Habis Banjir, Terbitlah Utang
Maryadi – detikcom

Jakarta – Banjir memang telah surut. Namun surutnya air bukan berarti masalah selesai. Persoalan pascabanjir pun terus merundung para korbannya. Mulai dari penyakit, rumah penuh lumpur dan sampah, jalan rusak dan juga utang.

Kenapa utang? Di masa sulit seperti ini, utang melalui program cicilan dan belanja memakai kartu kredit dianggap sebagai cara yang cepat dan mudah untuk mengganti barang-barang yang rusak akibat banjir, walaupun belakangan nanti akan dibebankan bunga yang mencekik leher.

Barang yang rusak yang harus cepat diganti biasanya berupa barang elektronik dan perabotan rumah tangga yang hampir tidak mungkin digunakan kembali jika sudah terendam lumpur dan air.

Perabotan rumah tangga itu biasanya seperti kasur dan sofa. Kedua perabotan ini memang bisa dikeringkan namun prosesnya akan sulit dan memakan waktu. Bau yang ditimbulkan pun tak mudah dihilangkan.

Agus, warga Duri Kosambi, Jakarta Barat, yang rumahnya terendam banjir hingga menutupi atap rumahnya harus pasrah mengalami kenyataan ini. Semua barang elektroniknya seperti televisi, kulkas, stereo set dan peralatan elektronik lainnya rusak akibat terendam banjir hingga sepekan.

“Waktu itu banjir cepat sekali naik. Kita bingung mau taruh di mana itu barang, apalagi rumah kami tidak berlantai 2,” kata Agus, saat ditemui detikcom di salah satu hipermarket di kawasan Puri Kembangan.

Makanya, Agus pun mulai memborong peralatan elektronik yang dinilainya sangat dibutuhkan saat ini. Dia tak segan-segan merogoh kartu kreditnya yang limitnya masih cukup untuk membeli televisi, kulkas dan barang elektronik lainnya. “Berutang dulu nggak apa-apalah. Asal kita bisa nonton TV,” tuturnya.

Meskipun ukuran televisinya lebih kecil dari yang terkena banjir, Agus pun mengaku tidak terlalu mempersoalkannya. “TV saya 21 inch kalau direparasi biaya akan lebih mahal. Saya sudah bawa ke tempat servis. Makanya mending beli aja,” jelas Agus.

Lain Agus, lain juga Winda. Ibu muda ini tengah bersama suaminya mencari kasur pegas atau spring bed. “Kasur saya habis terendam. Kita udah coba cuci dan keringkan ternyata baunya nggak bisa hilang,” keluh Winda.

Dia pun memilih untuk membeli sebuah kasur yang baru. Kebetulan spring bed yang terendam banjir kualitasnya kurang bagus. Makanya dia membeli yang lebih bagus dari sebelumnya. “Kita belinya nyicil aja dulu deh,” kata warga Kedoya ini.

Winda tak sempat menyelamatkan kasur tercintanya yang dibeli tak lama setelah menikah. Untunglah barang-barang lainnya seperti elektronik sudah bisa diselamatkan. “Kasur sama lemari kita udah rusak berat. Lemari karena bahannya pake particle board jadi kalau kena air jadi lapuk,” tuturnya.

Apa yang Anda lakukan setelah banjir surut? Ceritakan pada kami pada redaksi@staff.detik.com.(mar/nrl)

sumber: http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/12/time/100438/idnews/740953/idkanal/10, 12/02/2007 10:04 WIB