Bantaran Sungai Ciliwung Harus Ditata
Laporan Wartawan Kompas Ester Lince Napitupulu

JAKARTA, KOMPAS – Penataan permukiman warga di sepanjang bantaran hingga badan sungai Ciliwung sudah tidak bisa ditawar lagi untuk mengendalikan banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang dilalui sungai yang berhulu di wilayah Puncak, Bogor, Jawa Barat itu. Jika penataan berhasil dilakukan, setidaknya 70 persen persoalan banjir di wilayah yang dilalui daerah aliran Sungai Ciliwung, terutama di Jakarta, akan teratasi.

Hal ini dikatakan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Pitoyo Subandrio, di Jakarta, Rabu (7/2). Akibat bantaran Sungai Ciliwung yang dikuasai masyarakat, pemeliharaan sungai tidak bisa dilakukan. Sungai terus menyempit dan mendangkal karena dipenuhi sampah, diserobot bangunan, dan sedimentasi.

“Pengerukan sungai saja tidak bisa dilakukan karena alat-alat berat tidak bisa masuk. Tidak ada jalannya. Selain itu, petugas juga mendapat tentangan dari masyarakat yang rumahnya sudah sampai mengambil badan sungai,” ujar Pitoyo.

Pitoyo menjelaskan untuk mengatasi banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya tidak bisa hanya mengedepankan masalah teknis. Masalah sosial yang berkaitan dengan masyarakat juga perlu dipikirkan.

“Tugas pemerintah daerah untuk menata masyarakat di bantaran itu. Sebab banyak juga masyarakat yang tinggal di sana yang memiliki girik dan sertifikat. Tetapi tentu saja upaya penataan itu perlu dilakukan dengan memperhatikan nasib masyarakat kecil yang umumnya tinggal di sana,” kata Pitoyo.

sumber: http://www.kompas.com/ver1/Metropolitan/0702/07/111739.htm, Rabu, 07 Februari 2007 – 11:17 wib