Banjir Teratasi, Pendapatan Meningkat

Pemprov DKI Jakarta terus berusaha mencari jalan bagaimana mengumpulkan dana Rp 4,37 triliun untuk membangun Deep Tunnel Reservoir System (DTRS). Pembangunan DTRS atau pipa bawah tanah penampung banjir sendiri diyakini Pemprov dapat menjadi solusi bagi penanganan banjir tahunan di Jakarta. Keyakinan Pemprov ini didasarkan pada hasil studi tim ahli yang melihat hasil kerja DTRS di Hongkong dan Chicago, Amerika Serikat. “Kita tunggu dulu penelitian kelayakannya,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat ditemui wartawan di pemberian perhargaan Laboratorium Analisa Air PAM Jaya sebagai Laboratorium Penguji Sesuai ISO 17025-2005.

Direktur Teknik PAM Jaya Kris Tutuko mengatakan, DTRS ini merupakan tambahan wawasan baru terhadap solusi pengendalian banjir di Jakarta. Dengan DTRS dapat dilakukan pengolahan air limbah dan penyimpanan air baku dalam waktu sama. “Jadi menggunakan sistem terpadu,” ujar Tutuko.

Sistem terpadu yang diterapkan DTRS akan bekerja efektif bila dua lembaga yang mengatur air limbah dan air minum berjalan bersama. DTRS sendiri dapat diterapkan di Jakarta karena ditanam di bawah permukaan tanah dan di bawah permukaan sungai. “Sudah ada contohnya di Singapura dan Chicago,” ujar Tutuko.

Menurut Direktur Utama PAM Jaya Didit Haryadi Priyohutomo, kelebihan dari DTRS adalah tak perlu ada pembebasan lahan. Karena DTRS dibangun 100 meter di bawah tanah. Penanaman DTRS di bawah tanah juga tak akan mengganggu jaringan listrik atau komunikasi. Sebab, tim ahli yang membangun DTRS itu sudah mempunyai peta jaringan listrik dan komunikasi. “Cara menanam pipa DTRS pun tidak dengan menggali tanah secara horisontal tetapi vertikal,” ujar Didit.

Dari hasil penelitian tim ahli di luar negeri, DTRS selain dapat menanggulangi banjir juga meningkatkan pendapatan masyarakat. “Karena DTRS itu mengolah air baku dan limbah. Ketika limbah menjadi pupuk, pupuk tersebut dapat dijual,” ujar Didit. Ini sudah terbukti di Chicago, di mana kawasan tersebut hanya berpenghuni 750 ribu namun mampu menghasilkan jutaan pupuk dari DTRS saja. “Hongkong ingin meniru dan kemudian membangun DTRS itu. Hongkong menargetkan 2008, pembangunan DTRS itu selesai,” ujar Didit.

Hongkong berani membangun DTRS padahal DTRS yang diperlukan sangat panjang, 70 kilometer. “Masak Jakarta tak mampu membangun DTRS yang hanya 17 kilometer,” ujar Didit. Uji kelayakan ini penting. Karena itu, sebelum membangun DTRS, tim ahli memerlukan waktu setahun untuk melakukan pengujian di lapangan. Tak hanya unsur teknologi saja yang jadi pertimbangan tim ahli, namun juga kemampuan sumber daya manusia untuk menangani DTRS itu. Rencananya, sistem ini akan dibangun di sepanjang Banjir Kanal Timur (BKT), Banjir Kanal Barat (BKB), dan di barat sungai Ciliwung.

PAM Jaya yang merupakan salah satu perusahaan air minum besar di Indonesia berjanji akan memberikan pelayanan lebih baik dalam menguji kualitas air tanah. Laboratorium Analisa Air PAM Jaya kemarin mendapat akreditasi ISO/IEC 17025 : 2005 dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). Keberhasilan mendapat akreditasi itu semoga menjadi jaminan untuk memberi pelayanan lebih baik dalam melakukan uji baku mutu air tanah. “Inilah maknanya bagi masyarakat karena adanya akreditasi ini telah lolos standar internasional,” kata Didit.

Sekjen KAN Sunarya mengatakan akreditasi yang diberikan kepada PAM JAYA itu telah melalui seluruh proses pengujian sesuai persyaratan. “Seluruh 25 parameter yang menjadi standar internasional telah terpenuhi, PAM Jaya telah memenuhi standar tidak saja nasional tapi di seluruh dunia,” tandasnya. (eko/aya)

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=274609