“Safari” Banjir di Layar Kaca
SUSI IVVATY & CHRIS PUDJIASTUTI

Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya membuat stasiun-stasiun televisi berkompetisi menyajikan informasi sebanyak dan sedramatis mungkin. Di sini termasuk menyiarkan kunjungan para pejabat ke wilayah banjir. Itulah tontonan yang mendominasi televisi sekitar seminggu terakhir.

Seakan tengah menonton “safari” banjir, pemirsa disuguhi gaya masing-masing pejabat saat mereka menyapa rakyat yang menjadi korban banjir. Pemirsa menonton bagaimana pejabat yang satu sibuk dengan telepon selulernya, sedangkan pejabat lain disorot kamera sedang melintasi genangan air setinggi betis.

Nyaris setiap hari ada saja pejabat atau anggota DPR yang menyambangi kawasan banjir. Meski “aktornya” setiap kali berbeda, pemirsa tidak bingung atau kesulitan membedakan mana sang pejabat dan mana para korban banjir.

Layaknya menonton sinetron, ada perbedaan antara karakter pemeran satu dengan lainnya, di antaranya melalui kostum dan bahasa tubuh. Para korban banjir berwajah lusuh, berpakaian seadanya, dan basah pula. Sementara pejabat yang berkunjung memakai baju safari atau setidaknya hem yang licin, lengkap dengan topi (kalau hujan, masih disertai orang yang memayungi mereka) dan bersepatu bot.

Seakan sudah diatur sutradara, maka gemericik air ketika korban banjir berjalan dengan bergegas pun terasa berbeda bunyinya dibandingkan saat para pejabat dengan tenang dan gagahnya menerjang banjir. Kalau para korban banjir berusaha tersenyum, bahkan tertawa, karena di tengah penderitaan itu wajahnya bisa muncul di layar kaca, maka pejabat menampilkan ekspresi prihatin.

Selama masa banjir itu, beramai-ramai para pejabat muncul di layar kaca. Dengan kalimat yang berbeda, mereka umumnya menyalahkan alam sebagai penyebab banjir. Mereka yang muncul dari Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Gubernur DKI Sutiyoso ditemani sang istri, sampai calon Gubernur DKI Sarwono Kusumaatmadja dan Adang Daradjatun yang menyalami sebagian korban banjir.

Sensasional, tak bermanfaat

Di tengah hiruk-pikuk berita banjir itu, muncul pula Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan A Djalil bersama kru sebuah stasiun televisi. Mereka berperahu karet mengunjungi kawasan korban banjir. Tak cukup melempar senyum dan melambaikan tangan, Sofyan Djalil pun disorot kamera saat membeli mi instan, mengeluarkan uang dari kocek, dan membagikannya kepada beberapa korban.

Adakah semua tontonan itu merupakan bentuk empati pejabat kepada korban banjir? Ataukah ini “contoh” bagi rakyat agar mengikuti apa yang dilakukan pejabat? Kemungkinan lain, inikah salah satu tontonan “safari” banjir?

Tak ada jawaban seragam. Satu hal pasti, apa yang muncul di televisi lalu menjadi pembicaraan orang dengan berbagai interpretasi. Dedy N Hidayat, pengajar Program Pascasarjana Komunikasi FISIP UI, malah melihat hal itu tak sekadar sebagai sebuah peristiwa banjir. Akan tetapi, banjir di layar kaca pun berkembang dalam konteks yang lebih luas.

“Banjir malah jadi panggung sebagian pejabat untuk menampilkan diri. Padahal yang jauh lebih penting untuk ditonjolkan adalah kebijakan penanganan banjir, apa yang sudah dilakukan. Bagi mereka seolah-olah lebih penting muncul di daerah banjir dibanding mengurus kebijakan mengatasinya. Sesuatu yang lebih makro dan membutuhkan kerja yang ’sunyi’,” kata Dedy.

Meskipun begitu, Dedy mengakui, unsur visual dan sudut pengambilan kamera yang dramatis, seperti saat pejabat menggulung celana panjangnya dan masuk ke genangan banjir, bisa menjadi tontonan yang sensasional. Namun, ini jelas tak ada manfaatnya bagi korban banjir.

“Memang tak semua tayangan banjir seperti itu. Ada pula yang menampilkannya secara cerdas, seperti mengaitkan banjir dengan pasar uang dan masalah kesehatan,” ujar Dedy.

Diingatkannya, stasiun televisi sebaiknya tak terjebak menjadi “ajang” tampil diri seseorang dan meninggalkan informasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/11/hiburan/3307310.htm