Penyakit Pascabanjir, Dua Pasien Leptospirosis Meninggal

[JAKARTA] Dua pasien yang diduga terkena infeksi bakteri Leptospira, Khodijah (71) dan Dedi (30), meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat, Rabu (21/2). Nyawa mereka tak tertolong kendati dokter di rumah sakit itu berusaha menyelamatkan keduanya. Sekitar pukul 12.30 WIB, mereka menghembuskan nafas terakhir.

“Keduanya dirawat di RSUD Tarakan kurang dari 24 jam. Pada saat masuk, kondisi keduanya sudah amat parah. Mereka mengalami kerusakan di bagian ginjal, lever, dan sudah koma,” kata dr Naszir, spesialis penyakit dalam di rumah sakit itu, Rabu (21/2).

Khodijah tercatat sebagai warga Jalan Sentul Nomor 9B, RT 06/ RW 03, Pasar Baru, Kartini, Jakarta Pusat. Sedangkan Dedi merupakan warga Jalan Tomang Nomor 6, RT 03/ RW 03, Tomang, Grogol, Petamburan, Jakarta Barat.

Menurut Nazir, sudah saatnya semua puskesmas di kecamatan maupun kelurahan untuk mewaspadai penyakit pascabanjir sehingga mampu memberikan pertolongan pertama kepada pasien. “Rata-rata pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi yang parah. Padahal, mereka mengaku sudah berobat ke puskesmas atau dokter praktik umum,” katanya.

Menurut dia, persediaan obat untuk mengatasi para korban banjir saat ini juga sudah dapat diperoleh di dokter-dokter jaga yang ada di puskesmas. “Jika ada pasien puskesmas dengan gejala klinis terjangkit leptospirosis, harus segera diberikan antibiotik dan dilarikan ke rumah sakit terdekat,” imbaunya.

Sementara itu, dari Bekasi dilaporkan, seorang warga yang tinggal di Desa Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi diduga menjadi suspect leptospirosis dan sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Karya Medika, Bekasi. “Ada laporan dari rumah sakit yang mengarah ke lepto. Setelah kita lacak, ada satu pasien yang gejalanya mengarah ke lepto. Dia dirawat sejak Senin (19/2) lalu,” kata Kepala Bidang Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Erwan Hidayat, Rabu (21/2).

Ditambahkannya, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi saat ini sedang hasil pemeriksaan darah warga tersebut untuk membuktikan apakah dugaan terjangkit bakteri Leptospira itu benar atau tidak. Sementara untuk hasil pemeriksaan terhadap keluarga dan 13 orang warga di sekitar pasien, ujar Erwan, menunjukkan hasil yang negatif.

Diare

Sementara itu, hanya selang beberapa jam dirawat di RSU Tangerang, Dinda Asilva, bayi berusia lima bulan akhirnya meninggal dunia karena diare. Anak pasangan Muhtadi dan Sita, warga Kampung Doyong, Kelurahan Alam Jaya, Kecamatan Jatiuwung itu, meninggal Rabu (21/2) sekitar pukul 01.30 WIB, setelah mengalami panas tinggi dan diare terus-menerus sejak sehari sebelumnya.

Dinda Asilva adalah satu dari 39 pasien diare yang kini dirawat di RSUD Tangerang. Selain penyakit diare, jumlah penderita yang paling banyak dirawat di RSU adalah demam berdarah dengue (DBD).

Jumlah penderita diare dan DBD, yang kini mencapai 80 orang terus bertambah dan mengalami peningkatan. Mereka memenuhi lorong-lorong rumah sakit dan aula yang telah dipasang tempat tidur tambahan.

Menurut Muhtadi, putri pertamanya itu mengalami panas tinggi dan selalu buang air sejak Selasa siang. Karena tak punya biaya, dia hanya membawa bayinya ke klinik di wilayah Jatiuwung.

Pihak klinik kemudian menganjurkan anaknya dibawa ke rumah sakit. “Saya baru membawanya malam hari karena kondisinya sangat parah,” ujar Muhatadi.

Dia menggambarkan, anaknya ketika dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tubuh yang sangat lemas karena terlalu banyak cairan yang keluar. Di Rumah Sakit Umum Tangerang, Dinda tak langsung dirawat karena ruang saat itu ruang Intensif Care Unit (ICU) sedang penuh dan hanya ditampung di ruang gawat darurat.

“Kondisi anak saya sudah sangat kritis dan membutuhkan pertolongan segera. Tapi ruah sakit tidak bisa memasukkan ke ruang ICU dan akhirnya dia meninggal di ruang instalasi gawat darurat,” ungkap Muhtadi dengan sedih.

Tak hanya Muhtadi, sang ibu, Sita, juga sangat terpukul dengan kematian putrid mereka. Ibu muda ini terus-menerus menangis di pangkuan suaminya yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan pada sebuah perusahaan kontraktor. [132/P-11]

sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/02/22/Jabotabe/jab01.htm
Last modified: 21/2/07