Setelah Banjir Berlalu, DBD Merebak Lagi
Pasien Leptospirosis Bertambah Satu Orang

jakarta, kompas – Pasca banjir Jakarta, jumlah pasien demam berdarah meningkat tajam. Minggu (11/2), terdapat 608 pasien DB atau melonjak 150 pasien dibanding Sabtu (10/2), dua diantaranya meninggal. Selain DB, pasien diare dan leptospirosis juga meningkat, pasien terpaksa dirawat di selasar rumah sakit.

“Dua pasien DB yang meninggal sepanjang akhir pekan kemarin berasal dari Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Total jumlah pasien DB se-DKI Jakarta dari Januari hingga Februari mencapai 3.066 orang dan 10 diantaranya meninggal,” kata Kepala Bidang Pemasaran Sosial dan Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tini Suryanti, Minggu.

Peningkatan pasien DB tampak di beberapa rumah sakit, antara lain, Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, RS Pelni Petamburan, serta RS Cipto Mangunkusumo.

Di RSUD Tarakan, terutama di lantai tiga hingga delapan dipenuhi pasien berbagai penyakit terutama demam berdarah dan diare yang menempati selasar rumah sakit karena tidak tertampung di ruang rawat inap. Pasien yang dirawat di RSUD Tarakan lebih banyak anak-anak berusia antara empat bulan hingga 12 tahun.

“Penambahan pasien DB normalnya, antara 10 – 15 orang per hari. Sabtu lalu, jumlahnya meningkat hingga 28 orang dan Minggu mencapai 34 orang,” kata petugas jaga RSUD Tarakan Endah Cipto.

Menurut Endah, sepanjang akhir pekan memang terjadi lonjakan jumlah pasien DB seiring dengan meningkatnya pasien korban banjir dan diare. Minggu kemarin, terdapat 97 korban banjir dengan berbagai penyakit dan 101 pasien diare.

Diare

Selain DB, diare adalah penyakit yang amat diwaspdai pada pasca banjir ini. Peningkatan pasien diare se-DKI Jakarta, baik dari korban banjir maupun bukan amat tinggi, yaitu Jumat (9/2) 115 pasien, melonjak 355 orang Sabtu (10/2), dan menjadi 395 orang, Minggu kemarin.

“Anak saya baru dibawa ke RSUD Tarakan Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 setelah dua hari penuh diare dan panas tinggi. Ternyata, di rumah sakit sudah penuh orang sehingga terpaksa dirawat di selasar. Yang penting dapat perawatan dan pengobatan,” kata Selvi (28) yang sedang menunggui anaknya, Oki (4 bulan).

Meski dirawat di selasar dengan tempat tidur darurat, semua pasien mendapat perawatan medis memadai, termasuk pemeriksaan rutin dari dokter khusus anak dan perawat, pengecekan infus, serta makanan dan kelengkapan tempat tidur seperti selimut dan bantal.

Tini Suryanti menambahkan, semua pasien korban banjir dan DB mendapat perawatan dan pengobatan gratis asalkan membawa rujukan dari puskesmas tempat asal pasien atau dari posko kesehatan setempat.

Leptospirosis

Leptospirosis juga masih mengancam. Menurut Tini, pasien yang terjangkit leptospirosis bertambah satu orang lagi yang sekarang dirawat di RSUD Cengkareng, yaitu Hanim (70) asal Kelurahan Semanan, Kali Deres, Jakarta Barat.

Total pasien terjangkit leptospirosis menjadi empat orang, yaitu Sarnata (61) dan Tabrani (44) dirawat di RSUD Tarakan serta dua orang lainnya, termasuk Hanim, dirawat di RSUD Cengkareng.

Pantauan Dinas Kesehatan DKI Jakarta hingga Minggu, keempat pasien leptospirosis cederung membaik, bahkan Tabrani sudah diperbolehkan pulang. (nel)

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/12/utama/3308366.htm, Senin, 12 Februari 2007