* BANJIR JAKARTA MENGUNGKAP LANGKANYA PEMBANGUNAN PRASARANA
* PERINGATAN DINI BMG TAK MEMPAN UNGSIKAN WARGA

—————————————————–

* BANJIR JAKARTA MENGUNGKAP LANGKANYA PEMBANGUNAN PRASARANA

Tapi pelajaran apa yang dapat ditarik Jakarta dari musibah banjir saat ini? Masih koran yang sama, The International Herald Tribune mencatat lebih dari 220an ribu penduduk ibukota mengungsi dan 44 korban tewas. Ratusan orang bahkan harus mengungsi di tengah pekuburan Karet yang letaknya lebih tinggi. Regu penolong sempat panik. “Kami ungsikan mereka ketika air surut, tapi begitu sampai rumah, hujan turun deras lagi. Herald Tribune mencatat di tengah drama banjir Jakarta itu, para pemulung sampah seperti kejatuhan rezeki. Ini panen bagus bagi kami, ujar seorang pemulung.

Pelajaran dari musibah banjir menjadi sorotan khusus tajuk harian Singapura The Straits Times. Jakarta membutuhkan bantuan cepat, demikian judul editorial itu. Banjir besar ketiga di Jakarta dalam 10 tahun ini, adalah harga yang harus dibayar penduduknya akibat investasi yang terlantar di bidang pra-sarana. Penduduk Jakarta makin padat. Bangunan bangunan lukratif, yang membawa keuntungan keuangan yang besar, makin membanjiri ibukota. Daerah pinggiran yang dulu hutan, dengan cepat menjadi kawasan perumahan, membuat Jakarta tidak terlindungi lagi. Artinya, lahan-lahan resapan air, merosot hebat. Kawasan resapan yang 30 tahun lalu masih 40 persen, sekarang tinggal 10 persen saja.

Gubernur Sutiyoso lebih sibuk menangkis tuduhan salah kelola ibukota, ketimbang membantu ratusan ribu pengungsi. Sekarang PBB siap membantu. Rehabilitasi Jakarta menuntut tekad politik besar dan kemampuan organisasi pemerintah DKI Jakarta. Di sini, sejarah penguasa kolonial Belanda dapat memberi pencerahan. Belanda yang separo wilayahnya berada di bawah permukaan laut, dulu membangun sistim drainase untuk menambah kapasitas sungai menampung air. Toh, drainase itu tidak memadai. Satu abad sebelum Indonesia merdeka, Belanda juga pusing menghadapi bahaya banjir yang selalu mengancam Batavia. Masalahnya sekarang: bagaimana memutus putaran sejarah banjir itu.

Demikian tajuk The Straits Times, dan sekian pula Ulasan pers kali ini.

* PERINGATAN DINI BMG TAK MEMPAN UNGSIKAN WARGA

Badan Metereologi dan Geofisika BMG sudah mengeluarkan peringatan dini datangnya banjir yang bakal melanda Jakarta. Peringatan yang sudah disampaikan kepada instansi terkait misalnya Pemda DKI Jakarta tidak berhasil pula mengungsikan warga yang daerahnya diramalkan terkena banjir. Hal itu karena rakyat yang tidak mau meninggalkan kediamannya. Selain itu BMG meramalkan pula untuk beberapa hari mendantang Jakarta curah hujan di Jakarta tidak akan sebesar curah sebelumnya yang mengakibatkan banjir. Ikuti wawancara Radio Nederland Wereldomroep dengan Prih Harjadi, deputi kepala BMG bidang sistem data dan informasi:

Badan Metereologi dan Geofisika BMG akan menambah jumlah radar di seluruh Indonesia untuk peringatan dini bahaya banjir. Tujuh radar peringatan baru akan ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Tetapi khusus di Jakarta peringatan dini bahaya banjir sudah dikeluarkan oleh BMG melalui radarnya. Dan curah hujan tersebut merupakan yang tertinggi menurut perkiraan BMG. Curah hujan dalam beberapa pekan ke depan tidak akan sebesar itu lagi. Namun tidak berarti hujan sudah berhenti. Hujan masih akan turun sampai pertengahan bahkan sampai mungkin akhir Februari dengan intensitas yang semakin menurun. Kendati Pemda sudah diberi tahu namun tetap saja upaya pengungsian gagal dilakukan. Jadi di dalam penanangan masalah bencana secara keseluruhan, peringatan dini hanya merupakan bagian saja. Kalau keseluruhan yang paling penting justru ada di persiapan dan kesiagaan dari masyarakat.

Ikuti wawancara selanjutnya di situs web kami: http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/indonesia060905/peringatan_bmg_percuma070207

sumber:
From: Radio Nederland Berita list manager
Subject: Warta Berita – Radio Nederland, 07 Februari 2007