Tak Berani Pikirkan Esok…

M CLARA WRESTI

Banjir memang sudah surut dari rumah-rumah warga Jakarta. Namun bukan berarti musibah itu telah berlalu. Banjir tidak saja membuat lelah fisik dan mental para korbannya. Dia juga masih menyisakan sebuah ketidakpastian akan hari esok.

Sudah lebih dari 17 hari Maemunah (38) menjadi pengungsi. Sejak banjir melanda rumah kontrakannya di RT 16 RW 07, Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, dia tidak mempunyai lagi tempat berteduh. Banjir besar telah membawa beberapa seng atap rumahnya.

Di tempat penampungan pengungsi di Lapangan Jenderal Urip Sumoharjo, Jatinegara, Maemunah mengungsi bersama tiga anaknya yang masih kecil. Di dalam tenda besar beralaskan balai tripleks, Aliyah (2,5), putri bungsunya, masih menyusu di tubuh Maemunah yang kurus.

Mereka mengungsi bersama 329 pengungsi dari Kampung Pulo dan 60 pengungsi dari Bidara Cina. Para korban banjir itu baru tiga hari menempati tempat penampungan berupa 12 tenda besar itu. Sebelumnya, Maemunah dan kawan-kawan mengungsi di Kantor Kelurahan Bidara Cina. Namun, kantor lurah tidak bisa dipakai selamanya karena pelayanan masyarakat harus tetap berjalan.

Semula mereka tidak mau menempati tempat penampungan yang disiapkan Pemerintah Kota Jakarta Timur ini karena jauh dari rumah. Agak sulit bagi mereka jika harus bolak-balik dari rumah ke tempat penampungan. Setelah pemilik tempat pengungsian ingin memakai kembali tempatnya, sementara rumah belum juga siap pakai, mereka tidak punya pilihan lain.

Di tempat penampungan ini, pengungsi masih mendapat bantuan nasi bungkus sehari dua kali. Satu mobil toilet dan satu bak penampungan air juga telah disiapkan. “Sebenarnya di sini lumayan enak, tetapi nyamuk banyak banget. Kemarin sudah ada pengasapan oleh petugas kecamatan, tetapi nyamuk tidak hilang juga,” kata Maemunah.

Bagi pasangan Barja (75) dan Maryam (72) tinggal di tempat penampungan itu membuat mereka tertekan. Setiap hari Maryam hanya berani memberi makan sekali kepada suaminya karena khawatir akan buang air besar. “Bapak sudah buta, jalannya juga sulit. Kalau harus buang air besar di mobil toilet, saya tidak bisa menuntunnya,” kata Maryam yang tidak memiliki keluarga di Jakarta.

Korban gusuran

Tidak ada sinar keceriaan di raut wajah Maemunah. Perempuan asal Blega, Sampang, Madura, ini tidak berani berpikir tentang masa depan. Baginya, hari esok adalah kegelapan. Banjir bukan hal baru buat Maemunah. Tahun-tahun sebelumnya dia juga kena banjir, tetapi tidak separah tahun ini, dan dia masih tetap bisa berdagang.

Tahun ini, Maemunah tidak lagi memanen rezeki, tetapi justru mendapatkan malapetaka besar. Sebelum banjir datang, dia sudah mendapat masalah karena tidak boleh berdagang di pinggir jalan besar oleh Pemprov DKI Jakarta karena ada proyek bus transjakarta.

Maemunah tidak hanya tidak bisa berdagang. Seluruh perlengkapan dagangnya, seperti gerobak, mangkok, sendok, dan panci, hilang terbawa banjir. “Setiap malam saya tidak bisa tidur. Saya tidak tahu bagaimana caranya mengirim uang buat sekolah dua anak saya di kampung. Buat makan saja tidak ada, apalagi buat mengirim. Mungkin ini yang dibilang stres ya,” tuturnya.

Pulang kampung juga bukan jawaban yang tepat untuk memecahkan persoalan. “Di sana mau usaha apa? Kampung saya kampung miskin. Lagi pula, saya enggak punya uang sama sekali untuk pulang,” ujar Maemunah.

Dia tidak sendiri. Imas (32), warga Kampung Pulo, Jatinegara, juga merasa tertekan. Rumah kontrakannya hanyut terbawa banjir. Hingga kini dia masih mengungsi di tempat penampungan karena tidak tahu lagi harus tinggal di mana.

“Sebenarnya saya tidak mau kena banjir terus-menerus. Tetapi hanya rumah di pinggiran bantaran kali yang harga sewanya murah, Rp 150.000 sebulan, sudah termasuk listrik. Sekarang pindah kontrakan juga tidak bisa karena enggak punya uang. Sudah tiga bulan ini saya tidak bisa jualan soto,” kata Imas yang berjualan soto betawi di Jalan Jatinegara Barat. Lapaknya tidak boleh lagi didirikan di tempat itu karena ada proyek busway.

Ketika ada berita pemerintah akan mengucurkan dana Program Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan sebesar Rp 1 miliar per kelurahan, para pengungsi sangat berharap bisa mendapatkannya. “Kami butuh modal untuk memulai hidup. Kami juga butuh tempat usaha yang tidak digusur,” kata Maemunah, yang tidak mau menjadi pengemis di perempatan jalan.

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/22/metro/3335007.htm
Kamis, 22 Februari 2007