Ujung-ujungnya Soal Mental

Rabu (7/2) sore itu, langit Jakarta pucat sehabis gerimis. Banjir telah membuat permukiman di pinggiran Sungai Krukut di kawasan Benhil semakin semrawut. Dari atas jembatan, Bianpoen menatap bantaran sungai yang diluruskan dan ditutup beton.

“Banjir ini jadi bukti, pemerintah tak mau menjaga keseimbangan alam dan tak memihak kepentingan rakyat,” katanya.

Penanganan banjir yang tidak jelas menunjukkan rendahnya moralitas birokrasi. Orang-orang pemerintahan itu pintar dan bisa mempelajari akar masalah banjir serta penanggulangannya. Tetapi, mereka hanya berpikir kekuasaan, proyek, dan cenderung korup.

“Jadi, masalahnya berujung pada soal moral, hati nurani yang rusak,” katanya.

Bagaimana mengontrol kebijakan pemerintah yang merusak lingkungan?

Gugatan clash action atas musibah banjir sebagai akibat kelalaian pemerintah, itu bagus. Tak hanya Gubernur DKI Jakarta yang gagal membangun drainase, tetapi juga Gubernur Jawa Barat yang dituntut bertanggung jawab atas rusaknya kawasan daerah aliran sungai (DAS) di Puncak, Bogor.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat?

Masyarakat perlu membentuk opini publik. Publik bersama perguruan tinggi, LSM, yayasan, bergabung membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan. Hanya kelas menengah, civil society, ini yang bisa diharapkan mengubah keadaan.

Pemerintah DKI punya Komite Evaluasi Lingkungan Kota (KELK) yang bertugas memberi masukan soal lingkungan hidup. Pengamat lingkungan dari perguruan tinggi sudah memberi masukan, tapi tidak ada tanggapan.

Tapi, sebagian masyarakat menerima saja banjir ini?

Sifat orang Indonesia memang cenderung pasrah menerima banjir sebagai musibah. Padahal, banjir ini parah akibat kegagalan pemerintah menjaga DAS di hulu, membuat drainase di Jakarta, dan menjaga tata ruang kota.

Sebagian masyarakat malah apatis karena menemui jalan buntu. Pemerintah tidak mau belajar dari sejarah. Begitulah, salah demi salah bertumpuk-tumpuk, dan rakyat jadi korban.

Gerakan lingkungan butuh perjuangan. Kalau semua unsur civil society mau bersatu, menyeragamkan pikiran, dan membentuk kekuatan yang solid, maka barangkali akan terjadi perubahan juga. (IAM)

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/11/persona/3307683.htm