Radar Cuaca baru, Sarana Peringatan Dini Banjir

Jakarta, Kompas – Prakiraan cuaca di Indonesia, terutama dalam skala lokal, akan ditingkatkan dengan penempatan 22 radar cuaca merata di berbagai wilayah Tanah Air.

Pembangunan radar cuaca baru dari Jepang jenis Doppler C band ini mampu memantau awan hujan hingga radius 100 kilometer, jelas Deputi Sistem Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika, Prih Harjadi, Selasa (6/2) di Jakarta, mulai tahun lalu hingga tahun 2010.

Penempatan radar yang dapat menampilkan pergerakan awan hujan setiap 6 menit ini melengkapi radar yang sudah dimiliki Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).

Ia menjelaskan itu pada jumpa pers tentang Program Harimau atau Hydrometeorological Array for Intraseasonal variation Monsoon Automonitoring dan aplikasinya.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Said D Jenie mengemukakan, pihaknya juga bekerja sama dengan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology atau Jamstec dalam pembangunan radar cuaca sejak tahun lalu.

Enam radar cuaca akan didirikan dengan dana hibah dari Pemerintah Jepang melalui Japan Earth Observation System (EOS). Radar ini terdiri dari radar jenis Doppler X-band (XDR) dan C-band (CDR), serta jenis Wind Profiler (WDR).

“Pemasangan tiga jenis radar untuk makin memahami dinamika iklim. Diharapkan pemantauan, intepretasi data, dan ramalan cuaca ke depan lebih tepat, cepat, dan lengkap,” kata Said.

Saat ini telah terpasang XDR di Pantai Tiku, Kabupaten Agam, dan di kompleks Departemen Perhubungan di Bandara Internasional Minangkabau, Padang. Pemasangan WPR di Pontianak dan Biak dijadwalkan pada bulan Februari dan Maret 2007. Pemasangan WPR di Manado dijadwalkan pada November 2007.

Untuk CDR yang akan ditempatkan di Serpong, yaitu di Laboratorium Teknologi Kebumian dan Mitigasi Bencana (Geostech) BPPT, dijadwalkan Juni mendatang. ” Radar di Serpong nantinya akan membantu dalam memprediksi kejadian banjir di kawasan Jabodetabek,” jelas Fadli Syamsudin dari BPPT selaku koordinator tim peneliti Indonesia pada program Harimau.

Dengan fasilitas ini dan pemasangan alat tomografi di hulu Sungai Ciliwung nantinya dapat membantu bagi peringatan dini banjir di DAS Ciliwung 12 jam sebelum kejadian. Uji coba sistem ini akan dimulai tahun 2008.

Program kerja sama

Pemasangan radar ini dalam program Harimau melibatkan peneliti dari Universitas Kyoto dan Universitas Hokaido, Jepang, yang dikoordinasi oleh Shuichi Mori. Peneliti utama dari Jepang adalah Manabu Yamanaka. Selain itu juga menyertakan peneliti dari BMG serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Program Harimau, jelas Fadli, untuk mengetahui proses yang terkait dengan aktivitas awan konveksi atau awan yang terbentuk dari penguapan air serta curah hujan di Benua Maritim Indonesia (BMI). Proses tersebut mempunyai implikasi terhadap perubahan iklim global, seperti El Nino dan La Nina, serta Indian Ocean Dipole (IOD).

Seluruh radar pada program Harimau nilai pembangunan dan pengelolaannya menelan dana 4 juta dollar AS per unit dan akan selesai dibangun Maret 2010. Setelah itu akan diserahkan kepada BMG untuk dioperasikan, jelas Fadli. (NAW/YUN)

sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/07/humaniora/3299865.htm, Rabu, 07 Februari 2007