Kerugian Banjir Diperkirakan Rp 8 Triliun
Senin, 12 Pebruari 2007 | 19:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan kerugian akibat bencana banjir, yang melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) sejak 1 Februari lalu, mencapai Rp 8 triliun.

Direktur Perkotaan, Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas Luky Eko Wuryanto menuturkan, nilai itu merupakan hasil sementara dari kompilasi data yang diperoleh hingga, Minggu (11/2) lalu. “Ini perhitungan versi Bappenas dari beberapa sumber,” kata dia di Jakarta, kemarin.

Dari jumlah Rp 8 triliun tersebut, Luky merinci, kerugian dari rumah penduduk yang rusak sebesar Rp 1,7 triliun, dan infrastruktur Rp 600 miliar. Sementara, kerugian dari sektor industri, perbankan serta usaha kecil menengah diperkirakan mencapai Rp 2 triliun. Berikutnya, kerugian fasilitas sosial, seperti sekolah, rumah ibadah, sarana kesehatan, mencapai Rp 4,8 miliar. “Masih ada lagi kerugian lain-lain sekitar Rp 3,6 triliun,” kata Luky.

Dia menambahkan, Bappenas belum merinci kerugian berdasarkan wilayah. Namun, dia memastikan, Bappenas akan terus mengevaluasi angka kerugian yang sebenarnya.

Pemerintah kemarin memutuskan memberikan beras gratis kepada korban banjir sebanyak Rp 10 kilogram per orang per bulan. Beras tersebut akan diberikan selama dua bulan. Keputusan itu merupakan hasil rapat kabinet terbatas yang membahas penanggulangan korban pascabanjir. Rapat ini dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, untuk wilayah DKI Jakarta saja sedikitnya dibutuhkan enam ribu ton beras, dengan asumsi korban banjir mencapai 300 ribu. Beras tersebut diambil dari milik Departemen Sosial yang disimpan di gudang Dolog Jakarta. “Beras gratis segera dibagikan,” ujarnya setelah rapat kabinet.

Aburizal menambahkan, beras gratis tidak cuma untuk korban banjir. Bantuan serupa juga akan diberikan kepada korban bencana alam seperti gempa, tanah longsor di seluruh tanah air. Agus Supriyanto | Sutarto | Muhammad Nur Rochmi

sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2007/02/12/brk,20070212-93047,id.html