WALHI: BANJIR JAKARTA 2007

Sejak hari Kamis, 2 Februari 2007, hujan deras mengguyur Jakarta tanpa henti sampai hari Jumat 3 Februari 2007. Akibatnya, 70% kota Jakarta dan kota-kota di sekitarnya seperti Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor, tergenang banjir dengan beragam ketinggian dari 50 sentimeter sampai 5 meter. Hujan juga menyebabkan luapan air di pintu-pintu air penting di Jakarta, seperti pintu air Manggarai, Karet, dan Katulampa Bogor. Banjir tahun ini merupakan banjir terburuk yang pernah dialami oleh Jakarta, bahkan lebih buruk dari banjir besar yang melanda Jakarta tahun 2002.

Jakarta, mempunyai luas areal 661,62 km2 dengan luas areal yang sudah terbangun seluas 609, 61 km2 atau sama dengan 91,99 persen dari luas total wilayah kota. Ibukota Negara Republik Indonesia ini merupakan wilayah terpadat yang berpenduduk 7,515,286 jiwa, sesuai dengan sensus penduduk berkartu identitas Jakarta dan belum ditambah penduduk berkartu identitas non-Jakarta. Dengan kepadatan penduduk dan area terbangun, Jakarta hanya mempunyai 18,180 hektar Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk menyerap air ke dalam tanah. Akibatnya, setiap musim penghujan air hujan tidak dapat tertampung dan menggenangi sebagian besar daerah Jakarta, serta juga tidak dapat menyimpan cadangan air setiap musim kering. (1)

Kerugian dari banjir tahun ini diperkirakan mencapai 1,8 triliun per hari, mulai dari kerugian infrastruktur sampai dengan korban jiwa. Tercatat 57 orang meninggal dunia, 57.600 orang luka ringan, dan 420.440 jiwa masih berada di tempat pengungsian yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Depok. Sampai saat ini pengungsi masih terpaksa bertahan di pengungsian maupun tempat tinggal masing-masing tanpa ketersediaan kebutuhan dasar yang memadai seperti air bersih, sanitasi, alas tidur dan selimut. Kebutuhan makanan yang tersedia pun sangat jauh
dari standar minimum penanganan pengungsi. Pemerintah DKI Jakarta pun hanya mampu menangani 20 % dari total pengungsi dengan penanganan ala kadarnya.

Badan Meterologi dan Geofisika serta Departemen-departemen terkait memperkirakan bahwa banjir masih berlanjut sampai akhir bulan Februari. Rusaknya infrastruktur penting seperti tanggul, akan memperparah daya tahan kota Jakarta dari serangan banjir. Diperkirakan pula air masih akan naik 3 kali lagi sampai akhir Februari.

Pada hari Jumat, 3 Februari 2007, WALHI Eksekutif Nasional dan WALHI Jakarta segera membuat basis data informasi banjir. Namun, banyaknya warga yang menghubungi WALHI Eksekutif Nasional untuk meminta bantuan, maka pada hari Minggu, WALHI Jakarta, dibantu oleh Sahabat WALHI, membuka posko banjir yang berlokasi di wilayah SDN 13 Bukit Duri, Manggarai, Jakarta Selatan. Posko WALHI ini berkonsentrasi pada penyediaan air bersih dan dapur umum. WALHI juga bekerja di wilayah-wilayah lain yang membutuhkan bantuan evakuasi dan lainnya, yaitu Kampung Melayu, Kuningan Barat, Pejompongan, sampai Bekasi, Jawa Barat. Relawan-relawan WALHI juga ditempatkan di pos-pos Satlak untuk memantau evakuasi dan perkembangan emergency response dari Pemerintah Daerah.

Sampai saat ini, Posko WALHI di Manggarai masih menerima bantuan dari banyak pihak untuk para pengungsi. Dengan infrastruktur yang terbatas, posko WALHI baru dapat memenuhi kebutuhan 600 pengungsi dari 2000 jiwa yang ada di daerah tersebut.

WALHI juga memfokuskan diri pada advokasi penanganan bencana berbasis hak. WALHI bersama jaringan masyarakat sipil terus mendorong penanganan bencana banjir 2007 sesuai dengan standar minimum penanganan bencana sesuai standar SPHERE Project, sebuah panduan penanganan pengungsi yang telah diakui secara internasional. Banjir 2007 ini pun digunakan sebagai media kampanye bencana ekologis yang bertujuan pada pengelolaan lingkungan yang berpihak lepada rakyat dan ekosistem.

Karena kondisi di atas, situasi kerja di Jakarta dan kantor Eksekutif Nasional WALHI tidak bisa berjalan sebagaimana biasa. Banyak staf Eksekutif Nasional WALHI yang tidak dapat ke kantor dan mengungsi. Semoga kondisi tidak semakin memburuk dan WALHI bisa segera beroperasi seperti semula.

Kontak Person:

Spoke person banjir Jakarta:
Slamet Daroyni (ED WALHI Jakarta, 081584197713)
Sofyan (Disaster Risk Management Manager EN WALHI, 0811183760)

Media :
Alien (Deputi Kampanye WALHI Jakarta, 081311187498),
Randu (Media Komunikasi EN WALHI, 081385455229)

General Info/Database:
Dyna (Perpustakaan dan Database EN WALHI, 021 7919 3363-68)
Devi (Disaster Risk Management Officer EN WALHI, 021 7919 3363-68)

sumber: “Randu”