TIP Menghindari Jatuhnya Korban Banjir

Laporan Wartawan Kompas Amir Sodikin

Hingga Kamis (8/2) korban meninggal akibat banjir di Jabodetabek sudah mencapai 55 orang. Korban meninggal akibat kesetrum listrik, hanyut terseret arus, kedinginan, karena sakit, dan ada pula karena keracunan mesin genset dan juga mesin penyedot air.

Praktisi SAR Freddy Sutrisno dari Global Resque Network mengatakan jatuhnya korban akibat banjir bisa dihindari jika semua pihak bisa mengantisipasi dari awal.

Harusnya, PLN sudah punya protap (prosedur tetap) untuk mematikan listrik saat air banjir sudah menyentuh halaman rumah. PLN jangan memakai gardu listrik sebagai patokan untuk mematikan listrik tapi yang jadi patokan adalah pelanggan di daerah tersebut yang lokasinya paling rendah.

Dengan demikian, PLN mutlak harus memiliki data lokasi pelanggan yang paling rendah tempatnya yang sering terkena genangan banjir pertama kali. Banyak kasus kabel listrik dinyatakan sudah mati tapi ternyata masih ada aliran listrik. Ini sangat berbahaya karena ada beberapa kasus yang terkena justru relawan yang ingin menyelamatkan korban banjir. Biasanya ketika tak ada tali, kabel listrik terpaksa dijadikan pegangan untuk bertahan dari arus.

“Pemilik rumah juga harus punya protak untuk mematikan listrik. Begitu air masuk halaman rumah maka listrik di rumah harus dimatikan dan segera penghuni rumah harus mengevakuasi diri atau setidaknya sudah siap-siap mengungsi. Sebab, jarak air masuk ke halaman sampai masuk ke rumah hingga sepinggang hanya butuh beberapa jam,” kata Freddy.

Untuk kasus di perumahan yang sudah pernah tergenang banjir, harusnya pengembang sudah bersiap-siap dan berperan dalam memberikan alert warning system. Kasus di perumahan elit Kelapa Gading Jakarta Utara harusnya tidak terjadi jika pengembang memiliki protap untuk menghadapi banjir.

“Harusnya pengembang yang bilang kepada penghuni perumahan bahwa sudah saatnya mengungsi dan diharapkan meninggalkan rumah,” kata Freddy.

Begitu air masuk ke perumahan yang paling rendah, saat itu juga peringatan dini harus dilakukan terhadap penghuni perumahan lain agar tidak terjebak. Yang terjadi, masing-masing penghuni mengevakuasi diri menggunakan mobil dan diparkir di jalanan mengakibatkan kemacetan luar biasa. Harusnya semua warga dievakuasi keluar dari Kelapa Gading.

Selain itu, masing-masing rumah ketika memasuki musim penghujan harus memiliki kepasitas untuk mengevakuasi keluarga dalam situasi apa pun termasuk di malam hari, berarti harus memiliki senter atau alat penerangan untuk malam hari. Begitu air masuk ke halaman, anak-anak dan usia lanjut harus segera diungsikan. Orang dewasa boleh tinggal di dalam rumah untuk menjaga rumah.

Tiap rumah harus memiliki survival kit setidaknya untuk 3-4 hari mulai dari senter untuk mengantisipasi mati listrik, air minum, dan makanan. “Jangan sampai makanan dan minuman tak ada sehingga anggota keluarga kelaparan selama menunggu datangnya evakuasi dari pihak luar, di dalam rumah harus dipastikan ada persediaan makanan untuk 3-4 hari,” kata Freddy.

Pemerintah harus memperhatikan ketersediaan dapur umum setelah korban banjir mengungsi. Ini mutlak dilakukan karena ada saja korban meninggal kelaparan saat sudah berada di pengungsian. Harus diperhatikan kemampuan dapur umum, kapasitas satu dapur umum itu hanya untuk 750 orang.

“Dengan demikian jika ada 7.000 orang pengungsi, dibutuhkan setidaknya 14 dapur umum. Dapur umum dari pemerintah di Jakarta ini yang sudah bertahun-tahun dilanda bencana banjir hanya seperti main-main,” kata Freddy. Jika tidak ada lembaga lain atau relawan yang ikut menangani dapur umum dipastikan kacau.

Dapur umum juga harus memperhatikan kebutuhan air minum. Jika jumlah pengungsi sudah banyak berarti harus memiliki water purifier, jadi tak harus bergantung pada mobil tangki air karena dalam situasi banjir mobil air bisa terjebak di jalan dan tak bisa sampai ke pengungsian.

Tiap kecamatan rawan banjir juga harus punya genset untuk kebutuhan pengungsi. Di tiap RW yang rawan banjir juga harus punya tali untuk pengamanan saat evakuasi. Tali ini harus dipelihara. “Tiap RW setidaknya harus memiliki 20 ban dan ban tersebut setiap musim penghujan harus dipompa dan diikat dengan tali sehingga ketika banjir sudah siap digunakan untuk evakuasi,” kata Freddy.

Pemberdayaan Karang Taruna merupakan langkah efektif untuk kembali menguatkan setiap RW agar lebih siap untuk menghadapi banjir. Pemberdayaan Karang Taruna untuk menjadi Tim SAR jangan hanya upacara semata namun juga harus dilengkapi dengan kecakapan dalam menangani korban banjir.

sumber: http://www.kompas.com/ver1/Metropolitan/0702/08/195920.htm