47.705 Hektar Sawah Kena Banjir
DKI Jakarta Wajib Alokasikan Dana Untuk Reboisasi

Bandung, Kompas – Areal persawahan di Jawa Barat yang terkena banjir dan mengalami puso semakin luas. Hingga kemarin, 47.705 hektar sawah terendam banjir dan 8.199 hektar sawah puso. Banjir telah melanda sembilan kabupaten di Jawa Barat yang meliputi 95 kecamatan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jabar Asep Abdie di Bandung, Selasa (13/2). Ia mengatakan, lahan yang terendam air pada akhir pekan lalu mencapai 45.349 hektar, dan yang puso 497 hektar.

Areal sawah yang terkena banjir berada di Kabupaten Bekasi, Indramayu, Karawang, Subang, Cirebon, Bandung, Bogor, Purwakarta, dan Sumedang. Areal paling luas terkena banjir berada di Kabupaten Bekasi, mencapai 18.403 hektar, sedangkan yang puso 6.972 hektar.

Di Kabupaten Indramayu, 11.690 hektar sawah terendam dan 418 hektar puso. Akibatnya, hasil padi yang hilang dari tanaman puso sekitar 46.000 ton gabah kering giling (GKG). Kerugian persemaian Rp 122,36 juta.

Secara kumulatif sawah yang terendam banjir di Jabar 48.418 hektar, tetapi sebagian sudah surut. Adapun luas persemaian yang terkena banjir 173 hektar, dan areal puso 63,4 hektar.

“Kecuali Bekasi dan Subang, ada padi yang berumur lebih dari tiga bulan. Lainnya baru berumur kurang dari satu bulan sehingga kemungkinan puso lebih besar,” katanya.

Asep mengatakan, jika hujan terus turun, sawah yang terendam air akan bertambah. “Bila tidak, berkurang. Perkiraan itu harus ditanyakan kepada BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika),” katanya.

Asep belum dapat memastikan apakah banjir kali ini akan menggagalkan target produksi padi Jabar tahun 2007 sebanyak 10 juta ton GKG. Sebab, pada tahun 2006, saat terjadi banjir besar, produksi GKG justru melampaui target. Target tahun 2006 sebanyak 9,4 juta GKG terealisasi 9,5 juta ton GKG.

Menghadapi musim hujan, Asep mengimbau para pemangku kepentingan di daerah rawan banjir untuk melebarkan dan membersihkan semua saluran pembuangan. Sampah, eceng gondok, serta tanaman-tanaman lain harus dipindahkan.

“Di lokasi tertentu, mundurkan tanam sampai air surut. Langkah terpenting, segera reboisasi semua daerah resapan air di hulu dan kawasan daerah aliran sungai,” ujar Asep. APBD Jakarta

Menurut Asep, selain APBD Jabar dan APBN, APBD DKI Jakarta pun wajib dialokasikan untuk reboisasi di wilayah megapolitan Jakarta.

Amat pantas jika Pemerintah DKI Jakarta yang memiliki APBD lebih dari Rp 18 triliun melindungi penduduknya dari banjir. Langkah itu bisa dilakukan dengan berinvestasi di Jabar yang hanya memiliki APBD kurang dari Rp 6 triliun untuk area amat luas dan rakyat sekitar 40 juta orang.

Bupati Bandung Obar Sobarna mengatakan, kondisi pertanian di daerahnya cukup baik. Sejumlah tindakan preventif telah dilakukan, antara lain dengan pelurusan Sungai Citarum, penanaman pohon, serta sosialisasi membuang sampah pada tempatnya.

“Apalagi, di daerah yang kita curigai banjir, ternyata tidak terjadi. Di beberapa daerah lain banjir, di sini tidak. Pertanian masih relatif bagus,” katanya. (bay)

sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/14/Jabar/10263.htm, Rabu, 14 Februari 2007