** GEMA WARTA TOPIK TINJAUAN PERS: JAKARTA TANPA PERENCANAAN
** GEMA WARTA TOPIK INDONESIA: KORBAN BANJIR BERNIAT MENUNTUT PEMDA JAKARTA

* JAKARTA TANPA PERENCANAAN

Tigaperempat wilayah Jakarta tergenang air akibat hujan yang melanda ibukota sejak pekan lalu. Wong cilik yang dilanda tergawat mulai merajuk. Demikian laporan harian Belanda NRC Handelsblad.

Sekurangnya 200.000 sampai 340.000 penduduk menjadi tidak bisa menghuni rumah mereka. Korban tewas karena tenggelam atau kena setrum listrik ketika kabel terendam. Pintu air masih tertutup. Menurut wong cilik Andy “Mereka lebih suka kami mengungsi dari rumah katimbang kaki mereka menjadi basah”. Jika pintu air antara Bogor dan Jakarta dibuka, maka Istana Presiden, mesjid Istiqlal serta Menteng, daerah mewah Jakarta warisan kolonial akan terendam air. Namun presiden Susilo Bambang Yudhoyono, wakil presiden Jusuf Kalla dan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso telah mengatakan tidak keberatan jika kaki mereka terendam air, jika itu meringankan penderitaan rakyat kecil.

Gubernur Sutiyoso berpendapat Bogor lalai karena menebang kayu dan membangun vila mewah di daerah pegunungan. Karena itu kapasitas penyerapan air hilang dan air hujan langsung mengalir ke Jakarta yang dekat laut Jawa. Memang 25 tahun belakangan Jakarta tidak punya sedikitpun rencana menjadi kota metropolitan yang didiami lebih dari 10 juta penduduk. Tidak ada taman kota, orang miskin membangun rumah mereka di pinggir sungai dan tidak ada jaringan lalu lintas umum.

Banjir seperti sekarang secara rata-rata akan melanda Jakarta di musim hujan. Tigabelas sungai di sekitar Jakarta meluap. Listrik padam, hubungan telpon tidak mungkin lagi. Di pelbagai bagian kota dibagikan paket darurat. Kekhawairan terbesar adalah air minum. Mencret dan disentri merupakan bahaya terbesar saat ini.

Demikian harian NRC Handelsblad dan demikian tinjauan pers hari ini.

* KORBAN BANJIR BERNIAT MENUNTUT PEMDA JAKARTA

Hampir sepekan banjir menggenangi Ibukota Jakarta dan sekitarnya. Ratusan ribu warga terpaksa mengungsi. Meski berulang banjir terjadi, pemerintah daerah tetap saja tak becus menangani pengungsi. Nyaris di semua tempat pengungsian muncul keluhan tak sigapnya pemerintah daerah ini. Gugatan class action terhadap pemerintah daerah mulai disiapkan. Berikut laporan KBR 68H di Jakarta.

Benyamin S- Kompor Meleduk
Aouuuuu. Nyak Banjir.. Jakarta kebanjiran.. hek.. Di bogor angin ngamuk.. hek.

Ibu Caca pengungsi korban banjir di kawasan Cililitan, Jakarta Timur, tak mampu menahan emosi. Bantuan yang diharapkannya tak juga diperolehnya meski sejumlah posko, Selasa siang itu sudah didatanginya.

Ibu Caca: Dari awal, banjir awal, setiap saya minta nasi bilangnya bilangnya habis, habis. Minta pakaian dibilangnya, habis. Minta apapun habis, habis. Begitu. Saya sampai mengemis, orang tua saya menangis. Saya punya bayi sekecil begini. Saya minta pampers. Bilang aja gak ada. Saya lihat di belakang banyak. Buat apaan itu dia numpuk. Itu kan punya orang, bukan punya dia. Kalau dia masih kasih masyarakat berarti bisa. Berarti dia masuk cari keuntungan sendiri.

Hingga hari kelima banjir, rumah Ibu Caca masih terendam air lebih dari 1 meter.

Kurangnya bantuan juga dirasakan korban banjir di kawasan Kemuning, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sebelumnya mereka memang sudah mendapatkan bantuan dari relawan, berupa makanan seperti nasi, telur dan mi instan sebagai bekal selama dipengungsian. Namun, makanan itu makin menipis mengingat bertambahnya pengungsi yang datang ke posko pengungsian. Opi, aktivis LSM Rumpun Gema Perempuan mengatakan, selain makanan, warga juga butuh air bersih, perlengkapan bayi dan juga alat tidur.

Opi: Kita ada persedian telur, mie, nasi. Cuma persediaan menipis. Warga cemas dan kawatir, warga tidak berani dateng.

Ketinggian banjir yang menggenangi rumah warga Pejaten, terutama yang berada di pinggir kali Ciliwung sudah mencapai 4 meter. Sampai-sampai salah satu posko pengungsian ikut tergenang air.

Kurangnya bantuan juga dirasakan 700an warga perumahan Puri Kartika Ciledug, Tangerang. Ketua RW 06, Nahrudin, mengaku bantuan yang diterima warga selama ini justru berasal dari warga sekitar.

Nahrudin: Kondisinya ya sangat memprihatinkan, satu karena dari pakaian yang mereka pakai hingga saat ini cuma itu saja. Mereka satu pun gak ada yang bisa menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam. Sampai sekarang pun barang-barang masih ada yang terjebak di dalam. Tiga hari ini sudah.

Banjir Jakarta membuat banyak daerah terisolir. Misalnya warga kompleks Kodamar, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kompleks yang dekat ITC Cempaka Mas itu sulit dimasuki karena arus air banjir cukup deras.

Parahnya ratusan warganya mengaku hingga hari kelima belum mendapat bantuan. Menurut salah satu pengungsi, Umar Sumartono, selain kelaparan, para pengungsi sudah mulai terjangkit demam dan diare.

Umar Sumartono: Saya sangat-sangat prihatin sekali belum ada bantuan dari pihak manapun pak, mohon bantuan dari bapak bantuan medis dan makanan kering aja, ini anak-anak ada yang kena diare, bapak-bapak kena demam, ada yang kena cacar pak, bahkan anak saya kena cacar pak.

Kurangnya bantuan makanan juga dirasakan pengungsi di Bekasi, Jawa Barat. Ketua Tim Penanggulangan Bencana Banjir di Jati Asih Bekasi, Tian mengatakan para korban banjir di Jati Asih butuh makanan dan obat-obatan.

Tian: Ketinggian air mah sudah mulai surut, tapi problemnya itu di sini kekurangan makanan dan warga sudah mulai jatuh sakit, sementara bantuan makanan belum masuk. Ini dua RW totalnya 1300 KK RW 07 dan RW 14

Tian mengatakan para relawan sudah mengusahakan bantuan ke pemerintah setempat dan pelbagai partai politik, namun hingga kini hasilnya nihil.

Urusan lain yang membuat pengungsi makin menderita adalah tiadanya tempat berteduh. Puluhan warga dua RT di kawasan kelurahan Cawang, Jakarta Timur terpaksa mengungsi di pinggir jalan. Mereka mengaku tak kebagian tempat di daerah pengungsian. Hasanah, warga Kelurahan Cawang, Jakarta Timur mengaku terpaksa tidur di pinggir jalan MT Haryono. Hasanah dan keluarganya hanya bernaung di bawah tenda plastik biru.

Hasanah: Kan poskonya dikit, ini tak bisa tidur malam, kalau malam hujan gak bisa tidur sampai sakit kita. Kita tak bisa tidur kalau malam. Kalau makan kita cuma dikasih nasi doang, ada tikar juga tak dibagi.

Selain bantuan makanan. Bantuan lain yang diperlukan adalah pakaian. Tapi Itu juga tak mudah mendapatkannya. Relawan dari Forum Warga Kota (Fakta), Sumiyati, mengatakan pengungsi di daerah Cipinang yang mencapai 700 orang butuh air bersih dan pakaian.

Sumiyati: Saat ini yang sangat dibutuhkan pakaian ya. Mereka sudah kehabisan pakaian. Terus juga untuk penerangan. Obat-obatan itu nomer satu, karena sekarang sudah mulai terkena diare, dan demam. Pada anak-anak dan juga orang tua. Apalagi semalam kan hujan lebat sekali. Mereka ada yang tidak tidur, karena tempat mengungsi itu kan tidak ada tutupnya gitu. Jadi ujan angin itu kena mereka.

Parahnya baru pada hari kelima banjir Gubernur Jakarta, Sutiyoso berencana menyiapkan tempat pengungsian dalam skala besar. Pemusatan pengungsi ini, demikian sang gubernur, memudahkan koordinasi bantuan logistik. Sutiyoso mengatakan Parkir TImur Senayan akan menjadi tempat penampungan pengungsi di Jakarta Pusat. Penanganan lokasi dilakukan pemda bersama TNI dan Polri.

Gubernur Sutiyoso: Jadi di situ memang akan diBKOkan juga anggota TNI/Polri yang akan menghandle posko itu. Tentu semuanya adalah bergabung dengan unsur-unsur Pemda. Daya tampungnya kemungkinan, ya namanya skala besar, tentunya banyak orang bisa masuk ke situ. Saya tidak bisa menyebutkan. Tentunya kita akan tambah terus tenda-tenda itu, sesuai dengan kebutuhan. Gitu. Tapi yang pasti ada dapur di situ.

Gubernur Jakarta Sutiyoso meminta bantuan organisasi sosial dikoordinasikan dengan Pemerintah Propinsi Jakarta. Alasannya penyaluran bantuan selama ini terpencar-pencar.

Sementara Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah mengakui bantuan terlambat dikirim. Menurut Bachtiar ini lantaran persoalan distribusi.

Mensos Bachtiar Chamsyah: Kalau itu lambat, distribusinya karena masuk-masuk gang. Kalaupun ada beras, mereka yang di rumah-rumah tingkat itu tidak bisa masak. Yang dibutuhkan itu yang siap saji. Kelambatan itu hanya penyaluran ke gang-gang, tidak semudah secara teoritis.

Bantuan logistik, kata Mensos sudah diberikan kepada pemerintah provinsi Jakarta berupa beras, pakaian dan mie instan.

Keterlambatan pemerintah pusat dan daerah membuat banyak pengungsi terserang penyakit. Hingga hari keempat banjir, Pos Kesehatan Pemerintah Daerah Jakarta mencatat sudah 12.600 korban berobat. Mereka umumnya menderita ISPA, nyeri sendi dan penyakit kulit.

Untuk membantu pengungsi yang sakit, Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah mengoperasikan 40 Puskesmas keliling. Tapi tak mudah bagi warga yang ingin berobat gratis. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jakarta Wibowo, warga harus membawa surat pengantar dari kelurahan sebagai bukti korban banjir.

Wibowo: Puskesmas keliling paling gak satu kecamatan satu itu. Jadi ada 40an itu. Sebenarnya sejak Jumat kemarin sudah bergerak. Cuma ada beberapa yang belum bergerak kita suruh gerakkan. Gratis. Pokoknya korban banjir yang bawa surat pengantar dari lurah, dari pos. Pokoknya ada keterangan dari situ. Atau Puskesmas Kelurahan. Kita tahu kan nanti bahwa ini warga.

Di Jakarta terdapat 213 Puskesmas, 48 di antaranya terendam banjir. Pemda Jakarta juga menunjuk 17 rumah sakit rujukan untuk menampung korban banjir yang sakit parah.

Selain kurangnya bantuan, banjir juga memunculkan kecemburuan sosial. Sejumlah warga korban banjir di Kompleks Perumahan Angkatan laut, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, menilai bantuan marinir TNI diskriminatif. Belasan perahu karet yang dikerahkan lebih mendahulukan keluarga marinir yang berpangkat tinggi. Sementara warga biasa dan keluarga TNI yang tidak berpangkat tidak dibantu.

Ruji, salah seorang warga, bercerita berkali-kali minta bantuan mengungsi kepada marinir. Namun hingga rumahnya terendam tinggi, bantuan tak kunjung datang.

Ruji: Pilih kasihlah, pilihkasih, contohnya saya mau turun di situ saya minta tolong, diangkat di situ keluarganya ya itu terus yang ditolongin, keluarga yang lain tidak.

Pengungsian warga ke tempat yang tak dilanda banjir juga bukan urusan mudah. Badan Koordinasi Bencana, Bakornas butuh perahu karet ukuran kecil untuk mengungsikan warga yang bermukim di kawasan padat penduduk. Kepala Pelaksana Harian Satuan Koordinasi Bencana Syamsul Ma’arif mengatakan tim satkorlak kesulitan masuk ke wilayah yang hanya bisa dicapai melalui gang sempit.

Syamsul Ma’arif: Bahwa perahu karet berkapasitas 8-10 orang tidak bisa masuk ke gang-gang, jadi perlu pengadaan perahu karet untuk dua orang sehinggakita bisa masuk ke wilayah yang sulit terjangkau.

Bakornas berjanji akan membantu pemerintah provinsi Jakarta mengevakuasi warga dan menurunkan bantuan logistik dari udara. Hingga kini sudah tersedia delapan helikopter dan satu super Puma TNI Angkatan Udara. Sementara itu Gubernur Sutiyoso meminta bantuan truk jenis reo yang biasa digunakan oleh TNI untuk membantu evakuasi.

Di beberapa lokasi, banjir sudah mulai surut, misalnya di kawasan Kalibata Raya, Jakarta Timur, para warga sudah mulai membersihkan rumah mereka. Namun muncul persoalan baru. Korban banjir ini bingung mengurus kembali surat-surat penting mereka yang rusak atau hilang dibawa banjir.

Para warga korban banjir di kawasan Kalibata Raya Jakarta Timur, minta agar pengurusan dokumen-dokumen yang hilang atau rusak karena banjir digratiskan. Ibu Utha Alaydruss warga Kalibata Raya meminta instansi terkait agar pengurusan KTP, Kartu Keluarga dan Ijazah yang rusak atau hilang karena banjir digratiskan, dokumen-dokumen tersebut rusak dan hilang karena bencana.

Utha Alaydruss: Nah ini ijazah sudah kecelup kaya gini niiiy kalau instansi yang bersangkutan ketika kita minta urus yang baru atau mereka bikin yang baru tolong jangan dipersulit jangan minta biaya, karena udah begini kalau dininta administrasi lagi khan berat kita, jadi tolong jangan ada administrasi lagi karena kenyataannya kayak begini.

Selain itu, para korban banjir di kawasan Kalibata Raya Jakarta Timur juga minta pemerintah daerah Jakarta segera membangun tembok besar yang kokoh di dekat aliran kali Ciliwung. Sarah, warga korban banjir Kalibata Raya Jakarta Timur juga meminta agar pemerintah Jakarta rutin mengeruk kali Ciliwung untuk menghindari air meluap pada musim hujan.

Sarah: Kita menghimbau tuh tolong kali diperhatikan kalau bisa ditembok tinggi biar air gak tumpah kesini, itu tolong minta kali diperhatikan jangan kalau udah begini baru digaruk, kita ini sudah bosan, sudah bosan bukan udah berapa kali sudah bosan sudah capek.

Hampir sepekan banjir melanda Jakarta dan sekitarnya. Masalah baru terus bermunculan. Tidak sigapnya pemda mencegah dan menangani banjir membuat puluhan orang dari solidaritas rakyat untuk korban banjir, Selasa siang mendemo kantor Gubernur. Mereka kini tengah mempersiapkan gugatan terhadap Gubernur DKI Jakarta terkait kegagalan Sutiyoso mengantisipasi banjir dan dampaknya.

Feri dari Solidaritas Rakyat untuk Korban Banjir mengaku sedang mendata para korban serta kerugian materi warga.

Feri: Kami sudah menginventarisir data di beberapa kelurahan. Dari pihak mana masyarakat mencoba untuk melakukan ini, kami minta untuk dalam waktu berapa lama setelah air surut ke depan, kita akan coba melihat berapa kerugian material dan imaterial yang dialami oleh masyarakat.

Beberapa hal akan dipersoalkan Solidaritas Rakyat untuk Korban Banjir, kata Feri. Misalnya kebijakan pemerintah dalam merencanakan pembangunan dan dampak sosial perencanaan pembangunan itu. Yang jelas pemerintah daerah Jakarta akan terus menghadapi masalah, walau pun mungkin kelak ibukota itu sudah tidak banjir lagi.

Tim Liputan KBR68H Melaporkan untuk Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum

sumber: From: Radio Nederland Berita list manager
Subject: Warta Berita – Radio Nederland, 08 Februari 2007