Penanganan Depresi Pasca Banjir

Goenardjoadi Goenawan

Saat ini pembersihan rumah-rumah dari banjir telah hampir selesai, lumpur tebal telah dibersihkan, pembersihannya memakan waktu 4 hari. Bagaimana kondisi para korban banjir? Apakah masalah utama yang timbul yang dialami pasca banjir ini? Mengapa para korban banjir mengalami depresi berat? Apakah penyebab deresi tersebut?

Jangankan para korban banjir, yang rumahnya tidak kebanjiran namun mati listrik, dan mati PAM saja sudah sangat tersiksa. Kondisi gelap, panas, pengap, tidak bisa mandi, tidak ada kipas angin, dan tidak bisa melakukan hal yang paling simple, seperti charge handphone. Contohnya ini sharing teman kita yang kena banjir.

Baru bisa gabung lagi setelah lebih dari 1 minggu “terkukung” dalam “kegelapan”. Maklum rumah kebanjiran dan harus jadi nomaden. Dan terus terang saya mengalami depresi yg cukup berat selama periode kebanjiran kemarin itu. Saya paksakan untuk menulis posting ini karena mengharapkan hal ini bisa mengurangi stress saya tsb.

Kejadian kebanjiran di rumah saya ini adalah ke 3 kalinya (yg terhitung ‘huebat’); dari 1996, 2002 dan 2007 ini. Seperti juga mungkin dialami teman2 lainnya, banjir di Jakarta 2007 ini memang lebih parah juga menimpa saya sekeluarga. Tapi saya ingin tetap bisa mengambil “pelajaran” dari musibah ini.

Dari segi ‘kebutuhan’ (yg lagi lumayan ramai didiskusikan juga di sini), saya tiba2 merasakan suatu kebutuhan yg tinggi sekali dan tak dapat terpenuhi saat kebanjiran itu; yaitu kebutuhan atas INFORMASI. Saya tidak peduli dgn gak bisa makan/minum ataupun rasa aman….boro2 aktualisasi diri (ini istilah2 dari Maslow yah hehe). Stress saya adalah karena saya benar2 kekurangan informasi. Area saya tiba2 kalau malam hari seperti lautan luas yang gelap gulita dan sunyi. Tidak ada TV, orang pada takut keluar, gak ada koran yg datang karena siapa yg mau mengantarkan koran ke daerah yg banjirnya sudah sedada? Paling2 mendapat ‘sedikit’ berita dari radio saku dgn baterei saya….”sialnya” isinya nyaris seragam semua yaitu: pintu air A sudah sekian meter, banjir di daerah B masih tinggi, macet total di daerah C dan sejenisnya. Bukannya bikin gembira, eh ini informasi malah bikin aku makin stress. Pengen banget bisa akses internet…tapi pakai apa? HP saya batereinya sudah sangat tipis sehingga saya batasi hanya untuk SMS krn kalau habis, mau charge dimana? Saya belum baca bukunya mas Goen yg terakhir (BTW, saya beli 1 buku anda dan belum sempat saya baca, sekarang sudah jadi bubur kertas :-)….tapi moga2 mas Goen sudah memasukan adanya kebutuhan atas Informasi ini disana yah :-) Yang pasti ketidak-mampuan saya memenuhi kebutuhan atas informasi itu rasanya benar2 membuat saya jadi org ‘bego’ selama seminggu itu.

Saat siang hari, saya mengalami situasi yang lain lagi. Bila saya keluar menembus banjir, maka saya bertemu dengan berbagai macam individu yg ‘senasib’ dan tiba2 bisa dgn mudah berakrab-ria dengan mereka. Tolong-menolong jadi demikian mudah dan indahnya. Yg satu kasih segelas aqua, yg lain sebatang rokok dan yg lain lagi sekedar sharing informasi….wah lega dan rada terlepas sedikit stress-nya….padahal di sekitar kita air bercampur sampah campur aduk dgn baunya yg alamak banget….tp kita bisa tersenyum juga bersama disitu (walaupun ada juga bbrp org yg nimbrung ngobrol dgn umpatan2-nya hehe). Rasanya kalau dalam kondisi begini, gak perlu itu ada latihan kompati hehe….semua tiba2 jadi ahli berempati dgn org lain :-) Hilang perbedaan apakah kita WNI asli atau bukan,
apakah dia Muslim atau bukan, apakah dia kaya atau miskin dlsb. Mungkin inilah kekuatan ‘alam’ yang bisa menyatukan empati antar manusia yah. Mungkin ini PR buat Vincent dkk agar bagaimana kekuatan alam seperti itu selalu ada dalam diri kita masing2.

Hal lain yang saya perhatikan adalah bahwa memang situasi kritis/darurat akan lebih memacu kreatifitas manusia. Beberapa warga di RW saya tiba2 berubah profesi menjadi ‘ojek rakit’. Bahan rakitnya bermacam-macam sekali, ada yang pakai botol aqua galon, ada yg tetap ‘tradisional’ pakai bambu, ada yg pakai tong sampah, ada yg pakai gerobak sampah RT yg disulap jadi rakit, ada yg pakai ban mobil bekas, ada yang pakai kasur basah, macam2 deh. Dan penghasilan mereka sangat menarik lho….per orang bisa kena biaya Rp. 10rb hanya unt. jarak sekitar 300-400 meter (ya cuma jalannya di air yah :-)). Apakah mungkin bencana alam yg akhir2 ini terjadi di Indonesia adalah salah satu ‘jalan Tuhan’ agar insan Indonesia bisa lebih kreatif? Moga2 demikian!

Di saat yang bersamaan, saya juga bisa ‘menikmati’ perilaku angkuh dari sebagian orang. Lah sudah lihat di depan banjir sedada, ada saja org dgn motor dan mobil yang mencoba ‘nekad’ melewatinya. Ada satu mobil toyota jeep dgn. stiker angkatan di kaca belakangnya ditambah stiker perkumpulan berburu, ditambah pengemudinya yang pakai topi koboi, nekad dan mogok dan jadi bahan tertawaan para ojek rakit :-) Kacian deh loe!

Bagi sebagian orang lagi mungkin “cahaya” adalah kebutuhan pokok juga. Akibatnya setelah bbrp hari tidak ada listrik, tiba2 saya melihat cukup banyak ojek rakit membawa genset ke rumah2 yg masih dihuni. Saya dengar Carefour kena serbu org2 yg ingin beli genset sampai harganya melambung….dan org sudah tidak peduli lagi apakah itu genset buatan amerika, eropa, china or made in pulogadung :-) Saya sih masih cukup puas dengan lilin dan senter baterei saya saja.

Perasaan terisolasi cukup kental saat itu. Walaupun saya akhirnya harus mengungsi juga ke rumah teman, tapi tidak bisa jauh-jauh karena area saya boleh dibilang ‘terkurung’ banjir. Rumah teman tempat saya mengungsi juga kebanjiran walaupun hanya sebatas halamannya saja. Tapi ya tetap saja di rumah itu tidak ada listrik (untung PAM masih menyala). Di rumah teman itulah saya jadi merasa mendapat ‘teman karib baru’…krn sebelumnya saya hanya bertemu dia belum tentu 1 bulan sekali…tiba harus bertemu tiap hari untuk beberapa malam. Guyonannya cukup membuat saya mampu berkomunikasi dgn baik lagi.

Hal lain yg harus saya terima dgn iklas adalah bahwa usia memang tidak bisa dibohongi. Saat banjir 1996 seingat saya, saya masih kuat mengangkat perabotan rumah saya agar selamat dari air. Tp saat banjir kemarin, tiba2 saya merasa tenaga saya sudah sangat berkurang dibandingkan 11 thn lalu sehingga akibatnya lebih banyak perabotan rumah saya yang hancur. Yang paling saya sayangkan adalah buku2 saya yg jadi bubur kertas! Padahal ada sebagian buku2 itu yg belum tuntas saya baca atau bahkan belum sempat saya sentuh (masih mulus terbungkus plastiknya!)

Saya yakin ada rekan lain yg mengalami hal yg lebih parah daripada saya. Yah…semoga seberapapun parahnya musibah yang menimpa anda, ada pelajaran yang bisa kita peroleh. Teman saya bilang “Tuhan tidak akan memberikan musibah yang tidak dapat ditanggung manusia”. Saya percaya itu juga, khususnya dalam pengertian, mungkin tubuh kita tidak dapat menanggungnya, tapi jiwa dan iman kita seharusnya jauh lebih kuat dari tubuh fana kita.

Salam damai selalu

Saya ikut prihatin anda mengalami horor berhari-hari tanpa kejelasan, terkucilkan, terisolir, dan itu membuat anda depresi berat. KEBUTUHAN Manusia itu bukan makan minum saja, manusia bisa tidak makan berhari-hari dan bisa survive, kebutuhan dasar Manusia adalah kebutuhan untuk Didengar / berkomunikasi. Bila jeritan hati ini tidak didengar (tidak bisa saling berbagi), maka depresi akan menjadi gejala sakit. Sakit apalagi, kalau bukan sakit jiwa.

Yang menyelamatkan anda adalah kebutuhan kedua, yaitu KEBUTUHAN untuk empati, anda masih menerima kebaikan orang lain, dan dengan demikian anda amsih bisa memiliki harapan. Oleh karena itu, janganlah segan-segan untuk mengungkapkan kondisi anda kepada teman terdekat, ungkapan perasaan anda yang didengar akan membuat anda kembali pulih, istilahnya “aligning your spirit”, mengembalikan jiwa anda. Ini membuktikan bahwa membaca berita, membaca koran, misalnya adalah bukan demi berita, namun lebih berfungsi dalam keadaan tak pasti, informasi ketakutan bersimpang siur, kita memiliki pedoman, memiliki Kompas.

Ada istilah Crach syndrome, apad sebuah kejadian kaget luar biasa, atau tabrakan, maka tubuh akan mengalami goncangan jiwa, dan oleh karena itu 5 menit pertama adalah menenangkan diri, dengan berdoa, dengan minum air, sebab bila tidak, besar kecenderungan terjadinya metabolism breakdown bukan karena organ terbentur, atau terhantam, namun karena jiwa yang terguncang, sehingga tidak mampu mengendalikan metabolisme fungsi hati, jantung, paru-paru, penglihatan mata.

Buku-buku anda sudah hanyut menjadi bubur, namun anda menemukan buku anda yng paling mahal, yaitu buku hati anda. Mohon anda dapat menuliskan apa yang
terbaca dari hati anda, untuk apa manusia hidup? mengapa beban kok terasa semakin berat? mengapa hidup ini penuh penderitaan?

Bacalah, maka anda akan menemukan surga di hati anda.

salam,
Goenardjoadi Goenawan

sumber: http://groups.google.com/group/milis-fpk/browse_thread/thread/1e50745c9d478d1b/3e901a05d439448e?lnk=st&q=banjir+jakarta&rnum=4#3e901a05d439448e