Dulu banjir, sekarang juga banjir
oleh : Algooth Putranto

Sampai hari ini Jakarta masih berdenyut lemah, karena banjir mengepung kota. Banjir tahun ini melengkapi catatan bencana banjir di kota ini yang terentang mulai tahun 1621, 1654, 1918, 1979, 1996, dan 2002.

Data geomorfologi menunjukkan Jakarta didirikan di atas dataran aluvial pantai dan sungai yang berusia 5.000 tahun. Bentang alamnya didominasi dataran, sungai, rawa pantai dan sungai, hingga genangan laguna.

Tak aneh jika kota dengan luas 65.000 hektare ini secara alami rawan terhadap genangan dari pasang air laut di utara dan limpasan banjir dari pegunungan di selatan.

Terdapat 13 sistem daerah aliran sungai (DAS) melewati kota ini dan bermuara di Teluk Jakarta, yang berpotensi menggenangi 40% atau sekitar 24.000 hektare daratan rendah yang memiliki ketinggian 1 hingga 1,5 meter di bawah muka laut pasang.

Gejala genangan didukung jenis tanah hasil bentukan endapan sungai dan pantai yang didominasi tekstur liat berdebu hingga lempung berdebu yang memiliki kemampuan serap air yang rendah dan mudah jenuh.

Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) bukan tak sadar dengan kondisi ini. Gubernur Jenderal VOC pertama, Peter Both, justru sengaja memilih kota yang dulu bernama Sunda Kelapa atau Jayakarta ini menjadi pusat administrasi dan perdagangan mereka.

Alasan Both, kota yang kemudian diubah menjadi Batavia itu strategis sebagai kota pelabuhan sedangkan sungai-sungai yang melintas selain menjadi akses transportasi air juga merupakan benteng alami.

Visi itu diteruskan Jan Pieters Zoon Coen yang sukses membentuk Batavia pada 1621. Hanya berselang bulan, banjir besar mengepung kota kecil yang mulai dipotong oleh banyak parit itu.

Meski VOC berhasil menundukkan Mataram, air tak kunjung mengalah. Banjir besar lagi-lagi mengurung Batavia empat tahun setelah kota itu genap dibangun pada 1650.

Namun arsitek Belanda tak menyerah, drainase tambahan dibangun. Hasilnya banjir baru mampir pada 1918. Bencana itu membuat DPRD Batavia memanggil Wali Kota Bischop dan ahli tata air Herman van Breen.

Dari pertemuan itu didapatkan kata sepakat membangun sistem Banjir Kanal Barat (BKB) untuk membuang limpahan air Sungai Ciliwung, Kali Krukut dan Kali Baru Barat ke wilayah Manggarai dan Jatinegara yang belum dihuni orang dan menghindarkan Jakarta Pusat dari kepungan banjir.

Hasilnya sukses. Batavia bebas banjir hingga 50 tahun ke depan sampai Belanda kalah perang. Republik Indonesia berdiri Batavai berubah nama menjadi Jakarta hingga terjadi peristiwa G30S PKI yang gagal.

Bang Ali

Gubernur Ali Sadikin menjadi orang pertama di zaman Orde Baru yang sukses membebaskan Jakarta dari banjir berkat program pembersihan, pemeliharaan dan pembangunan saluran air yang dananya diambil dari hasil judi legal di kota itu sampai meletakkan jabatan pada 1977.

Penggantinya, Tjokropranolo gagal meneruskan prestasi itu. Ibu Kota dikepung banjir tiga tahun kemudian. Untung, Bang Nolly (panggilan Tjokropranolo) cepat sadar.

Dia meneruskan program Bang Ali. Selanjutnya, langkah Bang Nolly diteruskan Soeprapto dan Wiyogo Atmodarminto.

Duitnya? Lagi-lagi dari judi!

Tepat dua tahun setelah izin judi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) dicabut pada 1994, Jakarta yang dipimpin Soerjadi Sudirja tak kuasa menahan gempuran banjir besar karena kurang duit.

Bencana pada 1979 dan 1996 sebetulnya sudah diprediksi orang-orang Ali Sadikin, sehingga dibuat Master Plan for Drainage and Flood Control of Jakarta 1972-1973 yang merencanakan untuk membangun sistem Banjir Kanal Timur (BKT).

BKT dimaksudkan untuk menampung limpasan air Kali Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, dan Cakung. Sayang rencana ini terkatung-katung hingga saat ini alasannya klasik mulai dari kesulitan pendanaan hingga pembebasan tanah.

Seperti pendahulunya, tak punya cukup dana taktis membuat Sutiyoso kerepotan. Bisa diduga banjir pun mengepung pada 2002 dan diteruskan tahun ini.

Secara garis besar, jelas terlihat strategi penanganan banjir di Jakarta sebetulnya masih berkiblat pada Belanda sebagai arsitek kota ini.

Namun, benarkah Negeri Kincir Angin itu sukses menundukkan banjir dari laut dan sungai dengan sistem polder terpadunya?

Belanda seperti halnya Jakarta selain memiliki topografi serupa juga sulit untuk mengharapkan air hujan bisa diserap seluruhnya oleh hutan di wilayah hulu. Satu-satunya cara adalah mengakali alam dengan teknologi dan konsisten dengan keputusan itu.

Delta Plan Belanda

Sadar Belanda rentan banjir, sejak pada 1937 Rijkswaterstaat (Dinas PU urusan pengairan) merencanakan proyek polder raksasa Delta-Plan sepanjang 700 km, terpanjang di seluruh Eropa.

Proyek ini akan menyekat mulut-mulut sungai besar a.l Western Schelde, Eastern Schelde, Haringvliet, dan Brouwershavense Gat.

Proyek ambisius karena tak hanya membuang limpahan run-off dan menahan hempasan ombak atau air pasang, tetapi mengeringkan 150.000 hektare dasar laut.

Lalu proyek itu juga menjadi penyedia air bagi jaringan transportasi air, sumber air bersih untuk kemudian dikembangkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Ombak dan arus Pasang-Surut.

Namun, kebutuhan finansial yang sangat besar membuat rencana ini hanya sebatas angan. Hingga kemudian banjir besar pada 1953 melanda negara itu. Ratusan jiwa melayang, ribuan orang mengungsi, ladang dan peternakan hanyut dilibas kekuatan air.

Warga negeri yang besarnya hanya seperempat Pulau Jawa dan separuhnya di bawah permukaan laut itu bertekad melawan ganasnya alam, akhirnya diputuskan Delta-Plan dimulai 1958.

Seperempat abad

Butuh seperempat abad untuk menyelesaikan proyek itu termasuk proyek pendamping seperti memperkuat dan membangun tanggul-tanggul, pintu-pintu air dan jembatan beton di wilayah daratan.

Seluruh proyek akhirnya selesai pada 1986, menghabiskan dana tak kurang dari 2,5 miliar euro. Hasilnya bisa dinikmati anak cucu mereka, tak hanya dalam bentuk fisik tapi juga ilmu pengetahuan tentang tata bangunan air yang diekspor ke mana-mana.

Salah satu pengguna teknologi polder terpadu Belanda adalah kawasan Pantai Indah Kapuk yang terletak di bibir pantai utara Jakarta bersebelahan dengan muara sungai Cengkareng.

Teknologi polder PIK didesain Witteven and Bos Indonesia. Seperti di tempat asalnya sistem bendungan itu selain sebagai penahan hempasan gelombang laut atau air dari Sungai Cengkareng juga menjadi akses jalan.

Pada 2002 dan 2007, saat banjir besar melanda Jakarta saluran air sekunder dan tersier PIK tetap kering. Tiga pompa besar sistem di kawasan itu sukses mengendalikan debit air di saluran primer.

Belajar dari pengalaman panjang ini jelas terlihat Jakarta dituntut butuh visi besar, radikal, konsisten dan holistik agar terhindar dari bencana banjir di masa datang.

Pertanyaannya sanggupkah?

sumber: http://www.bisnis.com/ Kamis, 08/02/2007 11:44 WIB