Atasi Banjir, Saya Punya Tiga Jurus Pamungkas
Bibit Waluyo, Calon Gubernur DKI Jakarta

NUANSA Pilkada DKI Jakarta 2007 semakin hari semakin terasa atmosfirnya. Sederet kandidat ca­lon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) sudah ber­siap diri. Dari yang sudah nyo­long start sampai ke yang masih kesusahan mencari du­kungan.

Latar belakang dan curriculum vitae para kandidat uga berva­ri­asi. Dari militer, muncul nama be­kas Ketua KONI Agum Gu­me­lar dan bekas Pangkostrad Bi­bit Waluyo. Dari dua nama ini, yang getol merapat ke PDIP ada­lah Bibit Waluyo. Pengalaman mili­ter­nya sebagai Panglima Kostrad, Panglima Kodam Jaya, Panglima Kodam IV Diponegoro di­nilai bis­a jadi modal untuk me­mimpin Jakarta.

“Untuk menciptakan lapangan pekerjaan terlebih dahulu cip­takan dulu kondisi aman dan rasa nyaman di Jakarta ini,” ujar Bibit. Kepada Rakyat Merdeka, Bibit me­nyampaikan beberapa pan­dangan­nya. Berikut petikannya.

Apa persiapan terakhhir Anda untuk maju sebagai calon gu­bernur DKI?
Dalam pencalonan ini, saya ti­dak ambisius. Kalau rakyat per­caya bahwa saya siap jadi pe­mimpin dengan segala keku­rangan­nya. Itu amanat yang harus di­jalankan sebaik-baik mungkin. Se­baliknya kalau tidak terpilih ya wis berarti masyarakat tidak perlu fi­gur seperti saya.

Lalu apa visi-misi Anda?
Visi dan misi saya yaitu men­cip­takan Jakarta menjadi nyaman dan aman bagi setiap orang. Nya­man dalam ke-bhinekaan (dalam ber­bagai hal). Baik suku, agama, pe­menuhan lapangan pekerjaan dan lainnya. Dimulai dari nya­man inilah kita dapat bekerja ba­nyak. Dengan nyaman ini lah akan timbul rasa kepercayaan diri ting­gi. Dan kuncinya dari ini se­mua yaitu keamanan dan pen­cip­taan rasa aman.

Tentang keamanan yang tadi disebutkan, terkait angka keja­hatan meningkat?
Kalau bicara kondisi aman dan rasa aman, urut-urutannya ber­awal dari masalah sosial de­ngan pe­kerjaan yang terbatas. Ting­gi­nya urbanisasi di Jakarta menye­bab­kan terjadinya penumpukan ma­nusia dengan segala kla­si­fi­kasinya.

Bagaimana caranya mencip­takan kondisi yang aman?
Untuk menciptakan kondisi aman dan rasa aman dalam men­ciptakan pembangunan ini. diperlukan keterlibatan semua pihak. Mewujudkan kondisi aman ini tidak semata terletak pa­da aparat keamanan saja (Polisi dan TNI). Berbicara polisi, rasio ki­ta tidak seimbang idealnya 1 po­lisi itu menjaga 400-500 orang. Ta­pi sekarang 1000-2000 orang di­jaga satu polisi, gimana tidak rentan.

Tentang pemenuhan lapa­ngan pekerjaan yang tadi di­sebut?
Iya itu tadi, penciptaan kondisi aman dulu. Kalau ini tercipta akan menimbulkan rasa percaya diri, karena situasi kondisi dan lingkungannya tertib serta kondusif. Selanjutnya orang luar ne­geri pun akan mempunyai pan­dangan dan kepercayaan yang sa­ma sehingga menimbulakan in­vestasi yang akan membuka la­pangan pekerjaan.

Problem di Jakarta itu kan bukan hanya masalah keama­nan tapi juga pemenuhan la­pangan kerja?
Banyak sekali memang. Akan tetapi keamanan dan penciptaan rasa aman ini merupakan kunci se­gala-galanya. Aman dan rasa aman akan berimplikasi pada seluruh aspek kehidupan. Jakarta se­bagai barometer kondisi In­do­nesia.

Bagaiman Bapak melihat birokrasi Pemda, yang terjebak rutinitas, apakah ada konsep?
Birokrasi pemda ini sudah terkena penyakit putin. Jadi kalau ditingkatkan apa pun hasilnya nihil. Mau dipangkas ngomel, ti­dak dipangkas kinerjanya rendah. Maka disini perlunya pemimpin yang berani dan tegas dan pandai-pandai melakukan organisainya. Makanya pemimpin ini harus punya dua hal, pertama, seni dan kedua ilmu memimpin. Ilmu ke­pemimpinan ini bisa dipelajari. Sedangkan seni merupakan ka­rakter yang tidak bisa dimiliki ma­upun ditiru orang lain.

Bagaimana sosok pemimpin menurut anda?
Seorang pemimpin ini tidak boleh plin plan dan jujur.

Sebaiknya birokrasi yang baik itu seperti apa?
Ramping dan mengkerucut. Sekarang kan besar diperut yang menyebabkan organisasi ini tidak lincah karena ada sesuatu yang mem­beratinya. Semua itu bisa di­laksanakan riil ketika sudah ma­suk kedalam sistem jika belum ya hanya ngawang-ngawang saja, seperti reorganisai dan pecat saja. Tapi kalau sudah masuk kita harus mengetahui dan mem­pe­la­jari dulu suasana kebatinannya.

Menurut Anda apa masalah di Jakarta yang mendesak untuk diatasi?
Problem yang ada di Jakarta ini menciptakan keamanan itu kunci yang pertama. Stabilitas kea­ma­nan merupakan jaminan untuk in­ves­tasi tumbuh dan juga akan ber­im­bas kepada pemenuhan la­pa­ngan pekerjaan. Selanjutnya fak­tor yang lainnya merupakan pen­dukung dari skala prioritas.

Bagaimana dengan banjir bu­kannya itu prioritas?
Saya punya tiga jurus untuk me­ngatasi banjir. Yaitu, sebelum ban­jir, selama banjir dan setelah ban­jir. Sebelum banjir harus di­laku­kan langkah baik secara pisik ma­upun non pisik. Secara fisik bi­sa de­ngan meneruskan pem­bua­tan ka­nalisasi, memperbaiki go­rong-gorong, drainase dan lain­nya. Se­dang non fisik dengan mem­buat pe­tunjuk, prosedur-pro­se­dur tetap dan mengorganisir rak­yat.

Maksudnya?
Kita jangan munafik bahwa daerah kita ini merupakan daerah yang rentan dengan banjir. Jadi kalau terjadi banjir dan masalah lain masyarakat tidak mau untuk di­re­lokasi. Disini peran peme­rin­tah harus menyiapkan apa saja yang dibutuhkan ketika banjir itu ter­jadi. Misalnya membuat gu­dang kecil yang didalamnya be­risi tenda, ban-ban dan ke­leng­kapan banjir lainnya. Jadi ketika ter­jadi banjir masyarakat tidak akan teriak-teriak lagi, karena se­mua kelengkapan dan kebutuhan pas banjir sudah tersedia dan ter­pe­nuhi. Kedepan jika saya terpilih akan bikin seperti itu. Keliha­tannya sederhana memang tapi itu sangat bermanfaat. Kita jangan dulu bicara yang muluk-muluk dulu dimulai dari bawah dulu.

Kedua, selama banjir yaitu kesiapan melakukan evakuasi, menyediakan tenda-tenda untuk posko baik untuk kesehatan maupun logistik serta dapur lapangan. Ketiga, setelah banjir, baru mengadakan perbaikan-perbaikan struktur seperti jalan, air, sumur dan fasilitas lainnya.

Anda optimis banjir bisa ter­selesaikan?
Masalah banjir ini memang membikin trauma masyarakat. Ta­pi kalau kita siap, semua itu pas­ti bisa teratasi

Tadi disebutkan solusi kana­li­sasi, terkait dengan wong cilik disitu?
Begini cara kita lihat kasus per kasus. Ketika di bantaran kali itu tem­patnya wong cilik. Tapi sela­ma ini yang menjadi masalah bi­asa­nya mereka terkait dengan gan­ti rugi dan permasalahan mata pencaharian jika harus dipin­dah­kan. Jadi konsep saya kalau men­jadi gubenur saya akan datangkan DPR, ulama, tokoh masyarakat, Po­lisi dan TNI, per­­tanahan dan lain­nya. RM

sumber: http://www.rakyatmerdeka.co.id/edisicetak/?pilih=lihat&id=33568
Minggu, 04 Maret 2007, 02:08:36