Transmigrasi Mulai Diminati, Sebagian Warga Masih Ragu-ragu

jakarta, kompas – Keinginan pemerintah pusat untuk mentransmigrasikan sebagian penduduk di tepi sungai di seluruh Jakarta mulai ditindaklanjuti dengan pendataan potensi dan penjaringan animo masyarakat. Sebagian masyarakat menunjukkan minat awal, tetapi banyak juga yang masih ragu-ragu.

Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta Rusdi Mochtar, Jumat (2/3) di Jakarta Pusat, pemerintah sedang mengidentifikasi lokasi-lokasi masyarakat di Jakarta yang menginginkan dan membutuhkan transmigrasi.

Untuk periode 2007, kata Rusdi, pemerintah menawarkan program transmigrasi Kota Terpadu Mandiri (KTM). Pemerintah menawarkan lokasi yang sudah memiliki infrastruktur yang baik dan dilengkapi dengan fasilitas umum yang memadai.

Selain itu, kata Rusdi, pemerintah juga sedang mengusahakan masuknya investor untuk membangun industri pengolahan hasil pertanian. Industri itu diperlukan untuk menjamin adanya pembeli hasil pertanian para transmigran.

KTM yang sedang dipersiapkan masyarakat berada di Ogan Komering Ilir dan Ogan Komering Ulu (Sumatera Selatan), Luwu Timur (Sulawesi Selatan), dan Tulang Bawang (Lampung). Luas lahan yang sudah disiapkan di keempat KTM itu mencapai 238.000 hektar.

Setiap keluarga transmigran, kata Rusdi, akan mendapat jatah tanah pertanian seluas dua hektar dan 0,5 hektar tanah pekarangan. Mereka juga akan mendapat jatah hidup berupa logistik selama satu tahun.

Rusdi mengatakan, dalam proses identifikasi awal, banyak warga menyatakan keinginan mereka untuk transmigrasi ke Sumatera. Keinginan itu muncul setelah banyak warga kehilangan harta benda mereka akibat banjir besar awal Februari lalu.

Selain latihan teknik pertanian sesuai lahan yang akan ditempati, kata Rusdi, calon transmigran dari DKI Jakarta akan dibekali dengan keterampilan menjahit, pertukangan, dan perbengkelan.

Sementara itu, minat terhadap tawaran transmigrasi diungkapkan Maryadi, warga Kampung Melayu, yang kehilangan sebagian dinding rumah kontrakannya akibat diterjang banjir. Menurut pendatang asal Madiun itu, dia dan keluarganya sedang membahas kemungkinan untuk bertransmigrasi karena hidup di Jakarta yang tidak kunjung membaik.

Keinginan yang sama juga diungkapkan beberapa warga tepi sungai yang rumahnya hancur karena banjir. Bagi mereka, kembali menjadi petani di daerah transmigrasi menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan hidup yang bebas dari bencana.

Namun, sebagian warga menyatakan masih ragu-ragu terhadap tawaran transmigrasi. Budiyanto, warga Kampung Melayu, mengatakan, dia mendapat banyak cerita mengenai sulitnya hidup di wilayah transmigrasi.

“Tidak ada listrik, jalan, dan sekolah. Selain itu, lahan pertanian belum tentu subur. Saya tidak yakin dapat hidup di lahan transmigrasi dan lupa cara menggunakan cangkul,” kata Budiyanto, yang datang ke Jakarta 10 tahun lalu. (eca)

sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/03/metro/3359039.htm