Adaptasi Lingkungan: Mengukur Efisiensi Sejumlah Solusi Banjir

Nawa Tunggal

Serasah-serasah bekas bungkus rokok, kulit jeruk, dan kertas tisu dipungut Didin dari tempat sampah plastik di kiosnya dan dibuang satu per satu ke dalam aliran limpasan air hujan yang mengalir di pinggir ruas jalan persis di depan kiosnya. Jika perilaku seperti Didin ini tetap dipelihara, niscaya Jakarta akan terus menuai bencana. Warga jadi bulan-bulanan penderitaan.

Didin, yang berusia 40-an tahun, itu kembali seperti bocah. Sambil duduk, begitu asyik ia menikmati pelepasan satu per satu buangan serasah sampah itu. Itu seperti bermain kapal-kapalan yang dihanyutkannya ke sungai.

Kamis (15/2) sore itu, Jakarta memang diguyur hujan deras. Didin, pemilik kios rokok di pinggir Jalan Utan Kayu, Jakarta Pusat, itu ternyata tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membuang sampah, apalagi ia membuang sampah tanpa perlu beranjak keluar dari kios rokoknya yang memang sempit.

Didin tidak sadar ketika turun hujan, sampah yang di buang ke selokan jelas akan memicu mampet dan tersumbatnya aliran air. Ketika limpasan air hujan melebihi kapasitas saluran, banjir pun menyebar.

Di seantero kota Jakarta, sebenarnya pemerintah setempat tidak kurang-kurang menempelkan plakat atau poster imbauan agar masyarakat membuang sampah di tempatnya. Plakat “Kebersihan adalah bagian dari iman”, sama sekali tak menyentuh kesadaran Didin. Jangankan sampai iman, perilaku bersih agar badan sehat pun agaknya tak masuk jadi kesadarannya.

Didin malah mengakui memang terbiasa membuang sampah di selokan kecil di dekat kiosnya. Ia beralasan, sampahnya tidaklah banyak. Hanya bekas-bekas bungkus rokok yang dijual eceran. Kalaupun ada kulit jeruk atau sampah lain, itu hanya sesekali. “Habis, mau dibuang ke mana lagi?” tanya dia.

Perilaku Didin, boleh jadi, menjadi pola kebanyakan warga Jakarta. Pada akhirnya, membuang sampah sembarangan turut andil menciptakan banjir di Jakarta.

Volume sampah yang terbuang sembarangan di Jakarta amat mengkhawatirkan. Sebab, volume sampah per hari di Jakarta mencapai 6.000-7.000 ton, tetapi hanya 18 persen yang terbuang di lokasi pembuangan atau pengolahan secara resmi. Selebihnya, termasuk yang dibuang Didin itu, mampir di selokan-selokan, sungai-sungai, dan laut di Teluk Jakarta tentunya.

Banjir besar pada awal Februari 2007 memang ditimbulkan oleh kondisi sampah yang menyumbat saluran atau sistem drainase Jakarta. Di sisi lain memang banyak faktor penyebabnya, seperti intensitas curah hujan tinggi yang berlangsung antara 29 Januari 2007-3 Februari 2007.

Kemudian terjadi genangan selain akibat intensitas curah hujan tinggi, juga air laut di Teluk Jakarta sedang mengalami pasang. Permukaan air laut pun bisa naik antara 30-40 sentimeter menyebabkan permukaan air di daratan lebih rendah.

Genangan air bah pun betah bertahan di sebagian wilayah Jakarta. Genangan air kali ini diperkirakan berbagai pihak mencapai 70 persen luasnya, sedangkan banjir pada tahun 2002 diperkirakan menggenangi 50 persen wilayah Jakarta.

Wilayah Kelapa Gading, Jakarta Utara, menjadi contoh kawasan yang terperangkap air genangan selama lima hari. Menurut Wali Kota Jakarta Utara Effendi Anas, air bah datang terlalu cepat dan menyebabkan delapan pompa air di Kelapa Gading tidak dapat berfungsi.

Berbeda dengan wilayah Kemayoran dan Pademangan yang relatif tidak terperangkap genangan akibat aliran air lancar menuju wilayah Taman Impian Jaya Ancol. Pengelola tempat wisata tersebut menyediakan 34 pompa air untuk memompakan aliran air hujan ke Teluk Jakarta.

“Wilayah Ancol relatif tidak terkena banjir karena dilengkapi pompa otomatis yang mengalirkan air saluran pada ketinggian tertentu ke laut,” kata Harwanto, Manajer Umum Perencana Korporasi PT Pembangunan Jaya Ancol.

Volume Banjir

Berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), curah hujan yang terjadi antara 29 Januari hingga 3 Februari 2007 memiliki volume air yang jauh lebih besar, dibandingkan pada tahun 2002. Volume air hujan yang turun lima hari berturut-turut itu terhitung mampu menggenangi 706,5 kilometer persegi dengan kedalaman satu meter.

Dibandingkan hujan deras yang menimbulkan banjir pada tahun 2002, volume banjir hanya mampu menggenangi 528,8 kilometer persegi dengan kedalaman satu meter pula.

Tingginya debit air hujan yang ditumpahkan dari langit, bukanlah satu-satunya tersangka penyebab banjir di Jakarta. Apalagi itu merupakan fenomena alam yang memang tidak patut untuk dipersalahkan.

“Peningkatan volume air hujan menjadi bagian dari perubahan iklim global. Peningkatan pemanasan secara global tentu memperbanyak massa uap air menjadi awan. Ketika turun menjadi hujan pun, airnya dari masa-masa nanti akan makin bertambah,” kata Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMG Mezak A Ratag.

Banjir akibat curah hujan terlalu berlimpah, akhirnya mendorong banyak pihak menunjuk atau menyalahkan perilaku masyarakat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tidak mampu menjaga saluran air hujan bebas dari sampah. Setidaknya, saluran-saluran atau sungai yang ada tidak dijaga sehingga tidak mampu mengalirkan limpasan air hujan secara lokal maupun dari dataran tinggi Bogor dengan lancar.

Mitigasi bencana

Banjir kini sudah berlalu. Namun, seperti dikatakan Ratag, pemanasan global berdampak pada peningkatan volume air hujan, itu menyiratkan pada masa-masa mendatang banjir bisa selalu datang tanpa permisi terlebih dahulu.

Mitigasi atau pengurangan potensi bencana menjadi soal tersendiri. Analisis iklim dan cuaca penyebab banjir seperti tahun-tahun sebelumnya sudah titumpahruahkan banyak ahli. Solusi mengatasi banjir di masa-masa mendatang menjadi sesuatu hal yang teramat penting.

Seperti beberapa pakar yang tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Rabu kemarin, pun berbagai saran dan pertimbangan untuk mitigasi bencana banjir di Jakarta.

Lambok Hutasoit, pakar hidrogeologi yang mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) mengemukakan, solusi untuk mengatasi banjir di Jakarta pada masa-masa mendatang ialah dengan menambah atau menciptakan ruang resapan air.

“Sumur resapan dan situ-situ memang harus ditambah sebanyak-banyaknya. Kemudian sistem tandon air dalam tanah perlu dibuat di Jakarta untuk menabung air selama musim hujan. Pada musim kemarau nanti, airnya bisa dipanen,” kata Lambok.

Pakar perubahan iklim ITB, Armi Susandi mengusulkan untuk menghentikan atau mengurangi dampak pemanasan global. “Jangan menggunakan sumber energi yang menghasilkan dampak gas rumah kaca. Pembabatan hutan harus dihentikan dan areal hutan diperluas,” kata Armi.

Atika Lubis, pakar hidrometeorologi ITB meyakinkan, daya serap tanah di Jakarta, memang rendah. Satu-satunya jalan untuk mengurangi limpasan air hujan dengan menahan air selama mungkin mulai dari dataran Bogor.

Fadli Samsudin, pakar dinamika Atmosfer dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), memberi solusi mengatasi banjir dengan peningkatan perhatian terhadap sistem peringatan dini yang dapat dipantau melalui pencitraan satelit.

Kini, menjadi tugas seluruh warga Jakarta dan aparat pemerintah, untuk mengubah sikap rendah yang tak menghargai alam lingkungan, menjadi hormat dan menjaga lingkungan.

Petugas sapu di jalanan, jangan diam-diam membuang onggokan sampah di bawah jembatan. Pemilik rumah jangan pura-pura buta, tidak melihat selokan rumah yang tersumbat. Setiap rumah sebaiknya membuat sumur resapan.

Untuk solusi-solusi besar, pemerintahlah yang bertanggung jawab. Seperti menciptakan kembali situ-situ, membuat tandon air dalam tanah, menormalisasikan sungai dengan pengerukan dan pembersihan sampah, serta peningkatan teknologi pompa air yang anti-ngadat.

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/22/humaniora/3334637.htm
Kamis, 22 Februari 2007