DKI Alokasikan Rp 205,2 M untuk Tanggulangi Bencana

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengalokasikan anggaran sebesar Rp 200 miliar untuk pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Gakin dan bencana. Sedangkan untuk mengantisipasi kejadian luar biasa (KLB) di wilayah DKI Jakarta akibat merebaknya penyakit pascabanjir, Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah mengalokasikan dana sebesar Rp 5,2 miliar.

Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Salimar Salim, Rabu (14/2), mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk mengganti semua biaya pengobatan masyarakat di sejumlah rumah sakit yang menjadi rujukan tersebut. Selain itu, dana tersebut juga digunakan sebagai dana operasional untuk menjaga kebersihan lingkungan seperti fogging dan abatesasi.

Pihaknya, kata Salimar, kini telah melakukan penambahan rumah sakit rujukan yang selama ini hanya 17 rusak sakit rujukan sekarang pasien yang terkena DBD, diare, dan leptoporosis dapat berobat secara gartis di 80 rumah sakit rujukan. “Pasien dapat berobat gratis di rumah sakit yang telah kita tunjuk itu,” katanya.

Pasien diare yang di DKI Jakarta yang ditangani oleh Rumash Sakit Umum Daerah (RUSD) hingga hari ini, kata Salimar, mencapai 617 orang. Rinciannya, di RUSD Koja, 293 orang, RSUD Tarakan sebanyak 148 orang, RSUD Pasar Rebo 10 orang, RSUD Cengkareng 56 orang dan RSUD Budi Asih 76 orang.

Menurut Salimar yang paling penting langkah yang harus dilakukan masyarakat adalah melakukan kebersihan lingkungan, dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Selain itu, Ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk secepatnya membawa anggota keluarganya yang sakit diare ke rumah sakit terdekat.

Sementara itu, Ny Yati (34) Ibu dari pasien diare atas nama Anisa (6 bln), warga Jl Deli Rt 11/08 Kelurahan Koja Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mengatakan, kebutuhan air bersih di rumahnya dipenuhi dengan menggunakan jet pump, yang langsung mengambil air dari dalam tanah.

Namun demikian, Yati mengakui, pascabanjir yang melanda hampir sebagian besar wilayah Jakarta Utara, kebutuhan air bersih di rumahnya dipenuhi dengan membeli air dorong. Sebab, air yang keluar dari jet pump menjadi keruh, dan hanya digunakan untuk mandi dan mencuci.

sumber: http://jakarta.go.id/v21/info/?act=detil&idb=730&lg=1