Leptospirosis Berjangkit

JAKARTA, KOMPAS – Sarnata (61), warga Ketapang, Krukut, Jakarta Barat, dan Tabrani (44), warga Karet Tengsin, Jakarta Pusat, dinyatakan positif terjangkit penyakit leptospirosis, Kamis (8/2). Kedua pasien laki-laki yang juga korban banjir tersebut kini dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat.

“Sarnata masuk rumah sakit sejak Selasa (6/2) lalu, sementara Tabrani Rabu. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, Sarnata dinyatakan positif terjangkit leptospirosis stadium tiga, sedangkan Tabrani stadium satu,” kata Nazir, dokter spesialis penyakit dalam, didampingi Kepala Bidang Keperawatan RSUD Tarakan Zuraidah, Kamis.

Rumah dan lingkungan di sekitar permukiman kedua pasien itu tergenang banjir sejak sepekan lalu. Keduanya terus berinteraksi dengan air genangan, yang berperan sebagai media penularan penyakit yang disebabkan kencing tikus itu.

Menurut Nazir, kondisi Sarnata saat ini amat lemah. Pasien sulit diajak berbicara, bagian ginjal sudah rusak, dan kesadaran semakin menghilang karena bagian otaknya telah mengalami gangguan. Tabrani hingga Kamis kemarin dinyatakan positif probable leptospirosis dan mendapat perawatan kategori stadium satu atau ringan.

“Penyakit ini ada tiga stadium, yakni stadium satu dengan gejala panas tinggi, sakit otot, mual, muntah, dan mata merah. Stadium dua, kerusakan ginjal. Stadium ketiga, terberat karena telah menyerang otak dan sulit disembuhkan,” kata Nazir.

Nazir mengingatkan, korban banjir dan relawan harus waspada karena bibit penyakit ini dapat masuk melalui pori-pori tubuh, tidak hanya dari kulit terbuka karena luka.

Penyakit ini pun tidak hanya disebarkan melalui kencing tikus, tetapi juga anjing, babi, kucing, kerbau, dan tupai ketika secara tidak sengaja air kotor atau air banjir masuk ke tubuh manusia.

Nazir menganjurkan agar secepat mungkin memakan antibiotik amoxicilin jika merasakan gejala klinis leptospirosis dan langsung memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit.

Ada tiga kategori pemeriksaan yang harus dilalui. Pertama, pasien korban banjir yang datang dengan gejala klinis disebut suspect atau diduga terjangkit leptospirosis. Pasien itu lalu diperiksa sampel darahnya dengan sistem pemeriksaan cepat (rapid test). Jika hasilnya positif, pasien disebut probable leptospirosis.

Selanjutnya, pasien harus diperiksa silang sampel darahnya oleh dua laboratorium terpisah di Bogor dan Serang. Kedua laboratorium ini memiliki peralatan khusus untuk pembuktian terjangkit leptospirosis atau tidak.

Demam berdarah

Selain leptospirosis, demam berdarah dengue (DBD) masih menghantui masyarakat Jakarta. Lurah Menteng Bayu Megantara mengatakan, pada Kamis kemarin 17 warganya terjangkit DBD. Penyakit itu kembali merebak diduga karena banyaknya genangan air pascabanjir di kawasan itu.

Kepala Seksi Penyakit Menular Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Pusat, Endang ER, menyatakan telah menerima laporan itu dan sudah mendatangkan juru pemantau jentik. Nyamuk penyebar DBD berasal dari tiga rumah kosong yang digenangi air bekas banjir. Saat ini sudah dilakukan pemberantasan nyamuk dan jentiknya juga pembersihan lingkungan. (NEL)

sumber: http://www.kompas.com/ver1/Metropolitan/0702/09/054656.htm