Pencakar Langit juga Turut ‘Mengundang’ Air Bah

Jakarta-RoL — Serangan banjir pada awal Februari 2007 lalu, menurut Lambok M Hutasoit dari Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), diakibatkan oleh berbagai faktor dan yang terpenting dari itu semua adalah kondisi geologi Kota Jakarta.

“Genangan air terjadi di daerah cekungan yang permukaannya tidak mampu meresapkan air hujan, itu artinya kondisi geomorfologi dan hidrogeologi,” kata Lambok dalam diskusi yang diselenggarakan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), di Jakarta, Rabu (21/2).

Di Jakarta, kata Lambok, telah terjadi penurunan muka tanah yang kemudian dapat memperluas daerah cekungan. Sementara itu keadaan diperparah dengan banyaknya daerah resapan yang telah ditutup oleh bangunan, sehingga banjir semakin sulit dihindari.

Ia menjelaskan, penyebab penurunan muka tanah adalah pengambilan air tanah, pembebanan, kompaksi alamiah, dan struktur geologi aktif. “Pengambilan air tanah atau istilahnya ‘dewatering’ terjadi dalam proses pembangunan gedung tinggi. Faktor ini menyumbang 17,5 persen keseluruhan amblesan tanah Jakarta,” kata dia.

Sementara itu penyebab kedua, yaitu pembebanan oleh gedung-gedung tinggi, minimal enam lantai, dan transportasi menyebabkan amblesan sekitar 22,85 hingga 75,67cm.

Unsur kompaksi alamiah dan struktur geologi aktif, belum dianalisis secara kuantitatif, namun hasil studi geologi struktur menunjukkan indikasi adanya struktur geologi aktif – sementara data tekanan air tanah menunjukkan kondisi kelebihan tekanan ini diakibatkan oleh kompaksi alamiah. “Faktor-faktor itu jelas harus diperhatikan untuk mengantisipasi meluasnya daerah banjir di Jakarta.”

Lambok menyakini solusi yang dapat ditawarkan, selain pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT), adalah sumur-sumur resapan dan penampungan massal air bawah tanah (“under ground reservoir/UGR”).

Bangunan-bangunan pencakar langit, kata Lambok, harusnya diwajibkan membuat sumur resapan dan UGR karena ketika mereka dibangun banyak air dikeluarkan dari lokasi tersebut (“dewatering”).

Pencakar langit, menurut dia, tidak hanya menguras air yang sedianya tersimpan di tanah tapi juga mengakibatkan amblesnya permukaan dan membuat cekungan yang mengundang banjir ke Jakarta. antara

sumber: http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=283572&kat_id=23
Rabu, 21 Februari 2007 19:18:00