Badai dan Siklon Tropis
Ada Apa dengan Cuaca?

Yuni Ikawati

Angin kencang dan gelombang pasang menyapu Samudra Hindia, meluas hingga ke Laut Jawa di barat dan Laut Sulawesi di timur Indonesia. Selain mengempaskan pesawat dan kapal-kapal di kawasan itu, gangguan cuaca ini juga mengaki- batkan hujan lebat di berbagai wilayah.

Ancaman hujan badai yang datang bertubi-tubi itu hingga mengakibatkan bencana banjir dan longsor pun tidak hanya diakibatkan anomali cuaca dalam skala lokal, tetapi juga regional. Serbuan badai “asing” dari Siberia akhir Januari hingga awal bulan ini, misalnya, menjadi penyebab lumpuhnya Jakarta oleh banjir yang diakibatkannya.

Dalam beberapa hari ke depan, beberapa wilayah Indonesia masih akan dihantui oleh hujan deras akibat siklon tropis dan terjangan angin puting beliung. Badai memang pasti berlalu. Namun masih menyisakan pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi dengan cuaca belakangan ini?

Serbuan badai dari Siberia awal Februari lalu, jelas Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi dan Geofisika Mezak Ratag, sebenarnya telah diprediksi tiga hari sebelumnya. Arah badai Siberia ke ekuator sebetulnya telah pada jalurnya yang biasa dilaluinya pada musim monsun bulan Desember hingga Februari. Akan tetapi pada saat itu kecepatannya sangat tinggi, sehingga bisa melewati ekuator, lebih ke arah selatan. Ini yang menyebabkan pembelokannya ke arah timur menjadi angin dengan kecepatan sangat tinggi, disebut sebagai jet ekuator. Kecepatan angin bisa mencapai di atas 110 – 130 km perjam. Begitu dijelaskan Prof C.P Chang dari Naval USA kepada Mezak via e-mail, berdasarkan asimilasi data satelit dan luaran model cuaca.

Untuk lebih memahami fenomena ini Mezak dan Chang akan melakukan kajian lebih detil dalam dua hingga tiga minggu ini. Karena menurutnya badai Siberia yang melenceng ini baru pertama kali disadari dan tercatat. “Di waktu-waktu yang lalu mestinya pernah juga terjadi hanya saja kita tidak aware,” ujar Mezak. Peristiwa ini sama langkanya dengan kejadian Indian Ocean Dipole Mode positif pada bulan November-Desember, yang menyebabkan musim kemarau di Indonesia diperpanjang sampai Desember lalu. Fenomena IODM positif ini belum pernah terjadi dalam 50 tahun terakhir.

Mezak melihat cuaca ekstrim yang langka ini merupakan hasil kombinasi atau interaksi fenomena di darat, laut dan atmosfer. Siklus curah hujan tinggi di Bopunjur 5-6 tahun, misalnya dipicu oleh aktivitas matahari.

Sementara itu Dr Wu Peiming dari Jamstec atau Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology dalam presentasinya di Jakarta awal Februari lalu (6/2) mengatakan, berdasarkan pemantauan satelit meteorologi Jepang MTSat, bibit angin yang sudah terbentuk di kawasan Siberia, Desember lalu. Pembentukan bibit angin ini biasanya terjadi pada musim salju di Siberia kemudian melintasi Jepang, Taiwan, Sumatera hingga berakhir di Samudera Hindia.

Namun angin Siberia ini mengalami penyimpangan jalur di kawasan Laut Cina Selatan, akhir Januari lalu. Angin itu tidak ke Sumatera namun malah masuk ke Pantai Utara Jawa Barat, khususnya Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Penyebab berbeloknya angin Siberia itu karena adanya tekanan tinggi di Samudera Hindia dan sebaliknya terbentuknya tekanan rendah di Pasifik. Hal ini menyebabkan medan angin bergeser dari barat ke timur. Gerakan angin bertekanan tinggi ini memang mencari sasaran daerah bertekanan rendah atau depresi.

Dampaknya sejak tanggal 28 Januari terbentuk depresi di atas Jakarta. Hal inilah yang membuat angin Siberia yang ketika itu sudah sampai di Laut Cina Selatan terbelokkan ke Jakarta yang lokasinya lebih dekat. Padahal semestinya masuk perairan barat Sumatera yang telah terjadi depresi lebih besar, yang harusnya menarik angin dari luar negeri ini.

Data satelit pada tanggal 28 Januari lalu menunjukkan tidak adanya awan konveksi di Laut Cina Selatan. Ini menunjukkan benih awan semua terdorong dan mulai terakumulasi di Jakarta pada tanggal 30 Januari lalu. Dampak arus angin yang disebut empasan atau cold surge ini bertahan selama dua minggu, menimbulkan hujan lebat selama waktu itu, urai Fadli Syamsudin, Manajer Laboratorium Teknologi Sistem Kebumian dan Mitigasi Bencana (GEOTECH), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Empasan terjadi tiap inter-monsun yang dipengaruhi oleh efek regional. Kecenderungan penyimpangannya sudah dapat terlihat ketika sampai di atas Taiwan karena angin ini dapat membawa uap air lebih basah dengan adanya awan mesoscale. Akibatnya bila melintasi Sumatera, angin ini dapat meningkatkan 60 persen curah hujan. Namun bila masuk ke kawasan tengah Indonesia curahnya bisa naik lebih tinggi lagi, 73 persen.

Siklon Tropis

Untuk lebih memahami fenomena badai dan siklon tropis disekitar Indonesia, dijelaskan Andi Eka Sakya Sekretaris BMG, pihaknya akan membangun Tropical Cyclone Warning Center (TCWC). Karena siklon di daerah belahan bumi selatan biasanya lahir di daerah 9 derajat lintang selatan. Kupang termasuk yang sering menjadi garba siklon ini.

Sebetulnya sudah sejak pertemuan WMO Regional Association 5 pada tahun 1986 Indonesia mendapat tugas sebagai pemantau siklon tropis. Namukarena keterbatasan alat dan SDM hal ini belum dilaksanakan. Karena itu tanggung jawab TCWC dialihkan untuk sementara ke Australia (TCWC Perth), jelasnya.

Bulan April 2006 Kepala BMG Sri Woro B Harijono menyatakan kesanggupannya mengambil alih kembali tugas tersebut mulai musim siklon 2007/2008, sekitar November 2007 sampai April 2008. Indonesia akan bertanggung jawab untuk warning siklon-siklon yang terjadi di wilayah 90 hingga 125 bujur timur dan 0 hingga 10 lintang selatan. Termasuk memberi nama dan mengeluarkan peringatan dini untuk daerah-daerah yang terkena dampaknya, juga bagi penerbangan dan pelayaran. Saat ini BMG tengah mempersiapkan prosedur kerja, fasilitas hardware, software dan komunikasi, format-format dan prosedur warning ke internasional.

Dalam hal ini Indonesia harus mempersiapkan nama-nama Indonesia untuk siklon mulai musim yang akan datang. “Saya yakin sekali BMG saat ini sudah mampu untuk itu, termasuk pemodelan cuaca ekstrim dan siklonnya. Puslitbang BMG sudah bisa menjalankan semua model yang diperlukan,” ujarnya.

Sementara itu untuk lebih memahami pola cuaca Indonesia BPPT juga akan membangun operation center. Kemampuan pemantauannya yang realtime didukung pula oleh sistem radar dan pelampung Triton yang memantau parameter atmosfer dan kelautan di Samudera Pasifik hingga Samudera Hindia.

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/23/humaniora/3337580.htm