Tata Ruang
Pengelolaan Jakarta di Bawah Permukaan Laut Perlu Diantisipasi

Jakarta, Kompas – Keberadaan 40 persen wilayah Jakarta di bawah permukaan air laut dan dampak banjir 2007 yang makin meluas dibandingkan 2002 menuntut perencanaan tata ruang yang lebih matang.

Kondisi Jakarta yang makin mustahil terhindar dari banjir itu perlu pula diantisipasi dengan pengelolaan tata ruang bawah permukaan laut untuk menghindari ancaman banjir lebih parah lagi akibat rob atau genangan pasang air laut.

“Apalagi penurunan permukaan tanah Jakarta mencapai 90 sentimeter dalam 25 tahun terakhir, itu menuntut perubahan manajemen tata ruang. Memang LIPI belum pernah merekomendasikan tata ruang Jakarta di bawah permukaan air laut, tetapi ini patut diperhatikan,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara, dalam temu peneliti dan pers membahas pengelolaan Jabopunjur (Jakarta, Bogor, Puncak, Cianjur), Jumat (9/2).

Untuk mendorong tata ruang bawah permukaan laut saat ini, menurut Endang, keberadaan situ-situ terutama di wilayah Jakarta Utara secara masif perlu segera ditingkatkan. Kemudi- an dipersiapkan sistem pengelolaan dengan pemompaan air ke laut.

“Antisipasi demikian terkait isu global tentang perubahan iklim. Ke depan, permukaan laut selalu naik, dan permukaan tanah turun,” kata Endang.

Pada kesempatan yang sama, Wahjoe S Hantoro dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI mengatakan bahwa pemerintah perlu segera mengidentifikasikan wilayah tergenang banjir di Jakarta yang makin meluas tahun ini.

“Pemerintah, dalam hal ini bisa pemerintah pusat maupun Pemerintah DKI Jakarta, harus segera menetapkan kawasan-kawasan rawan banjir dan harus berupaya untuk membebaskannya,” ungkap Wahjoe. (INE/NAW)

sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/13/humaniora/3315620.htm, Selasa, 13 Februari 2007