Jumlah Pasien Diare dan DBD Meningkat di Jakarta

Jakarta (ANTARA News) – Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengemukakan jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit di Jakarta akibat penyakit pascabanjir, seperti diare dan demam berdarah dengue (DBD), meningkat.

Wakil Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Salimar Salim, di Jakarta, Kamis, mengatakan data terakhir menyebutkan jumlah pasien diare tercatat sebanyak 780 orang, meningkat dari data dua hari sebelumnya yang berjumlah 617 orang.

“Dengan kata lain terjadi kenaikan jumlah pasien sebanyak 163 pasien dalam jangka waktu satu hari,” katanya.

Sampai saat ini, semua pasien tersebar di sekitar 17 RS di Jakarta, dengan konsentasi terbanyak di RS Koja, yaitu sekitar 300 pasien.

Kenaikan pasien penderita DBD menjadi 473 dari jumlah sebelumnya 416 pasien, atau naik 57 pasien.

Sama seperti pasien diare, pasien DBD juga dirawat secara tersebar di sekitar 17 rumah sakit rujukan.

Sedangkan untuk kasus leptospirosis atau penyakit kencing tikus tidak mengalami kenaikan, yaitu lima kasus.

Kelima pasien leptospirosis tersebar di sejumlah rumah sakit, yaitu di RS Cengkareng dan RS Tarakan, masing-masing sebanyak dua pasien, dan RS Fatmawati satu orang.

Salimar menuturkan kasus leptospirosis relatif lebih lambat perkembangannya karena diagnosa penyakit ini baru bisa dilakukan di RS.

“Orang tahunya demam dan sebagainya, sedangkan vonis leptospirosis baru bisa dilakukan di rumah sakit,” katanya.

Untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien, Salimar mengemukakan pihaknya telah menambah kapasitas penampungan pasien di sejumlah RS, antara lain dengan menambah tempat tidur lipat dan mendirikan tenda penampungan.

Pendirian tenda, katanya, dilakukan untuk lebih mengintegrasikan pananganan pasien yang sebelumnya sering dilakukan di lorong-lorong RS.

Kemudian, Dinas Kesehatan juga telah menginstruksikan kepada Puskesmas untuk membuka pelayanan 24 jam guna memperluas cakupan identifikasi penyakit.

“Puskesmas, terutama yang ada dokter anaknya, buka 24 jam. Jadi cakupan kami akan sampai tingkat kecamatan,” katanya.

Seperti diberitakan, sampai saat ini terdapat sedikitnya 17 RS rujukan untuk pasien penderita penyakit pascabanjir.

Beberapa dari RS itu adalah RS Cipto Mangunkusumo, RS Persahabatan, RS Fatmawati, RS Harapan Kita, RS Sulianti Saroso, RS Pasar Rebo, RS Budhi Asih, RS Tarakan, RS Koja dan RS Cengkareng.

“Kami akan memberikan pengobatan gratis di RS yang ada,” kata Salimar menambahkan. (*)

Copyright © 2006 ANTARA
sumber: http://www.antara.co.id/seenws/?id=53240, 15 Februari 2007 10:25