Nyawa Manusia yang Makin Murah
Benny Susetyo

Musibah beruntun mulai dari kapal laut tenggelam, terbakar, kereta api anjlok, kapal terbang hilang, sangat menyita energi kita berhari-hari. Peristiwa itu seharusnya menyadarkan semua pihak akan arti penting manusia sebagai manusia. Manusia bukan sekadar material yang bisa dieksploitasi demi kepentingan ekonomi semata.

Keselamatan manusia jauh lebih penting di atas semua kepentingan material dan modal. Selama ini kita memperlakukan manusia sering di luar batas-batas kemanusiaannya. Terlalu banyak pelanggaran kemanusiaan dilakukan hanya untuk kepentingan personal yang memiliki modal dan kekuasaan.

Para pemodal menganggap manusia sebagai konsumen semata yang bisa dikomersialisasi dan dieksploitasi demi meraih keuntungan ekonomi. Para pejabat menganggap rakyat tidak sebagai manusia, melainkan segerombolan objek legitimasi kebijakan-kebijakannya.

Para elite agama melihat umatnya hanya sebagai sekumpulan tubuh yang bisa digerakkan atas dalil agama yang direkayasa penuh dengan kepentingan politik.

Terlalu banyak contoh perilaku kehidupan yang mengabaikan manusia lengkap dengan jiwanya. Pandangan manusia terlalu simpel dan simplifikatif. Manusia dilihat dengan kacamata kuda, mana yang menguntungkan ditonjolkan, dan yang tak berguna diabaikan.

Komersialisasi penerbangan adalah dampak kecil dari sebuah usaha besar peradaban yang digerakkan menuju materialisme. Ketika kebutuhan-kehidupan diperluas dan dilebarkan, usaha untuk memenuhi kebutuhan itu justru secara ironis didesak-desakkan, dipersempit ruang geraknya.

Usaha untuk memperoleh dan meraih kepentingan ekonomi maupun kekuasaan sering dilakukan dengan cara meminggirkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaannya, atau rakyat dengan nilai-nilai kedaulatannya. Kepentingan di luar kemanusiaan yang seharusnya menjadi utama dalam segenap perilaku manusia justru diabaikan. Kesadaran akan dipulangkan ke mana kehidupan ini lenyap ditelan keserakahan dan keangkuhan.

Jelas, dua peristiwa besar pembuka 2007 ini harus bisa menyadarkan betapa pentingnya nilai keselamatan manusia daripada sekedar kepentingan ekonomi. Komersialisasi penerbangan dan dunia transportasi lainnya menyeret manusia dan tereduksi hanya sebagai barang rongsokan.

Nilai keselamatan kurang dijamin oleh karena paradigma yang digunakan semata-mata adalah keuntungan.

Budaya Bohong

Negara juga harus belajar banyak untuk bersikap adil dan jujur kepada rakyatnya. Kita bukan lagi masa Orde Baru yang pandai membohongi rakyatnya untuk sesuatu yang manis-manis, kelemahan dianggap prestasi, dan prestasi dianggap sebagai kelemahan.

Birokrasi kita masih terbukti membawa kuat budaya birokrasi lama tersebut. Luka keluarga korban menjadi-jadi ketika publik dibohongi. Hingga sepekan pesawat hilang, malah ada yang dengan jelas memberitakan penemuan bangkai korban lengkap serta detail dengan korban-korbannya.

Itulah kebohongan publik yang memalukan dan memuakkan. Pertanda rakyat tak lagi dihargai. Pertanda derita keluarga korban tak diempati.

Semakin jelas negara gagal merasakan penderitaan rakyat. Ini membuktikan selama ini, terhadap korban lumpur, korban tsunami, tanah longsor, banjir, kelaparan dan sebagainya, begitulah pejabat kita bersikap.

Persoalan paling besar bagi bangsa ini ketika mempersepsikan harga nyawa manusia dan rakyatnya begitu murahnya ketika dianggap tiada lagi berguna.

Rakyat berharga mahal hanya saat menjelang pemilu dilakukan. Mereka dijadikan kambing congek yang dibeli mahal karena dianggap menguntungkan untuk mendukung posisi politik.

Begitu pula ketika mentalitas pengusaha menjadikan manusia sebagai konsumen belaka. Mereka dijebak dari kiri, kanan, atas dan bawah. Ruang kehidupannya semakin dipersempit ketika dalam pikiran dijejali kebutuhan-kebutuhan yang dipaksakan.

Sifat kemanusiaan dihilangkan dalam segenap aspek ekonomi. Yang penting hanyalah untung dan untung. Transportasi udara, darat dan air kurang memperhatikan keselamatan penumpang karena penumpang hanya dilihat dalam nilai materi belaka.

Penerbangan Murah

Hilangnya pesawat Adam Air kembali mengingatkan kita mengenai keamanan dan keselamatan pada pelbagai penerbangan murah di dunia. Apakah penerbangan bisa menjadi murah karena unsur keselamatan dan keamanannya tidak dipentingkan lagi? Arah peradaban global yang bergerak menuju materialisme merupakan dasar dari semua soal ini.

Buktinya soal seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di belahan dunia lain. Hukum ekonomi dipaksakan berlaku walau tak cocok. Untuk mengakses suatu barang, konsumen diberikan harga murah agar terjangkau dengan mengurangi jaminan-jaminan lainnya termasuk keamanan.

Kita menghadapi masalah besar yakni ketika nilai kehidupan dianggap begitu rendah oleh manusia itu sendiri. Harga manusia tak lebih dari sekadar materi belaka. Nilai manusia direduksi dalam kungkungan materialisme. Semua dibendakan, dan lebih sempit lagi adalah keuntungan sepihak.

Masalah demikian akan terus terjadi bila dasar pikiran kita tentang manusia dan rakyat masih tak berubah. Jika manusia adalah konsumen, rakyat adalah gerombolan, maka unsur kemanusiaan dan kedaulatan manusia akan tergerus.

Sudah waktunya, manusia yang konsumen juga dihargai kehidupan dan keselamatannya. Manusia yang juga rakyat dihormati kedaulat- annya.

Penulis adalah budayawan
—————————
sumber: http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/02/Editor/edit01.htm
Last modified: 1/3/07