Menguangkan Sungai-sungai Jakarta
Oleh: agustianwar – 15 Sep 2006, 02:22 pm

BANJIR kok jadi tradisi?

Itu sindiran cerdas sebuah iklan rokok yang populer sekarang ini. Jelas iklan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan kenikmatan menghisap rokok cengkeh a la mild. Yang pasti, rokok yang bermerek ini sudah sangat yakin dengan produknya, sehingga tidak lagi sibuk mengiklankan diri dengan hal-hal yang terkait dengan rokok, tetapi lebih pada persoalan sosial yang sedang berkembang. Pendeknya, sebuah iklan cerdas.

Alhamdulillah banjir rutin ala Jakarta, walaupun tetap terjadi, sekarang tidak terlihat mencolok. Padahal, hujan merata sepanjang hari. Tentu saja masih ada daerah-daerah rendah yang terkena banjir, misalnya di Jakarta Timur, tetapi secara keseluruhan terlihat kemajuan yang cukup hebat dibandingkan dengan musim-musim penghujan tahun-tahun sebelumnya. Dalam tahun-tahun kepemimpinan Megawati, banjir a la Jakarta bahkan selalu dibarengi oleh datangnya wabah, apakah diare atau demam berdarah.

Harap dimaklumi, banjir di Jakarta biasanya menjadi beban rutin warga, khususnya bagi yang tinggal di bantaran kali atau daerah-daerah aliran sungai (DAS) yang rendah dan rawan genangan lainnya. Setiap musih hujan datang, warga yang entah mengapa tidak pernah kapok menghadapi banjir rutin itu, telah sejak lama siap mental untuk menghadapi naiknya air. Sudah pasti banyak dari mereka yang sudah biasa dengan pengalaman tinggal di tenda-tenda posko banjir.

Jangan kaget bahwa gara-gara banjir itu juga salah satu sebab popularitas PKS menjadi terdongkrak. Sebabnya, karena kader-kader PKS yang tanpa pamrih dan tidak kenal letih itu turun tangan tanpa banyak tanya membantu warga yang kerepotan dan mengungsi karena banjir. Kader-kader itu banyak yang langsung ikut memikul barang-barang warga, sedang yang lain membuka posko kesehatan. Semua dilakukan dengan spontan tanpa membawa-bawa slogan. Dalam Pemilu Legislatif 2004 lalu, PKS menang telak di DKI, karena warga lebih butuh bukti daripada janji.

Tetapi, tradisi banjir tidak mudah untuk dihilangkan. Menurut Direktur Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum, Jakarta bahkan tidak akan mungkin bebas dari banjir. Tentu saja, walaupun benar, itu sebuah pernyataan yang pesimis. Faktanya, di dunia ini banyak perkotaan yang berada pada posisi topografis yang rendah, namun tidak harus dilangganani oleh banjir. Belanda, yang menjajah negeri ini tiga ratus lima puluh tahun dan memeras segala kekayaan bangsa kita, dibangun di balik tanggul di bawah permukaan laut. Sejumlah kota di Eropa justru berada di atas air. Setiap permasalahan ada penyelesaiannya, yang penting ada tekad untuk itu.

Lantas apa yang dapat dilakukan untuk Jakarta? Rencana Induk (master plan) penanggulangan bencana banjir telah dibuat sejak lama. Sebelum sempat diimplementasikan dengan optimal, rencana yang lama (1973) bahkan sudah jauh dari relevan karena perkembangan kota dan pemukiman yang pesat. Rencana induk yang diacukan sekarang disusun untuk jangka waktu sampai 2025, dengan program mencakup pembuatan sudetan Ciliwung-Cisadane dan waduk di Ciawi dan Genteng. Menurut saya, kelemahan fundamental dari rencana itu, yang statusnya dilaporkan masih pada tahap studi kelayakan, adalah masalah komitmen, yakni ketidaksungguhan dalam pelaksanaanya. Karena seribu satu sebab, langkah-langkah yang ditempuh belum optimal, dan alasan yang paling biasa akan sangat terkait dengan anggaran. Apakah ini perlu direfrasa: barangkali karena korupsi terlalu tinggi, sehingga kita selalu saja tersangkut alasan tidak ada anggaran.

Saya memang bukan pakar di bidang pengairan atau tata kota. Akan tetapi, perlu dipikirkan bagaimana caranya mendayagunakan sungai-sungai yang langganan meluap itu agar berganti menjadi sebuah sumber penghasilan. Sungai-sungai utama di Jakarta, yang selusinan jumlahnya, cukup panjang dan meliuk-liuk, menerobos berbagai bagian kota. Namun selama ini, sungai-sungai itu tidak mempunyai nilai ekonomis. Kalau pun ada yang mengambil manfaat dari badan-badan sungai cuma pengelola rakit penyeberangan pada bagian-bagian sungai tertentu yang jauh atau tidak memiliki jembatan penyeberangan. Selebihnya, sungai-sungai di Jakarta beserta wilayah Bogor-Tangerang-Bekasi lainnya, dengan jumlah 21 sungai, adalah sumber luapan air, tempat pembuangan limbah dan penumpukan sampah, tempat bersarangnya berbagai penyakit, yang keseluruhannya menonjolkan kekumuhan yang merusak keindahan kota dan kesehatan masyarakat.

Alih-alih memberikan kontribusi komersil, sungai-sungai di Jakarta justru menjadi langganan beban ekonomi, karena setiap tahun karena ekses banjir, perlu pengeluaran yang tidak kecil untuk penanggulangan banjir, baik yang terkait dengan keberadaan sungai itu sendiri dan, tentu saja, penanganan korban banjir. Setiap kali banjir, dana perlu dikeluarkan untuk meringankan warga yang terkena musibah, mulai dari bantuan pangan, pembuatan posko darurat, pengadaan tenda terpal, suplai obat-obatan, selimut dan seterusnya. Tidak terlampau wah memang sedotan keuangannya untuk skala nasional, tetapi ia tetap sangat membebani karena menjadi rutin. Mereka tidak dapat diuangkan, namun selalu menelan uang.

Realitasnya, sungai-sungai itu lebih menjadi beban tanggung jawab air yang tidak menarik, bahkan mungkin tidak banyak terkait dengan satuan proyek yang ‘basah’. Sekali waktu di zaman Orde Baru, Pemda DKI bahkan pernah membangun papan reklame besar di kawasan Setia Budi agar pemandangan sungai yang kumuh bermotifkan gubuk-gubuk rakyat yang berantakan tidak perlu terlihat dari sedan-sedan mewah yang melintas. Bayangkan kalau itu diterapkan di sepanjang jalan tol menuju bandara Sukarno-Hatta, akan berapa besar nilai proyeknya?

Jadi, kalau kita ingin menangkal banjir Jakarta, maka pendekatan yang diambil tidak boleh bersifat peacemeal, yang serba tanggung. Rencana induk penanggulangan itu baru memberi energi penggerak yang berkelanjutan apabila dilakukan dengan menggali potensi ekonomisnya, sehingga akan mengundang partisipasi aspiran bisnis masyarakat dari berbagai tingkatan. Pendekatan yang dipakai harus seperti pedagang: apa pun barang itu, pasti dapat dijual. Mereka harus diuangkan. Soalnya, apa pun yang mempunyai nilai uang pasti akan dikerubuti dan dipertahankan. Kalau sungai-sungai itu kita beri gula, maka semut-semut pasti akan datang.

Inilah yang mesti menjadi strategi Pemerintah: bagaimana menggulai sungai-sungai itu. Selama sungai-sungai kita itu tidak dilirik oleh siapa pun, karena memang miskin daya tarik, maka selamanya mereka akan menjadi beban anggaran rutin. Perlu dilakukan kajian intensif potensi ekonomis apa yang dapat ditonjolkan dari keberadaannya. Salah satu yang perlu diperhitungkan tentu saja potensinya untuk menjadi jalur transportasi alternatif.

Namun, pertama sekali, tetapkan dulu komitmennya, political will untuk mengatasi permasalahan. Lalu, ikutilah dengan tindakan-tindakan. Apakah nanti sungai-sungai itu perlu dikeruk dan diperdalam, perlu diperlebar dan dibangun jembatan, perlu ini dan itu, pokoknya dilakukan saja. Orang-orang pesimis, apalagi di kalangan pejabat pemerintah, yang kerjanya hanya mengeluh yang ini tidak bisa, yang itu susah, tinggalkan saja atau diganti. Sebab, niat baik selalu membutuhkan lingkungan yang optimis, yang sadar akan adanya masalah tetapi berkomitmen menyelesaikannya. Sangat mungkin bahwa program ini akan menyedot anggaran yang besar, tetapi tetap lebih baik once for all membayar mahal satu kali dan kemudian mendapat untung terus-menerus. Daripada membayar sedikit lebih murah, dan setiap waktu membayar dan ditagih lagi.

Saya membayangkan Jakarta yang tidak lagi kebanjiran saban tahun, yang sungai-sungainya bersih menyenangkan, yang di atasnya berlalu lalang perahu motor alat transportasi umum, yang keindahannya dapat dijual kepada turis sebagai paket wisata air, yang di bantarannya berjejer kafe-kafe tempat bersantai dan bercengkerama, yang dari keberadaannya banyak rakyat mendapatkan penghasilan. Sebab, sepanjang sejarah peradaban manusia, sungai-sungai biasanya merupakan sumber yang membawa gairah, yang memberi kehidupan.

Jakarta, Februari 2006

Sumber: http://www.penulislepas.com/v2/?p=76