** BELANDA SIAPKAN SATU JUTA EURO
** BANTUAN INTERNASIONAL UNTUK JAKARTA
** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: POMPA RAKSASA BELANDA DAPAT SURUTKAN BANJIR JAKARTA
** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: TANAH TURUN DAN BANJIR DI JAKARTA

* BELANDA SIAPKAN SATU JUTA EURO

Belanda menyiapkan 1 Juta Euro sebagai dana bantuan bencana banjir Jakarta. Uang itu separuhnya disalurkan lewat palang merah Belanda untuk dibelikan perahu karet, makanan, air bersih, obat-obatan dan pakaian serta alas tidur. Separuhnya lagi disalurkan lewat Organisasi Internasional untuk Migrasi IOM. Organisasi ini secara cepat akan menggunakan uang tersebut untuk pengadaan perahu-perahu karet supaya bisa dipakai dalam tahap darurat.

* BANTUAN INTERNASIONAL UNTUK JAKARTA

Australia dan Amerika Serikat menawarkan bantuan kepada para korban banjir di Jakarta. Dua negeri ini akan menyumbangkan dana sekitar seratusribu dolar kepada Palang Merah Indonesia. Dana ini antara lain ditujukan untuk pangan darurat, selimut dan alat memasak. Juga Belanda menyatakan bersedia membantu Jakarta, baik dalam bentuk dana maupun material. Sekitar tiga perempat wilayah Jakarta tergenang air, akibat hujan deras. Sekitar 350 ribu orang kehilangan rumah. Sejauh ini dilaporkan 29 korban jiwa. Juga untuk Rabu besok diramalkan hujan akan turun.

* PENYAKIT AKIBAT BANJIR JAKARTA

Pemerintah Indonesia memperingatkan akan kemungkinan terjadinya penyakit akibat banjir di Jakarta dan sekitarnya. Korban dikhawatirkan terjangkit penyakit seperti kolera atau tifus. Penyakit itu ditularkan melalui air kotor. Juga dicemaskan warga bisa terjangkit penyakit leptospirosis, yang gejala-gejalanya demam. Penyakit ini ditularkan melalui urin tikus. Penduduk Jakarta dianjurkan memakai sepatu karet dan sarung tangan apabila membersihkan rumah mereka.

* POMPA RAKSASA BELANDA DAPAT SURUTKAN BANJIR JAKARTA

Banjir yang tak kunjung surut di Jakarta, menimbulkan simpati di seluruh dunia termasuk di Belanda. Ada usulan agar Indonesia menggunakan pompa khusus yang dimiliki Belanda untuk mengeringkan Jakarta. Pompa-pompa raksaksa itu pernah pula berjasa menyurutkan air ketika banjir melanda New Orleans, Amerika saat wilayah itu dilanda angin badai Katrina. Berikut penjelasan Daniel Pangruruk, penasihat penanggulangan air di Rijkswaterstaat atau Kementerian Perhubungan dan Urusan Air Belanda kepada Radio Nederland Wereldomroep:

Menurut pengalaman waktu itu berhasil dengan pengalaman waktu itu kirim pompa ke Amerika di New Orleans. Dan waktu itu berhasil membantu Amerika karena waktu itu Amerika minta tolong dan itu saya kira gratis itu hari. Amerika tidak usah bayar. Pompa dikirim ke sana tiga dan dalam satu minggu itu air bisa tertolong. Jadi cara yang sama juga ingin diterapkan di Indonesia karena itu pintu air dibuka harus diberikan dengan pompa dan disalurkan ke laut teatpi pompa dari sini. Tetapi saya dengar dari teman masih ada. karena pompa itu hari di kasih Amerika.

Dengarkan wawancara lengkap dengan Daniel Pangruruk di situs web kami: http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/pompa_raksasa_belanda070206

* TANAH TURUN DAN BANJIR DI JAKARTA

Hujan di Jakarta tidak juga berhenti dan masalah yang dihadapi ibukota berpenduduk jutaan orang ini makin besar saja. Jumlah korban jiwa di ibukota Indonesia sementara ini terus meningkat sampai sekuranganya 36 orang, dan jelas setiap rintik hujan terus memperbesar bencana. Akibatnya lebih parah katimbang tahun 2002, ketika kota ini juga dilanda air bah akibat hujan deras. Jaringan kanal baru – di Jakarta Timur – konon bisa menyelesaikan masalah di masa depan. Yang juga bisa membantu ialah mengurangi sampah yang dibuang ke sungai-sungai di sekitar Jakarta. Ikuti laporan redaktur itnernasional Wendy Braanker.

Insinyur air Aart van Es dari biro DHV yang tinggal di Jakarta berpendapat keadaan saat ini sangat mengkhawatirkan. Setiap upaya yang sekarang dilakukan rasanya tidak membawa hasil. Tigaperempat wilayah Jakarta tergenang air dan hujan tidak juga berhenti. Banyak yang harus dilakukan untuk melindungi kota Jakarta dari bencana seperti itu di masa mendatang. Kanal baru untuk menyalurkan air tampaknya akan sangat membantu. Namun menurut Aart van Es, perundingan mengenai itu berjalan tersendat-sendat. Pada 2002 dilansir rencana untuk membangun kanal penyaluran air di Jakarta Timur. Rencana itu berdasarkan rencana lama seorang insinyur Belanda dari masa kolonial. Namun masalahnya proses pengambilan keputusan berlangsung pelahan, walaupun kayaknya semua orang menyadari aliran baru harus dibangun.

Aart van Es: “Saya kira semua orang –paling tidak pemerintah propinsi– sudah sadar langkah teknis apa yang harus dilakukan. Tapi untuk itu diperlukan kerjasama pelbagai instansi pemerintah dari pelbagai tingkatan. Dan itu lebih sulit karena sekarang berlangsung desentralisasi. Akibatnya muncul pelbagai jenis tanggung jawab, di tingkat nasional, di tingkat perkotaan dan di tingkat lokal. Dan tidak mudah untuk mendorong semua pihak berpendapat sama.”

Kota Jakarta tumbuh begitu cepat sehingga jaringan air yang ada tidak bisa mengalirkan air dalam jumlah yang luar biasa. Di samping jumlah air yang begitu besar, air juga mengalir dari penggunungan menuju ke hilir melalui sungai-sungai. Akibatnya di pelbagai bagian Jakarta ketinggian air sampai mencapai empat meter. Menurut insinyur Ramon Hanssen dari Universitas Teknik Delft, dataran di pelbagai bagian Jakarta sudah begitu turun tahun-tahun belakangan dan itu makin memperparah bencana.

Ramon Hanssen: “Jakarta itu kota besar yang rendah letaknya. Kota ini juga agak rata dan dalam waktu sangat singkat tumbuh begitu cepat. Oleh karena itu, juga sangat butuh air. Air itu bisa diperoleh dari pelbagai lapisan tanah yang mengandung air. Masalahnya adalah, jika lapisan itu tidak dalam, kemudian disedot banyak air, maka tekanan air pada pelbagai lapisan berkurang, dan akibatnya permukaan kota turun. Dataran turun. Di Jakarta tanah ambles itu cukup ekstrim, di pelbagai bagian penurunan itu malah mencapai satu meter dalam 12 tahun belakangan.”

Jakarta jelas telah tumbuh keluar dari batas-batasnya dan jutaan penduduknya perlu air minum. Oleh karena itu tahun-tahun belakangan disedot banyak sekali air, terlalu banyak bahkan. Hanssen meneliti penurunan dataran dari luar angkasa di seluruh dunia. Ia berpendapat keadaan di Jakarta sangat ekstrim.

Ramon Hanssen: “Saya berpendapat sebuah kota perlu perencanaan, perlu memperhitungkan dampak seperti yang sekarang ini. Itu tidak dilaksanakan di masa lampau. Kota seperti Jakarta tumbuh sangat cepat karena demografinya dan dampak seperti persediaan air tidak diperhatikan lagi. Selama kita tahu apa yang masih tersedia, dan apa dampak penarikan air di lokasi tertentu, maka faktor-faktor ini bisa diperhitungkan dalam perencanaan kota.”

Amblesnya tanah kebanyakan terjadi di bagian Utara Jakarta, namun juga di Jakarta Pusat. Itu juga berdampak pada perumahan. Menurut Hanssen muncul keadaan berbahaya akibat turunnya permukaan tanah.

Sebagai warga Jakarta, Aart van Nes menekankan perlunya sebuah wadah sehingga rencana-rencana lama akhirnya bisa dilaksanakan juga. Kesadaran di bidang tata air kota harus berkembang. Sampah tidak boleh dibuang di sungai, sehingga kanal juga bisa lancar. Dengan demikian harus ada sistem pengangkatan sampah yang lebih baik. Dana bukan masalah terbesar menurut Van Nes. Masalahnya harus ada kerjasama erat antara pemerintah di tingkat daerah, nasional, dan lokal.

sumber:
Date: Tue, 6 Feb 2007 15:50:01 +0000
From: Radio Nederland Berita list manager
Subject: Warta Berita – Radio Nederland, 06 Februari 2007