Kerugian UMKM Rp 3,1 Triliun
Ditunggu Langkah Nyata Perbankan Meringankan Beban Debitor Kecil

Jakarta, Kompas – Potensi kerugian usaha mikro, kecil, dan menengah atas terhambatnya transaksi penjualan selama empat hari dilanda banjir diperkirakan mencapai Rp 3,1 triliun. Untuk itu diperlukan langkah nyata perbankan guna memberikan kelonggaran agar pelaku UMKM bisa kembali bangkit.

Jumlah koperasi di Jakarta yang hancur akibat musibah banjir diperkirakan sebanyak 60 unit, dengan nilai kerugian mencapai Rp 6 miliar.

Demikian pernyataan Kepala Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta Mara Oloan Siregar di sela-sela persiapan peresmian gedung UKM Center di Jakarta, Jumat (9/2) sore.

Mara menegaskan, perhitungan itu masih bersifat sementara karena sejak banjir melanda, pihaknya baru hari ini menginventarisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang hancur. Perhitungan ini pun baru sebatas UMKM yang masuk binaan Dinas Koperasi dan UKM DKI Jakarta.

Dalam satu hari, potensi kerugian yang dialami oleh pedagang kaki lima (PKL) non-resmi akibat tidak bisa bertransaksi diperkirakan mencapai Rp 8 miliar, PKL resmi yang masuk kategori kelompok binaan pemerintah Rp 38 miliar, kelompok usaha kecil Rp 421 miliar, dan usaha menengah Rp 308 miliar. Dengan demikian, total kerugian diperkirakan Rp 775 miliar per hari.

“Jika dampak banjir itu membuat mereka tidak bisa jualan selama 4 hari, totalnya sekitar Rp 3,1 triliun,” ujar Mara.

Perhitungan kerugian itu masih bersifat sementara karena jumlah PKL di lokasi resmi yang berada di DKI mencapai 16.766 orang dan PKL di lokasi yang tidak resmi diperkirakan mencapai 75.985 orang.

Kerugian itu belum termasuk akumulasi kerusakan sarana yang dialami UKM dan PKL di lokasi binaan Dinas Koperasi dan UKM sebesar Rp 285,8 juta, stok barang Rp 244,45 juta, dan kehilangan pungutan retribusi pemerintah Rp 121,818 juta.

Proses pemulihan

Menurut Mara, proses pemulihan pascabanjir tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Akan tetapi, juga diperlukan peran serta kalangan perbankan dalam bentuk melonggarkan pengembalian kredit pelaku atau memberikan pinjaman lunak.

“Bank Indonesia sebaiknya juga mengimbau perbankan untuk memberikan keringanan pengembalian utang dalam jangka waktu tertentu,” kata Mara.

Kebijakan BI itu sangat diperlukan oleh pelaku UMKM karena alat produksi, bahan baku, dan produk yang mereka hasilkan sudah rusak terendam banjir.

Dikhawatirkan para pengusaha UMKM yang menjadi korban banjir tidak bisa ikut pameran pada saat pembukaan gedung UKM Center di Tanah Abang, 2 Maret mendatang. Padahal, pada saat perekrutan Januari lalu ada sekitar 400 pengusaha UMKM yang akan ikut pameran.

Kepala UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Nining I Soesilo mengatakan, aspek permodalan memang sangat diharapkan pelaku usaha. Namun, belajar dari pengalaman krisis moneter 1998, pelaku UMKM sebetulnya memiliki semangat kewirausahaan.

“Untuk bertahan hidup biasanya UMKM memiliki kecenderungan untuk bangkit lagi. Oleh sebab itu, semangat kewirausahaan yang dimiliki olah para korban banjir perlu diperkuat kembali,” ujar Nining.

Kerugian industri

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia Eddy Widjanarko menjelaskan, berdasarkan pendataan, total kerugian industri sepatu akibat banjir pekan pertama Februari ini mencapai 25 juta dollar AS.

“Itu kerugian akumulasi, mencakup penghentian produksi selama sepekan, biaya penggantian hasil produksi yang rusak, sekaligus penggantian bahan baku dan bahan pendukung yang rusak,” kata Eddy.

Dari sekitar 70 pabrik sepatu yang terdapat di wilayah DKI Jakarta, Tangerang, dan sekitarnya, separuh di antaranya mengalami masalah produksi karena banjir. Tujuh pabrik terendam mesin produksinya, selebihnya akses menuju pabrik tertutup, atau karyawannya yang tidak dapat bekerja karena rumahnya kebanjiran. (OSA/DAY)

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/10/ekonomi/3305845.htm, Sabtu, 10 Februari 2007