Permukiman Kebanjiran Lagi

JAKARTA, KOMPAS – Hujan deras sejak Selasa pagi (13/2) di Depok dan sebagian wilayah Jakarta Selatan menyebabkan air kembali menggenangi sebagian rumah-rumah warga yang baru saja kering dari terpaan banjir pekan lalu. Warga mengaku kelelahan karena belum selesai membersihkan rumah dari sisa lumpur.

Hujan tersebut menyebabkan Kali Krukut yang melintasi kawasan Kemang dan Petogogan, Jakarta Selatan meluap.

Luapan itu meluas dan menggenangi rumah-rumah warga di perkampungan tersebut hingga sebatas lutut orang dewasa. Kontur tanah perkampungan yang menjorok rendah ke arah sungai menyebabkan wilayah itu mudah sekali terbanjiri luapan air dari sungai.

Di kawasan Kemang, tepatnya di Kelurahan Bangka, air menggenangi sekitar seratusan rumah petak di belakang deretan kafe-kafe elit di Jalan Kemang Raya. Semakin mendekati Kali Krukut, air sudah memasuki bagian dalam rumah hingga sebetis. Banjir pekan lalu telah menerpa kampung tersebut hingga ketinggian dua meter.

“Aduh, masih capek banget. Saya pasrah saja deh. Bersih-bersih karena banjir yang kemaren juga belum kelar,” ujar Yanto (55), warga RT 03/ RW 02.

Senin (12/2) lalu, warga yang mengungsi baru saja kembali ke rumahnya masing-masing dari tempat pengungsian. Selama sepekan sebelumnya sebagian dari mereka mengungsi di rumah Wakil Duta Besar Swedia Ulf Samuelsson di Jalan Kemang Selatan 10A, yang terletak di tanah yang jauh lebih tinggi. Ulf mengatakan, dirinya memang sengaja membuka rumahnya untuk ditinggali warga kampung yang kebanjiran.

Siang kemarin, sepanjang gang-gang sempit di perkampungan itu tampak dihiasi jemuran pakaian-pakaian dan berbagai perabot yang baru dicuci. Meski air meninggi perlahan, warga tampak tetap tenang.

“Kita khawatir juga sebenarnya, tapi sudah kecapekan sih. Kalau banjir lagi ya kita lari ke rumah Mr. Ulf lagi. Alhamdulillah ada orang kayak dia,” kata Muniroh (50).

Sementara, di Kelurahan Petogogan, air berwarna hitam pekat dan sangat berbau sejak pagi menggenangi sebagian rumah warga di RW 01 dan RW 03. Air hitam itu menggenangi rumah hingga sebatas mata kaki.

“Padahal baru saja kerja bakti bersih-bersih. Aneh, airnya hitam begini, beda dengan yang banjir pertama,” kata Titi (46).

Banjir serupa juga kembali menimpa warga Perumahan Pondok Payung Mas, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Tangerang, Banten.

Banjir yang tidak diduga itu, menyebabkan sebagian warga yang kebetulan sudah berangkat bekerja, tidak dapat bersiap-siap mengantisipasi datangnya banjir. Akibatnya, banyak barang milik warga yang sebelumnya baru kering dan masih dijemur, serta belum ditata kembali, terendam air lagi. (SF/HAR)

sumber: http://www.kompas.com/ver1/Metropolitan/0702/14/055646.htm, Rabu, 14 Februari 2007 – 05:56 wib