Dicari Tapi Dicaci Saat Banjir
Gagah Wijoseno – detikcom

Jakarta – Butuh kesabaran dan dedikasi tinggi untuk menjalani profesi yang satu ini. Di saat genangan air memasuki rumah-rumah warga Jakarta, hujan caci maki bakal menderanya.

Siapa bilang menjadi petugas pintu air itu mudah. Pekerjaan ini kelihatannya saja remeh. Hanya memantau ketinggian air, terutama saat banjir melanda. Banyak yang krang-kring mencari mereka, namun jarang berupa sapaan ramah yang diperoleh.

“Sering ada telepon maki-maki. Pintunya sudah dibuka belum. Kok masih banjir. Begitu kata yang telepon. Kesel sih. Tetapi biar saja. Mereka kan nggak ngerti,” kata petugas pintu air Manggarai, Ade Widodo (31), pada detikcom, Jumat (9/2/2007).

Bapak dua anak ini pun harus rela kerja ekstra. Biasanya, masuk 3 kali 24 jam dalam seminggu dengan sistem shift. Namun saat banjir, wajib masuk 5 kali 24 jam seminggu tanpa ada uang lembur.

“Dari Kamis sampai Selasa masuk terus. Nggak ada uang tambahan. Hanya makanan dari donatur dan atasan,” ujar Ade yang juga korban banjir ini.

Pria yang menggeluti profesi ini sejak tahun 2003 ini mengisahkan pekerjaan ini membutuh toleransi dengan sesama rekannya dalam menjalankan tugas.

“Ada yang terima telepon, ada yang pantau HT, ada yang melayani wartawan, dan ada yang mantau ketinggian air di luar,” cerita pria yang bergaji kotor di bawah Rp 2 juta per bulan ini.

Ade berharap dirinya dapat diangkat menjadi PNS dari statusnya yang kini pegawai tidak tetap di bawah Dinas Pekerjaan Umum.

“Saya harap bisa diangkat. Penghasilan bisa lebih baik lagi,” kata Ade.

Meskipun lelah, Ade merasakan kepuasan sendiri karena dapat membantu masyarakat banyak.

Ade mengaku rajin minum jamu untuk menjaga staminanya. “Capek, stamina tersedot. Makanya saya minum jamu dan vitamin,” kata Ade.

Rekan Ade, Parjono ikut nimbrung. “Ada sukanya juga, tiap dua bulan sekali diberi uang di luar gaji sama salah satu instansi swasta yang kantornya berbatasan dengan kali. Tiap dua bulan kita ambil ke sana, lumayan Rp 600 ribu dibagi 4 orang,” ujar Parjono.(aan/sss)

sumber: http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/09/time/155630/idnews/740460/idkanal/10, 09/02/2007 15:56 WIB