Global Rescue Network: Menyelamatkan Korban Tanpa Kekonyolan
M Clara Wresti

Waktu menunjukkan pukul 18.00. Semua perahu karet telah diangkat ke mobil, siap kembali ke markas. Tiba-tiba, ada sebuah pemberitahuan bahwa jenazah Muhammad Guntur, kamerawan SCTV yang tenggelam bersama KMP Levina I, ditemukan. Kru Global Rescue Network yang sudah mencari sepanjang hari pun bergegas menurunkan perahu karet kembali.

Mereka kemudian menuju ke rawa Muara Mati, tidak jauh dari Muara Gembong, Bekasi, tempat jenazah itu hanyut. “Sebenarnya saya juga agak gentar. Suasana begitu sepi dan gelap. Saya mencoba menenangkan diri dengan berkata dalam hati, saya pakai jaket pelampung dan membawa cokelat di kantong,” kata Lodewijk R Korua, anggota Global Rescue Network (GRN) yang ikut menyelam untuk mencari korban tenggelamnya Levina.

Rasa takut, tetapi selalu siaga, memang sering menyergap relawan GRN. Bagaimana tidak, dalam melakukan tugas-tugasnya, relawan GRN memang dekat dengan maut.

GRN adalah sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang mencari dan menyelamatkan orang di sebuah bencana. Sebagian besar anggotanya adalah pencinta alam, penggemar radio komunikasi, dokter, dan orang-orang yang tergerak dalam kegiatan kemanusiaan. GRN sendiri terbentuk pertengahan tahun 2002 ketika Jakarta mengalami banjir besar.

Ketika itu, sekelompok orang yang tergerak untuk menyelamatkan korban banjir melihat institusi SAR yang ada kurang memadai. Korban yang ditolong begitu banyak sehingga harus dibantu oleh relawan.

“Dulu kegiatan kami hanya mencari pendaki gunung yang hilang. Namun, sekarang, banyak sekali bencana yang harus ditangani. Jika hanya menunggu pemerintah yang bekerja, akan lebih banyak lagi korban yang jatuh,” kata laki-laki yang sering disapa Loddy ini.

Saat ini GRN dipimpin oleh Freddy A Sutrisno, yang sehari-hari menjabat sebagai Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Pendirinya sendiri berjumlah 33 orang, antara lain Mansur Akhmad, Rudy Badil, Faisal Basri, Verani Bekti, Yusril Jalinus, Iwan Zulkarnain Gondonegoro, Rahmat Gobel, Erry Riyana Harjapamekas, Loddy Korua, Sarwono Kusuma Atmaja, dan Freddy Sutrisno. Saat ini, anggotanya sudah mencapai 300 orang relawan.

Setelah didirikan, GRN tidak berhenti bergerak. Dengan bermodalkan peralatan penyelamatan untuk di hutan, air, gunung, dan sebagainya, mereka telah ikut serta dalam penanggulangan bencana besar, seperti tsunami Aceh 2004, tsunami Nias 2005, letusan Gunung Merapi 2006, gempa bumi Bantul 2006, tsunami Pangandaran 2006, banjir DKI 2007, dan terakhir mencari korban yang tenggelam bersama KMP Levina I.

“Kami lebih memfokuskan pada upaya penyelamatan saat kejadian. Sedangkan untuk pencarian jenazah agak kami kurangi karena sudah banyak yang melakukannya,” kata Freddy yang menjalankan GRN dari bantuan dana donatur.

Dari pengalaman membantu korban bencana dan ada kalanya berada dalam situasi yang menakutkan, mereka berkesimpulan harus selalu siaga.

Setiap kali melakukan tugas, mereka pasti menggunakan semua alat-alat pengaman. Mereka juga mengantongi konsumsi karena tidak tahu apa yang bakal terjadi. “Air minum pasti dibawa. Namun, yang lebih penting adalah makanan. Cokelat, pisang mas, dan krekers pasti ada. Makanan seperti itu yang sangat menolong memberikan energi dalam waktu cepat dan tahan lama. Bisa saja terjadi tim penolong juga terkena bencana,” kata Freddy yang selalu membawa pisau lipat di kantongnya.

Dia berpendapat, menolong orang lain memang harus dilakukan, tetapi keselamatan diri juga harus diperhatikan agar bisa terus bekerja. Jangan melakukan sebuah kekonyolan hingga membuat diri sendiri yang harus ditolong.

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/05/metro/3358441.htm