SUARA PEMBARUAN DAILY TAJUK RENCANA II

Perlu Manajemen Bencana

Banjir yang nyaris menenggelamkan Jakarta terjadi sekitar dua pekan silam. Wajah banjir itu masih terus tampak sekarang. Kita menyaksikan sampah masih berserakan di mana-mana. Belum masalah itu diatasi, masalah lain muncul seperti berbagai penyakit mulai dari demam berdarah, disentri sampai diare.

Kita merasakan betapa lambannya pemerintah dalam menangani bencana. Bahkan kelambanan itu tidak hanya terjadi dalam kasus Jakarta yang nyaris tenggelam dihajar banjir, tetapi juga pada kejadian bencana lain seperti gempa yang mengguncang pantai selatan Jawa tahun lalu di mana gempa itu juga memicu terjadinya tsunami.

Lalu ada ancaman letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Sampai saat ini, nasib korban lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, masih terkatung-katung.

Kita menyesalkan lambannya langkah pemerintah untuk mengatasi bencana. Namun kita juga harus bersikap adil, beban itu tidak bisa seluruhnya diletakkan ke atas pundak pemerintah. Seluruh lapisan masyarakat mestinya ikut ambil bagian dalam mengatasi bencana, termasuk meminimalisir dampak yang diakibatkannya. Pertanyaan mendasar kita adalah kenapa penanganan bencana selalu lamban? Menangani bencana butuh penanganan ekstra.

Hal yang mendasar itulah yang belum kita bangun. Kita belum sepenuhnya menyadari bahwa wilayah Indonesia berada persis di atas pertemuan beberapa lempeng bumi, tepatnya di atas Pacific Ring of Fire (Cincin Api Pasifik). Artinya, wilayah Indonesia selalu menghadapi kemungkinan bencana mulai dari yang ringan sampai paling berat akibat dari pergeseran kerak bumi tadi.

Bahaya paling nyata yang harus dihadapi adalah guncangan gempa tektonik dari yang kecil sampai yang dahsyat. Bukan mustahil gempa tektonik juga sering memicu terjadinya tsunami. Kita juga senantiasa dihadapkan pada masalah letusan gunung api. Gunung Merapi disebut-sebut sebagai gunung api teraktif di dunia.

Belum lagi masalah lain yang diakibatkan oleh ulah kita sendiri seperti makin hebatnya kerusakan lingkungan akibat pembalakan liar. Hutan kita yang menjadi paru-paru dunia mulai rusak berat karena pembabatan hutan yang luar biasa. Maka, terjadilah banjir, terjadilah tanah longsor.

Kita makin tak berdaya menghadapi bencana atau mengurangi dampak bencana karena sebagian besar masyarakat kita dililit kemiskinan. Orang terpaksa tinggal di bantaran Ciliwung karena tidak bisa membeli rumah di tempat yang bebas banjir.

Orang tidak bisa meninggalkan lereng Gunung Merapi meskipun mereka menyadari adanya ancaman awan panas karena terbelit kemiskinan.

Menilik kenyataan ini mestinya kita telah membangun manajemen bencana yang dapat mengurangi dampak dari bencana tersebut. Memang kita mempunyai Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi. Namun karena keterbatasannya, badan ini cenderung dianggap sebagai charity agency.

Kita membutuhkan suatu manajemen bencana bila perlu menjadi suatu kementerian bencana. Kenapa? Karena bencana memang akan selalu hadir. Kita membutuhkan manajemen bencana yang tidak hanya bekerja pada saat bencana datang, tetapi terus bekerja untuk mengantisipasi datangnya bencana baru di masa depan.

Jepang tak beda dengan Indonesia, berada di atas ring of fire. Namun ngeri itu selalu bisa meminimalisir dampak bencana karena mempunyai manajemen bencana yang baik. Tak perlu malu kita berguru kepada negeri yang sudah berpengalaman menangani gempa dan tsunami itu.

Jika ini tidak, pemerintah dan masyarakat akan selalu lamban menangani bencana.

sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/02/22/Editor/edit06.htm
Last modified: 21/2/07