Pembangunan Rusunawa Diprioritaskan di Jakarta

Jakarta, Kompas – Pemerintah memprioritaskan pembangunan rumah susun sederhana sewa di Jakarta. Rusunawa ini akan melayani relokasi korban banjir Jakarta yang bermukim di sempadan sungai.

Menurut rencana awal pemerintah, sebanyak 19 blok kembar akan dibangun pada tahun 2007. Pembangunan dilakukan di 16 kota, antara lain Lampung, Bogor, Pekalongan, Yogyakarta, Sleman, Kupang, Kendari, Palangkaraya, dan Samarinda.

“Percepatan pembangunan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di Jakarta dengan mengalihkan pembangunan rusunawa dari daerah lain merupakan konsekuensi banjir. Jangan diartikan pembangunan rusunawa di daerah lain dibatalkan, tetapi ditunda,” kata Direktur Jenderal Cipta Karya Agoes Widjanarko, Kamis (22/2) di Jakarta.

Agoes meminta Pemerintah Provinsi Jakarta secepat mungkin menentukan lokasi pembangunan rusunawa sehingga pembangunannya dapat dimulai paling lambat akhir tahun 2007. “Harus cepat, jangan hanya bangun Sudirman-Thamrin saja,” ujar Agoes.

“Begitu Pemprov DKI menunjuk lokasi, langsung dapat dihitung kekuatan konstruksi fondasi, sementara pilar dan dinding bangunan yang mudah dikerjakan dapat selesai hanya dalam 3-5 bulan,” kata Agoes.

Direktorat Cipta Karya telah memproyeksikan empat lokasi pembangunan rusunawa di tepian Sungai Ciliwung pada ruas sungai antara Condet-Kampung Melayu, di antaranya di Bidara China dan Kampung Melayu.

Sekretaris Menteri Negara Perumahan Rakyat Noer Soetrisno menjelaskan, dari 183.000 korban banjir Jakarta, ada sekitar 70.000 korban yang akan direlokasi. Pemilihan warga yang direlokasi diserahkan kepada Pemprov DKI Jakarta.

Menurut Noer, saat ini warga Pengadengan, Jakarta Selatan, yang tinggal di bantaran sungai telah siap direlokasi dan akan disusul warga kawasan lain.

Tiap blok kembar rusuna berlantai 4-5 berkapasitas 80-96 unit tempat tinggal. Alasannya, lima lantai adalah ketinggian maksimal yang nyaman dijangkau dengan tangga biasa.

“Harga pembangunan tiap twinblok antara Rp 7,5 miliar-Rp 9 miliar dengan ukuran 21 meter persegi per unit atau Rp 12 miliar berukuran 36 meter persegi tiap unit,” ujar Agoes. (RYO)

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0702/23/ekonomi/3336659.htm