PEMERINTAH HIDUPKAN LAGI RENCANA SODETAN CILICIS

Sekretaris Jenderal Departemen Pekerjaan Umum (PU) Roestam Sjarief mengatakan pemerintah akan menghidupkan kembali rencana pembuatan sodetan yang menghubungkan antara Sungai Ciliwung Cisadane (Cilicis). Sodetan tersebut diharapkan dapat mengendalikan volume aliran air dari Ciliwung ke Cisadane saat musim hujan.

“Pemerintah daerah Banten sudah terbuka terhadap rencana sodetan ini,” ucap Sekjen usai membuka Rapat Kerja Departemen PU di Jakarta, Kamis (08/02).

Roestam Sjarief mengatakan pemerintah Banten yang sebelumnya menolak kini sudah bisa menerima rencana tersebut. Hal ini mengingat fungsinya selain untuk mengendalikan banjir, sodetan Cilicis ini bisa menjadi sumber alternatif penyediaan air saat musim kemarau tiba.

Pemerintah nantinya membangun dua tunnel (terowongan) di daerah hulu yang menghubungkan kedua sungai tersebut. Setiap tunnel yang panjangnya sekitar 900 meter mempunyai kapasitas 300 m3 per detik.

“Bila dibangun dua tunnel, maka Sungai Cisadane akan bisa menampung 600 meter kubik per detik. Jumlah ini sangat siginfikan untuk mengendalikan banjir DKI,” terangnya.

Roestam Sjarief menjelaskan pengendalian banjir di ibukota identik dengan upaya mengendalikan Ciliwung. Karena itu, selain menghidupkan kembali rencana sodetan Cilicis, pemerintah juga akan mengkaji rencana induk pengendalian banjir Jakarta yang bersifat komprehensif yang pernah dibuat pada 2002.

Menurut Sekjen Departemen PU, rencana induk pengendalian banjir merekomendasikan action plan yang sangat komprehensif dan bersifat lintas sektoral. Rencana tersebut secara umum berisikan empat aspek yaitu bidang tata ruang, prasarana kota seperti drainase, pengelolaan sumber daya air, dan pemberdayaan masyarakat.

“Departemen PU telah bertemu dan membahas dengan berbagai instansi yang terlibat dalam rencana tersebut” ujar Roestam

Untuk merealisasikan keempat program tersebut dibutuhkan biaya Rp. 16,4 triliun. Jumlah tersebut termasuk dana untuk membangun BKT. Namun Roestam mengatakan perhitungan tersebut dilakukan pada 2002, sehingga besar kemungkinan dana tersebut akan meningkat.

Dalam rencana induk tersebut, masalah penaataan ruang yang sebelumnya hanya menyangkut Bogor, Puncak, dan Cianjur (Bopunjur) akan diperluas menjadi Bogor, Tangerang, Bekasi (Botabek) dan Bopunjur. Sehingga akan menghasilkan tata ruang yang sifatnya lebih terintegrasi.

Raker Departemen PU

Sementara itu saat membuka Raker Departemen PU Sekjen mengajak seluruh jajaran Departemen PU, pelaksana balai/UPT. Para Kepala Dinas PU untuk mendukung percepatan pembangunan prasarana PU yang handal dan akuntabel. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan sistem pengelolaan anggaran berbasis efisiensi dan efektivitas yang berorientasi pada manfaat.

Tujuan Raker tahun ini, diantaranya sosialisasi kebijakan Departemen PU dalam rangka dekonsentrasi, sinkronisasi dan konsolidasi rencana dan program pembangunan 2007, serta penyusunan dan penetapan sasaran kinerja kegiatan baik yang dilimpahkan maupun yang dilakukan sendiri oleh Departemen PU. (rnd)

Pusat Komunikasi Publik 080207

sumber: http://www.pu.go.id/index.asp?link=Humas/news2003/ppw080207rnd.htm