** GUBERNUR SUTIYOSO IMBAU WARGA MENGUNGSI
** TOPIK TINJAUAN PERS: BANJIR DI JAKARTA
** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: 75% JAKARTA DILANDA BANJIR
** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: ALIH FUNGSI LAHAN PENYEBAB BANJIR DI JAKARTA

* GUBERNUR SUTIYOSO IMBAU WARGA MENGUNGSI

Pemerintah Jakarta mengimbau warga untuk mengungsi dari rumah-rumah mereka yang kebanjiran. Gubernur Sutiyoso memperingatkan bahayanya untuk tetap bertahan di rumah dan sangatlah tidak mungkin memberikan bantuan dari rumah ke rumah. Sekitar 350 ribu warga mengungsi dan sedikitnya 29 orang tewas. Banjir melanda sekitar 70 persen wilayah kota Jakarta. Evakuasi penduduk masih berlangsung. Banyak di antara mereka yang menunggu di atap rumah. Listrik mati di sebagian besar wilayah dan terjadi kekurangan air bersih.

* BANJIR DI JAKARTA

Berita banjir di Jakarta juga memenuhi koran-koran Belanda tiga hari terakhir ini. Dengan judul ‘Kota berpenduduk jutaan terendam air’, Harian Algemeen Dagblad memasang foto seorang bayi berusia dua pekan yang sedang diamankan di atas ban mobil yang berfungsi sebagai pelampung. Kehidupan di Jakarta benar-benar lumpuh akibat hujan lebat. Sedikitnya 20 orang meninggal dunia dan ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal. Sebagian besar listrik di kota itu mati, dan jaringan telepon rusak.

Sementara itu surat kabar de Telegraaf, juga memasang foto-foto yang tak kalah mencekamnnya. Puluhan warga dengan mengusung harta milik mereka, berjalan di air setinggi dada orang dewasa. ‘Bencana besar menunggu Jakarta’. demikian judul de Telegraaf. Akibat banjir ini, terjadi kekurangan makanan di berbagai tempat. Harga bahan pangan melambung. Bangkit kekhawatiran terjadinya epidemi penyakit seperti demam berdarah. Banjir tidak hanya melanda kampung-kampung saja tapi juga pusat keuangan, bahkan air juga telah mulai memasuki hotel-hotel mewah.

Mencari penyebab banjir ini, harian Algemeen Dagblad berpendapat penyebabnya adalah pembangunan berlebihan yang menyebabkan ibukota ambles.Ditambah lagi pembangunan vila-vila di bukit sekitar Bogor menyebabkan air hujan dengan cepat mengalir ke Jakarta. Namun ini baru sebagian penyebab saja. Yang juga tak kalah seriusnya adalah pertumbuhan kota yang tak terkendali. Pada tahun 1985, sekitar 10% tanah di Jakarta dibangun, dan 20 tahun kemudian pada 2002, pembangunan sudah mencapai 70%. Demikian Algemeen Dagblad.

Harian de Volkskrant menulis musibah ini disebabkan oleh kegagalan pemda Jakarta merancang ibukota. Di daerah-daerah penyerap air yang sudah langka, terus dibangun perkantoran dan pusat-pusat pertokoan mewah. Sedangkan langkah-langkah penyeimbang seperti rencana pembangunan saluran air yang sudah puluhan tahun direncankan, tidak dijalankan. Sementara ini, air sudah surut. Tetapi Badan Meteorologi dan Geofisika memperingatkan hujan deras masih akan turun dalam beberapa hari mendatang dan resiko banjir masih besar.

Demikian de Volkskrant, dan sekian tinjauan pers kali ini.

* 75% JAKARTA DILANDA BANJIR

75% Jakarta dilanda banjir. Di kawasan Kampung Melayu, ketinggian air mencapai tujuh meter. Sedikitnya 20 dilaporkan tewas. 150 ribu orang terpaksa mengungsi. Banyak satuan sambungan telpon yang terputus. Sekitar 2061 gardu listrik tergenang air, mengakibatkan pemadaman listrik. Jakarta juga kekurangan air bersih. Ini disebabkan instalasi pengolahan air sekitar Jakarta tidak bisa berfungsi karena terendam. Ikuti laporan Argopandoyo, wartawan stasiun mitra Radio Pelita Kasih di Jakarta.

Argopandoyo: “Tadi siang kita mendapat data bahwa air di pintu air Manggarai, itu pintu air yang mengalirkan arus air di Jakarta juga, itu sekarang sudah mencapai ketinggian 100 sentimeter, yang normalnya 80 sentimeter. Ini berarti lebih membaik dibanding semalam yang sudah mencapai 120 sentimeter.”

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: “Air sudah mulai surut?”

Argopandoyo: “Kecenderungan air surut, namun kemungkinan penambahan debit airpun masih ada, karena kita masih memantau. Soalnya memang kecenderungan dibuka lagi pintu, itu pun masih ada juga. Malah diperkirakan sampai satu pekan ke depan pun, Jakarta masih terendam air. Namun itu diperhitungkan juga dengan surut-surutnya air juga.”

RNW: “Lalu bagaimana dengan operasi bantuan? Apakah berjalan lancar atau masih mengalami kesulitan?”

Argopandoyo: “Operasi bantuan justru banyak sekali yang kurang terdistribusikan, karena memang kebanyakan sukarelawan ataupun aparat-aparat terkait yang dikerahkan oleh TNI dan Polri tampaknya kurang bisa mencover dalam pengertian kuantitas, bukan kualitas. Namun banyak juga LSM-LSM, partai-partai politik sudah dari sejak kemarin berlomba-lomba untuk membantu banyak korban yang terpaksa harus hidup di pengungsian.”

RNW: “Orang yang harus mengungsi itu, mereka ditampung di mana?”

Argopandoyo: “Banyak sekali titik-titik posko penampungan pengungsi itu. Salah satunya di pelataran parkir RPK pun, juga ada. Didata sudah sekitar 600 jiwa, 500 sampai 600 jiwa. Namun dari beberapa titik itu juga, kita juga ketahui ada titik-titik di Kampung Melayu di Sekolah Dasar Santa Maria, itu di Jl. Otista untuk pengungsi dari Kampung Melayu. Kemudian di SD Islam Al-Abrar di Bendungan Hilir.”

Lalu bagaimana dengan penduduk. Apakah mereka rela mengungsi, atau ada juga yang menolak meninggalkan rumahnya? Bagaimana dengan ramalan cuacanya untuk hari-hari mendatang? Kemudian, apa yang bisa dilakukan untuk mencegah terulangnya banjir seperti tahun ini? Dengarkan wawancara selengkapnya dengan Argopandoyo di situs web kami:
http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/jakarta_tergenang_air_070205

* ALIH FUNGSI LAHAN PENYEBAB BANJIR DI JAKARTA

Banjir di Jakarta merupakan bukti hilangnya keseimbangan ekologi di Jakarta karena terjadi alih fungsi lahan. Akibatnya, kawasan-kawasan konservasi air yang seharusnya mampu melindungi Jakarta dari bahaya banjir tidak ditemukan lagi. Rencana Induk Pembuangan Air 1973 yang merupakan warisan warga Belanda sampai saat baru setengahnya saja terlaksana. Upaya menjalankan rencana tersebut yaitu pembangunan banjir kanal timur, disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini. Ikuti wawancara Radio Nederland Wereldomroep dengan Selamet Daroyni, direktur eksekutif Walhi Jakarta.

Yang harus menjadi catatan penting adalah apakah juga melakukan pembaruan terkait antara kondisi infrastruktur dan kondisi kota Jakarta saat ini. Karena master plan membangun banjir kanal timur dan barat itu digagas tahun 70 an dan saat itu sudah ada kajian ekonomi, sosial, lingkungan hidup serta teknik. Jangan sampai kajian itu tetap dipergunakan menjadi dasar saat ini, berencana membuat banjir kanal timur. Saat itu memang sudah ideal ketika kawasan tangkapan air, resapan air dan sistem drainase yang ada di Jakarta itu masih cukup baik.

Sekarang ini kondisinya justru memburuk. Sudah terjadi alih fungsi yang signifikan. Sehingga ruang terbuka hijau itu hanya menyisakan seperti disaksikan Walhi menjadi enam persen Kemudian hilangnya kawasan parkir air berupa rawa-rawa yang ada di utara itu yang juga sangat signifikan karena adanya pembangunan lingkungan pemukiman mewah. Ketika banjir kanal tersebut dibangun dengan kondisi yang sudah memprihatinkan itu tidak mampu mengurangi banjir.

Ikuti wawancara selanjutnya di situs web kami: http://www.ranesi.nl

sumber:
Date: Mon, 5 Feb 2007 15:00:01 +0000
From: Radio Nederland Berita list manager
Subject: Warta Berita – Radio Nederland, 05 Februari 2007