Kesehatan Perempuan Ketika Banjir
Jurnalis: Henny Irawati

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan menghimbau agar relawan atau aktivis yang membantu korban banjir memberikan bantuan yang benar-benar menjadi kebutuhan perempuan. Pembalut misalnya. Setelah himbauan ini dilaksanakan, ketika turun di lapangan masih ada yang terlupa oleh mereka.

“Kantung plastik,” ungkap Atas Hendartini Habsjah, ketika ditemui di kantor Yayasan Jurnal Perempuan, kemarin (8/2). Begitulah kebutuhan perempuan diperlakukan. Kalau tidak ditiadakan, dia hanya dipenuhi sepotong-sepotong.

Kantong plastik yang sepertinya sepele itu ternyata sangat berguna untuk membungkus pembalut yang telah dipakai. “Kalau tidak disediakan, itu akan jadi masalah juga,” jelas perempuan yang aktif di Yayasan Kesehatan Perempuan ini. Mulai Selasa (6/2) lalu pengumpulan dilakukan. Selain itu, yang paling menyedihkan, tambah Atas, adalah susahnya mencari air bersih untuk perempuan yang sedang haid. “Untuk minum saja tidak ada.” Padahal, kalau tidak dibasuh dengan air bersih maka keadaan itu akan mengundang bakteri dan virus.

Lebih lanjut Atas menjelaskan, kesehatan reproduksi bukan hanya terbebas dari penyakit tetapi juga ketertekanan mental. “Ditemukan seorang ibu di satu-satunya bangunan untuk pengungsian,” kutip Atas dari sebuah tanyangan di televisi, “ternyata baru 3 hari yang lalu ia melahirkan.” Ia menyayangkan kenapa ibu tersebut tidak dirawat saja di Puskesmas, tempat ia melahirkan. Padahal, Puskemasnya itu tidak jauh dan, kebetulan, tidak terendam.

“Bicara soal kesehatan dan pendidikan selalu ada aspek sosialnya,” tegas ibu yang 20 tahun bergerak di bidang kesehatan itu. Perlakuan yang diberikan pada ibu yang baru melahirkan tersebut bukan tidak mungkin akan menambah Angka Kematian Ibu yang sudah sedemikian tinggi di Indonesia. Apalagi kemudian diketahui ibu tersebut sakit panas.

Ibu yang sedang menyusui pun terancam berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Lagi-lagi menyitir siaran televisi yang ia saksikan, Atas bercerita tentang ibu-ibu yang mendatangi dengan menggendong anaknya. Mereka mengeluh tidak mendapat susu. 2 hari ini mereka juga tidak dapat menyusui. “Stres menghadapi banjir itu juga bisa menghambat keluarnya ASI.”

Masih banyak lagi situasi perempuan yang terancam akibat datangnya banjir. Sebut saja perempuan yang sedang hamil tua, perempuan yang sedang menjalankan Keluarga Berencana, dan sebagainya. Deret panjang ini masih akan bertambah dengan kesehatan reproduksi non-fisik lainnya. Misalnya pelecehan atau perkosaan (vaw-violence againts woman) yang terjadi di tenda-tenda pengungsian, “berdasarkan International Conference on Population and Development (ICPD) yang digelar pada tahun 1994 vaw termasuk 9 item yang mendapat perhatian dalam kesehatan reproduksi perempuan,” jelas Atas.

Ketika ditanya kenapa penanganan perempuan sering luput, Atas juga menyampaikan keheranannya. “Banyak manual sudah diterbitkan. Tapi pelaksanaannya selalu mendapat hambatan,” ucapnya tak habis pikir dan tanpa menganalisa lebih lanjut.*

sumber: Henny Irawati , Jumat, 9 Februari 2007