Jakarta, Kampung Besar
TAJUK RENCANA KOMPAS

Sudah lama kita mendengar sebutan itu. Sekarang ketika banjir besar melanda Ibu Kota, semakin yakinlah kita, Jakarta memang sebuah kampung besar.

Kota Metropolitan yang selalu didengungkan sepertinya sebutan terlalu tinggi. Dilihat dari perilaku warga, pengaturan tata kota, dan manajemen pemerintahannya, Jakarta lebih cocok disebut sebagai kampung besar.

Selama seminggu banjir melanda Jakarta, kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan seperti kehilangan akal. Bahkan untuk menyelamatkan warga yang terjebak banjir dibutuhkan waktu sampai lima hari. Mengapa? Karena tata kota berbentuk gang-gang sempit sehingga tidak memungkinkan perahu karet bisa bebas bergerak menyelamatkan warga.

Ketika kita mencoba mencari tahu penyebab banjir besar ini, faktornya bukan hanya sistem pengendalian banjir serta tata kota yang amburadul, tetapi juga karena ketidakmampuan kita menjaga lingkungan. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, menjadikan sungai sebagai pembuangan sampah, merupakan cerminan bahwa kita bukanlah orang metropolitan, yang paham akan kewajiban dan tanggung jawab sebagai warga.

Sekarang ketika banjir sudah terjadi dan kita harus mengendalikan keadaan, terasa betapa manajemen pemerintahan amburadul. Bagaimana ada seorang camat tidak mengerti akan daerah, tidak tahu akan warganya. Ia meminta bantuan. Tetapi ketika dikejar bantuan apa yang dibutuhkan dan berapa banyak, semua tidak terjawab karena ia jauh dari warganya.

Dengan kondisi seperti itu, wajar saja kalau sampai sepekan bencana terjadi keadaan tetap tidak terkendali. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri-sendiri. Kalaupun ada yang berinisiatif turun tangan, tidak ada koordinasi. Semua berjalan sporadis sesuai inisiatif yang dimiliki.

Apalagi kemudian terasa kuat wacana pemisahan tanggung jawab antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Ada pejabat yang menganggap semua ini sebagai sesuatu yang biasa, bukan sebuah kiamat, karena melihat warga masih bisa tertawa-tawa. Padahal, 70 persen ibu kota negara dilanda banjir sehingga akibatnya bukan hanya seluruh kota lumpuh, tetapi negeri ini goyah. Perekonomian negara ini terhenti beberapa hari.

Kini kita lihat betapa warga semakin menderita. Sepekan tanpa ada penanganan yang terkoordinasi secara baik membuat banyak warga jatuh sakit. Infeksi saluran pernapasan dan diare hanyalah beberapa penyakit yang dialami warga. Sementara jumlah orang yang meninggal sudah melewati angka 50.

Masihkah kita menganggap semua itu sebagai peristiwa kecil dan biasa-biasa saja? Kalau ya, kita memang belum pantas menjadi warga dunia modern. Kita hanyalah kumpulan orang tradisional yang mencoba bergaya seperti orang modern. Tidak sepantasnya Jakarta, tempat tinggal 10 juta warga, menyatakan diri sebagai kota metropolitan, lebih tepat disebut kampung besar.

Kita tidak boleh marah dengan itu. Kita harus mengubah perilaku kita dan memenuhi persyaratan yang dibutuhkan kalau memang ingin digolongkan sebagai golongan masyarakat dunia yang modern.

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/09/opini/3302804.htm, Jumat, 09 Februari 2007