Air Itu Datang seperti Tsunami…

Imam Hanafi (39), Jumat (9/2) siang itu, sibuk mengumpulkan reruntuhan bata rumahnya. Bangunan tersebut ambruk akibat terjangan air Sungai Citarum yang berada beberapa meter di belakang rumahnya di RT 1 RW 1 Desa Kuta Ampel, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Kemarin air sungai itu sudah surut. Namun, tanah di sekitarnya masih sangat becek sehingga kaki bisa terpelosok jika tidak hati-hati berjalan.

Tanggul tanah di belakang rumah Imam yang selama 25 tahun terakhir mampu menahan terjangan air Sungai Citarum akhirnya jebol Senin dini hari lalu. Persisnya pada pukul 01.00. Jarak tanggul itu dengan Sungai Citarum sekitar 100 meter.

Imam masih ingat betul tentang detik-detik jebolnya tanggul tersebut. Naiknya permukaan Sungai Citarum mulai terlihat pada hari Jumat (pekan lalu) ketika hujan berlangsung deras. Saat permukaan air naik, dia berupaya memperkuat tanggul dengan cara menaruh karung-karung tanah di atasnya.

Namun, air Sungai Citarum ternyata terus meninggi. Minggu malam bahkan telah menyentuh bibir tanggul. Istri dan kedua anaknya segera diungsikan ke jalan raya Batujaya yang lebih tinggi, tetapi Imam masih bertahan di rumahnya sambil terus memerhatikan naiknya permukaan Sungai Citarum.

Senin dini hari, pukul 01.00, tiba-tiba ada kebocoran di bagian bawah tanggul sehingga air pun menggenang rumah Imam. Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar suara keras. “Blegur!” tutur Imam menirukan suara terjangan air tersebut, yang terdengar hingga jalan raya yang berjarak sekitar 200 meter.

Imam yang sering menonton tayangan tsunami di Aceh menjelaskan, “Kira-kira seperti tsunami air Sungai Citarum menerjang rumah saya,” katanya.

Ia bahkan menyaksikan air menggenangi rumahnya hingga atap atau sekitar tiga meter. Karena tidak bisa berenang, Imam berpegangan pada dahan pohon yang banyak terdapat di situ. “Saya ingin menyaksikan detik-detik terakhir rumah saya,” tutur suami Boni itu.

Menurut pengakuan Imam, rumah tersebut dibangunnya delapan bulan lalu. Namun, terjangan Sungai Citarum telah mengakibatkan rumah berukuran 9 meter x 6 meter itu kini rata tanah. Yang memprihatinkannya, biaya pembangunan rumah sebesar Rp 25 juta merupakan hasil pekerjaannya sebagai petani dengan sistem maron atau bagi hasil.

Akibat banjir itu, tak ada lagi yang tersisa. “Baju pun tidak ada,” keluh Boni.

RT 1 RW 1 Kelurahan Kuta Ampel didiami 300 keluarga. Dua rumah yang ada di sana kini rata tanah, yaitu rumah Imam Hanafi dan rumah Kusnadi. Rumah lainnya tenggelam oleh banjir Sungai Citarum.

Perbaiki tanggul

Kemarin Dinas Bina Marga Kabupaten Karawang mulai memperbaiki tanggul di belakang rumah Imam. Kepala Dinas Bina Marga Karawang Iyet Dimyati mengawasi langsung pembuatan tanggul tanah tersebut. Dengan bantuan alat berat backhoe dan puluhan tenaga kasar, karung-karung tanah itu diletakkan pada tanggul yang jebol.

“Ini bukan pembangunan. Ini hanya antisipasi supaya kalau air Sungai Citarum naik lagi tidak banjir,” kata Iyet.

Abdul Rosyid, warga Desa Tangkil, Batujaya, merupakan satu di antara 40-an warga yang dilibatkan ikut “menambal” tanggul yang jebol di Kuta Ampel tersebut. Sejak dua hari terakhir ini mereka mengisikan tanah ke sedikitnya 3.000 karung, kemudian mengikat erat karung dengan rafia dan menumpukkannya ke tanggul Sungai Citarum yang jebol. (BUR/CAS)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/10/metro/3306026.htm, Sabtu, 10 Februari 2007