Banjir Kanal Timur

Alkisah, Jakarta sudah punya gubernur baru.

Berbeda dengan gubernur lama yang tidak tahu apa-apa soal banjir lima-tahunan (maklumlah, frase “lima tahun” hanya akan mengingatkannya pada masa jabatan), gubernur yang satu ini sangat tidak ingin Jakarta kembali berubah jadi Venesia. Dia sangat tidak ingin penduduk Jakarta kembali mesti tinggal di atas atap rumah, sementara air meluap hingga setinggi tiang telepon. Maka dalam rapat koordinasi pertamanya, sang Gubernur memutuskan mempercepat pembangunan Banjir Kanal Timur, sebagai jalur air.

“Sudah sewajarnya dong,” katanya kepada wartawan, “kita memikirkan *waterway*, jangan cuma *busway*”.

Waktu pun berlalu begitu cepat, dan penduduk Jakarta kini kembali berhadapan dengan musim banjir lima-tahunan. Dari Bendung Katulamba dikabarkan, tinggi muka air sudah di atas normal. Orang pun cemas. Makanan sudah ditumpuk, perahu karet sudah dipompa. Yang tetap tenang cuma Gubernur. Dia begitu yakin pada *waterway*-nya.

Lantas apa yang terjadi? Jakarta kembali digulung banjir. Gubernur seperti ditampar di muka. Apalagi Banjir Kanal Timur gagal total. Bukannya menyalurkan air limpasan, ia malah dilanda banjir juga. Bisa ditebak, Gubernur tak dipilih lagi.

Maka Jakarta pun kembali punya gubernur yang baru. Tak mau terjungkal gara-gara banjir, gubernur yang baru ini sangatlah menaruh perhatian besar kepada masalah di Banjir Kanal Timur. Pada hari-hari awal dia berkuasa, dipanggilnya semua insinyur, teknisi, konsultan dan semua pihak untuk membahas soal banjir.

“Katakan pada saya, apa yang salah dari Banjir Kanal Timur? Mengapa ia tak berfungsi sebagaimana mestinya? Malah ikut banjir?”

Mereka semua terdiam seribu bahasa, pertanda tidak tahu. Tapi tentu kita (anda, saya, dan sidang milis ini yang lain) dapat dengan mudah mengetahui di mana salahnya.

Kita, yang kebetulan melek pada saat pelajaran Bahasa Indonesia (dan karenanya mengerti perbedaan frase DM dan MD), akan bilang begini pada mereka:

Mana lebih tepat menurut Bapak — Banjir Kanal Timur atau *Kanal Banjir Timur*?

——
Ikram Putra
(meniru gaya Mas Farid Gaban dalam “Bedah Republik”)
http://kramput.blogspot.com