Philosofi Banjir Jakarta

Ulasan ringkas tentang Latar Belakang Banjir Jakarta yang cukup informatif dari milist tetangga. semoga menambah “knowledge” kita tentang “Never Ending Story” Banjir Jakarta setiap tahun

—– Forwarded message from “Robert M. Delinom”
Date: Thu, 8 Feb 2007 10:18:54 +0700
From: “Robert M. Delinom”
Subject: Re: [FORUM] Jakarta 2010, SEMOGA BUKAN IMPIAN

Riwayat banjir di Jakarta memang sudah sejak dulu. Sejak jaman Bang Pitung dan Bang Jampang. Tercatat yang terbesar adalah yang terjadi pada tahun 1621, 1654, 1725 dan yang paling besar adalah yang terjadi pada tahun 1918. Waktu itu, banyak korban manusia dan harta benda yang lain. Banjir itulah yang membuat Pemerintah Belanda pada saat itu membuat perencanaan untuk mencegah banjir di Batavia. Rencana pencegahan itu kemudian terkenal dengan apa yang disebut sebagai “Strategi Herman van Breen” disebut karena menner Breen adalah ketua tim pencegahan banjir pada saat itu. Straeginya sebenarnya sangat sederhana yaitu mengendalikan air agar tidak masuk kota.

untuk itu dibuatlah kolektor air dipinggiran selatan kota dan untuk kemudian dialirkan ke laut melalui tepi barat kota. Waktu itu batas selatan kota ya baru di Manggarai. Jadi saluran itu dimulai dari sana terus melalui kota dan berakhir di Muara Angke. saluran tersebut yang sekarang terkenal dengan sebutan Banjir Kanal. Kanal ini pada saat sekarang sudah tidak bisa bekerja secar effektif karena Jakarta sudah menjadi sangat luas dan tempat parkir air di hulu sudah semakin sedikit. Air jadi semakin liar mulai dari hulu dan korban harta benda menjadi semakin spektakuler.

Sebenarnya strategi Meneer Breen ini masih bisa kita adopsi untuk keadaan saat ini, dengan memperhitungkan luas kota, kodisi bangunan, kepadatan penduduk, dan juga kondisi geologi Jakarta. Sejauh ini kalau bajir, yang selalu dipermasalahkan adalah kondisi di permukaan saja. Diskusi pencegahan banjir jarang mengikutkan kondisi geologi Jakarta yang sebenarnya punya peranan penting sebagai penyebab banjir. Logikanya, mengapa terjadi banjir di zaman dulu di saat tutupan lahan masih bagus, bangunan masih sangat sedikit, sementara hujan (tanpa memperhitungkan perioda ulang) yang jatuh di Jakarta relatif sama dari tahun ke tahun. Mestinya ada faktor yang lain di bawah permukaan.

Dari analisis sementara yang kita lakukan dan saat ini masih berlangsung (kerjasama dengan RIHN, Kyoto), kondisi geologi di selatan Jakarta ikut berperan sebagai penyebab banjir. Seperti kita ketahui bahwa Formasi Bojongmanik yang masif menyebar dgn arah hampir barat-timur dan bertindak seperti underground dam bagi air tanah yang mengalir dari daerah tinggian. Secara sederhana dapat kita artikan bahwa airtanah umumnya keluar ke permukaan disepanjang penyebaran formasi ini dan menambah supply air permukaan yang mengalir ke hilir, Jakarta dan sekitarnya. Dalam kondisi jenuh air, hampir semua air hujan yang turun dibagian hulu akan menjadi air permukaan yang lari kemana-mana karena kapasitas sungai yang ada sudah tak mencukupi. Banjir, lah. Tapi, jangan lekas putus asa dan bilang : Siapapun Gubernur Jakarta atau siapapun Presiden Indonesia, tidak ada yang bisa mencegah banjir Jakarta. Kalau ada itikad mestinya bisa. Proyek Banjir Kanal Timur (BKT) mungkin bisa mengurangi banjir. Tapi nasib BKT masih nggak jelas. Jadi kalau mau mengadopsi strategi Breen, sebaiknya kondisi geologi tersebut dimasukkan dalam analisis penentuan lokasi kolektor air di hulu.

Dari analisis temperatur bawah permukaan, kita simpulkan bahwa dataran Jakarta hampir 75 %-nya daerah luahan (discharge area). Jadi air memang lebih cenderung mengali di permukaan daripada pada meresap masuk. Jadi meskipun nggak ada kiriman dari Bogor, Jakarta kalau ada hujan lebih cenderung akan banjir. Karena endapan di Jakarta adalah endapan delta (ya KJ betul, river dominated), aliran air kadang tak terduga. Amblesan tinggi? Ya, lah! Endapan delta biasanya unconsolidated ditambah ekploitasi airtanah yang berlebihan, bangunan yang sangat masif dan berat, semua akan memicu amblesan.

Sumbangan fikiran apa yang bisa kita berikan? Mungkin yang paling sederhana adalah meyarankan untuk memperluas daerah2 yang bisa dipakai air untuk parkir. Karena Jakarta tidak mesti menunggu Jabar memperbaiki kondisi tutupan lahan di puncak dan sekitar, mungkin bisa dilakukan dengan pembuatan kanal yang lebih banyak. BKT dilanjutkan segera. Pembangunan resort di tepi pantai harus dikurangi. Banyak lagi, Kam. Aku puasa euy, jadi agak capek mikir. He he he.

Mas Obeng

Sumber: http://qurm.multiply.com/reviews/item/14