Kawan-kawan yb.

Ada beberapa fakta yang saya temukan dari interaksi dengan beberapa
pihak belakangan ini:

– Secara klimatologi, siklus 5 tahunan, 10 tahunan dst.dst. itu tidak
ada. Siklus iklim selalu 1 (baca: satu) tahunan! (Haritirto,
prakirawan cuaca senior LMG)
(“miskonsepsi” siklus 5 tahunan dst itu mungkin muncul dari disiplin
rekayasa/engineering, yang merancang prasarana untuk menampung
KEBUTUHAN/BEBAN/PENURUNAN-KAPASITAS 5 tahunan, 10 tahunan, dst.nya.
Jadi yang ada “siklus”nya itu adalah siklus peningkatan kebutuhan/
beban/penurunan-kapasitas, misalnya karena tiap lima tahunan atau
sepuluh-tahunan jumlah kebutuhan kapasitas saluran bertambah, atau
efisiensinya menurun tersebab kerusakan dll, bukan karena iklim, tapi
karena pembangunan dan pertumbuhan kegiatan manusia).

– Kanal-Banjir Timur (bukan Banjir-Kanal Timur, bila menuruti kaidah
bahasa Indonesia yang benar) tidak dirancang untuk menyodet sungai
Ciliwung, melainkan hanya beberapa sungai lain di sebelah timur
Ciliwung, jadi tidak akan berpengaruh terhadap banjir yang terjadi
karena luapan Ciliwung) (Budi, WAKADIS PU Jakarta).

Ada beberapa tipologi banjir
(sebenarnya juga harus dibedakan pengertian banjir dalam arti air
bergerak, dan genangan/inundation…benar tidak?)
– Banjir di Kampung Melayu karena luapan Ciliwung; banjir di Cipinang
lebih karena luapan sungai lain.
– Banjir di Kelapa Gading karena “genangan” yang tidak dapat keluar,
bukan karena luapan sungai.
– “genangan” di Jl. Thamrin dan halaman Sarinah karena drainase yang
undercapacity (karena “siklus” peningkatan kebutuhan/beban, bukan
karena siklus iklim) atau terkurangi kapasitasnya tersebab berbagai
hal (kerusakan karena proses pembangunan, perawatan yang kurang,
dsb.nya)
– Resapan air juga berpengaruh terhadap banjir kiriman: ialah resapan
di daerah hulu. Kalau daerah hulu berkurang resapannya, maka
bertambah kecepatan meluap aliran sungai di hilir.

Mohon koreksi bila ada yang punya informasi dan nalar berbeda. Trims.

Marco

sumber: Marco Kusumawijaya