Leptospirosis Meningkat
Pasien Demam Berdarah Masih Banyak

Jakarta, Kompas – Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Krisis Departemen Kesehatan, total penderita Leptospirosis di Jakarta dan Tangerang mencapai 119 orang, termasuk lima pasien meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan dan Rumah Sakit Infeksi Paru Sulianti Saroso.

Dari lima pasien yang meninggal itu empat di antaranya adalah pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan. Mereka adalah Tusaini, Khodijah, Dedi, dan Marsudi, pasien yang pada hari Kamis (22/2) meninggal. Marsudi (47) adalah warga Jalan Latumenten I RT 16 RW 05, Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Satu lagi seorang pasien meninggal di RSIP Sulianti Saroso, Kamis malam.

“Marsudi sempat dirawat di rumah sakit itu sejak 15 Februari akibat penyakit Leptospirosisnya parah karena sudah mengenai bagian ginjal dan lever,” kata Kepala Bidang Keperawatan RSUD Tarakan Zuraidah, Kamis.

Hingga kemarin, total penderita Leptospirosis 119 orang dan yang dirawat sekitar 80 orang, yaitu RSUD Cengkareng 9 orang, RSUD Tarakan 36 orang, RSUD Tangerang 13 orang, RS Persahabatan 7 orang, RSUD Budhi Asih 6 orang, RSIP Sulianti Saroso 2 orang, RS Sumber Waras 5 orang, RS Fatmawati 7 orang, dan RS Gading Pluit 1 orang.

“Kemarin jumlah pasien hanya sembilan orang, tetapi hari ini sudah melonjak menjadi 19 orang,” kata Rochsismandoko, ahli penyakit dalam yang merawat penderita Leptospirosis di Rumah Sakit Persahabatan. Dari 19 orang yang dirawat, 16 orang di antaranya positif Leptospirosis. Sementara tiga pasien lainnya masih menunggu hasil laboratorium.

Sebagian besar penderita adalah pasien laki-laki dewasa dan hanya ada satu pasien perempuan dewasa yang dirawat. Dari semua pasien yang datang hanya ada satu pasien dari Bekasi, sedangkan sisanya dari Jakarta Timur.

Menurut Rochsismandoko, tidak semua pasien adalah korban banjir. Namun, mereka membantu membersihkan bekas-bekas banjir. “Saat ini hanya dua pasien yang parah, salah satunya pasien perempuan itu,” katanya.

Demam berdarah

Sementara itu, penderita demam berdarah dengue (DBD) di rumah sakit ini belum menunjukkan penurunan. “Januari lalu kami merawat 40 pasien anak, tetapi bulan ini baru 23 anak. Untuk pasien dewasa kami merawat 123 orang, sementara bulan Januari lalu hanya 96 orang,” kata dokter Catur Kuat Sakoro.

Untuk pasien diare yang sebagian besar anak-anak, RS Persahabatan telah merawat 131 anak. Di RSUD Tarakan, pasien diare meninggal bertambah dari semula tiga orang menjadi empat orang. Korban terakhir adalah Surwini (35), warga Jalan Indra Loka V RT 07 RW 04, Wijaya Kusuma, Jakarta Barat. Total pasien diare mencapai 98 orang, 37 di antaranya anak-anak.

Sementara itu, jumlah pasien DBD yang meninggal pascabanjir lima orang, sedangkan pasien yang masih dirawat sampai Kamis 60 orang yang terdiri atas 17 anak-anak dan 43 dewasa. (ARN/NEL)

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/23/metro/3336477.htm