRD. Selain itu hadir pula Herman Van Breen, ahli tata air Jakarta. Dalam rapat tersebut anggota Schotman mencecar beberapa pertanyaan kepada walikota apakah sudah disalurkan bahan makanan dan obat-obatan di tempat pengungsian yang terletak di Pasar Baru, gereja Katedral dan sebelah barat Molenvliet. Selain itu dalam kesempatan tersebut Van Breen juga ditanyakan apakah jika banjir kanal sudah selesai dapat mengatasi banjir? Breen mengatakan tidak menjamin bahwa ketika banjir kanal selesai Jakarta akan terbebas dari banjir, dan ternyata itu benar karena pada tahun-tahun berikutnya Jakarta masih kebanjiran. Karena sebenarnya banjir kanal dan keberadaan pintu air Manggarai hanya merupakan pengalihan wilayah banjir. Banjir yang tadinya biasa melanda daerah Weltevreden dan Menteng beralih ke daerah Manggarai dan daerah Jatinegara. Karena memang proyek banjir kanal dan pintu air Manggarai yang sudah terletak di luar kota, diprioritaskan untuk menanggulangi banjir wilayah Jakarta yang luasnya hanya 162 km2.

Jika hal ini dikaitkan dengan kondisi sekarang, maka yang dikatakan oleh Van Breen sama dengan yang dikatakan oleh para pejabat yang ada sekarang. Pembangunan banjir kanal timur yang sudah diwacanakan sejak tahun 1970-an dan baru selesai sekitar tahun 2008 artinya hampir 40 tahun baru dapat direalisasikan, juga tidak menjamin Jakarta bebas banjir. Karena wacana Banjir kanal timur pada waktu itu, kondisi Jakarta sudah banyak perubahan. Terutama dalam penggunaan tata guna lahan, sekarang Jakarta sudah dikepung oleh kota-kota penyangga di sekitarnya, tentu hal ini telah menutup wilayah kedap air dan akhirnya ketika hujan turun maka air akan langsung menjadi aliran sungai dan tidak meresap kedalam tanah. Sehingga wilayah banjir sudah semakin luas dan semakin ke selatan, di luar Bekasi dan Tangerang. Dalam banjir 2 Pebruari 2006, wilayah paling banyak dilanda banjir adalah wilayah Jakarta Selatan yang meliputi 9 wilayah, Jakarta Timur 8 wilayah, Jakarta barat 7 wilayah,

Jakarta Utara 6 wilayah dan jakarta Pusat 3 wilayah, selain itu juga wilayah Bekasi dan Tangerang (Kompas, 3 Pebruari 2007). Di lihat dari itu banjir kanal yang dibangun oleh Van Breen memang berhasil melindungi wilayah Jakarta Pusat. Dalam “Masterplan Jakarta 1965 – 1985” itupun orientasinya sebagian besar masih untuk melindungi daerah Jakarta Pusat. Sedangkan banjir kanal timur sebagian besar untuk melindungi wilayah bagian timur. Banjir kanal timur hanya mampu menanggulangi banjir untuk sementara waktu saja, jika tidak diikuti penataan air dengan cakupan lebih luas. Untuk itu sudah waktunya dipikirkan untuk membangun kanal atau waduk penampungan yang berada di luar di wilayah Jakarta atau selatan Jakarta. Hal ini berguna untuk mengendalikan air yang masuk Jakarta diwaktu musim hujan maupun musim kemarau. Sudah tidak waktunya lagi jika hanya menyalahkan pembangunan villa di Puncak, karena terbukti bahwa pada waktu banjir tanggal 2 Pebruari 2007, pintu air di Katulampa masih dalam kondisi normal, itu artinya penyebabnya adalah daerah di bawah kawasan Puncak.

Banjir memang sudah terjadi dan rupanya itu sudah menjadi langganan bagi penduduk Jakarta yang katanya dulu disebut Queen from the east. Masyarakat seolah tidak berdaya menghadapi banjir. Pemerintah seolah-olah juga begitu, air surut dan penduduk kembali ke rumah masing-masing maka bahaya air juga sudah dilupakan sampai musim banjir tahun berikutnya. Untuk itu apa yang mesti dilakukan sebagai masyarakat di tengah-tengah suasana banjir, maka masyarakat harus menyiapkan dirinya sendiri menghadapi banjir. Seperti yang dilakukan oleh penduduk di daerah Bukit Duri ketika banjir datang. “Bantuan Tak datang, Warga bentuk satgas” (Kompas, 3 Pebruari 2008) dalam kondisi seperti ini diperlukan sikap kedermawanan dari masyarakat lainnya. Sudah waktu social capital yang ada di masyarakat dipupuk terus untuk membantu masyarakat lain. Ada beberapa yang dapat diberdayakan untuk membantu warga masyarakat dari mulai lembaga swadaya masyarakat, pribadi-pribadi dan juga partai politik.

Partai Politik sudah waktunya memberi pembelajaran kepada masyarakat untuk segera bergerak memberi bantuan kepada masyarakat. Partai politik jangan hanya sibuk diwaktu setahun sebelum dan sesudah pemilu. Sekarang inilah dibuktikan peranan partai ketika jauh dari waktu pelaksanaan pemilu.

Kalau penduduk Jakarta pada waktu banjir tahun 1918 saja sibuk dengan memberikan bantuannya berupa bahan makanan, obat-obatan dan tempat pengungsian, dan juga mendirikan Smerofonds sebuah yayasan yang bergerak untuk membantu masyarakat yang terkena banjir dibentuk tahun 1916 diketuai oleh De Nijs Bik. Maka sikap filantrophi harus ditumbuhkembangkan oleh segenap masyarakat.

Karena tanpa penanganan tata air di Jakarta yang lebih baik, maka banjir Jakarta hanya akan menjadi bahan tertawaan untuk menyindir diri sendiri yang tidak mampu berbuat banyak dalam menghadapi fenomena alam, seperti yang dilakukan oleh Benyamin S dengan lagunya “Kebanjiran”.

Restu Gunawan
Mahasiswa S3 Jurusan Sejarah UI dan Pegawai Dep Budpar

sumber: virgina veryastuti (virghien@yahoo.com)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.