Horison Buni, di Tepi Kali Bekasi

Her Suganda

Siang itu, matahari di atas Desa Kendal Jaya mulai terasa terik. Panasnya menyengat, tetapi sama sekali tidak mengurangi semangat penduduk laki-laki dan perempuan yang berdatangan dari beberapa desa di Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang.

Dengan berlindung di balik payung, mereka berusaha mengadu untung dengan menggali tanah yang dianggap kubur kuno. Dalam pikiran mereka tebersit harapan, siapa duga bisa menemukan perhiasan emas yang bisa segera dilego ke penampung.

Perburuan emas dan barang-barang antik lainnya di tempat yang diduga merupakan kubur kuno tersebut sudah berlangsung sejak pertengahan Januari lalu. “Ada yang menemukan pendil tanah,” kata Riman mengungkapkan salah satu benda temuan dari kubur kuno tersebut. Ia menambahkan, “Kalau sedang mujur, bisa menemukan perhiasan emas,” tambahnya.

Kisah perburuan barang-barang di tempat semacam itu bukan sekali ini terjadi. Pada tahun 1958, di sebuah daerah yang terletak di dekat Kali Bekasi, seorang petani yang sedang menggarap sawahnya menemukan sejumlah barang berupa perhiasan-perhiasan emas yang tersimpan di dalam periuk kuno yang terbuat dari tanah.

Temuan itu segera saja mengundang minat penduduk lainnya. Mereka datang berbondong-bondong mengadu nasib melakukan pencarian barang-barang yang dianggapnya sebagai harta karun. Tanah sawah digali, lahannya diacak-acak. Tulang-tulang kerangka manusia yang dikubur di tempat itu dibuang.

Namun, apa yang dilakukan para penggali liar itu akhirnya menyulitkan penelitian arkeologi yang saat itu dilakukan Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional—kini Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional/Puslitarkenas yang bernaung di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2006).

Ketika tahun 1960 para arkeolog melakukan penyelamatan dan penjajakan, tempat itu sudah berantakan. Mereka sedih. Karena penggalian dilakukan tanpa prosedur ilmiah, banyak data di “tempat kejadian perkara” hilang karena kecerobohan dan kebodohan.

Kedudukan peninggalan dalam lapisan tanah tidak diketahui lagi dan tulang belulang dibiarkan berserakan di mana-mana bercampur dengan tanah hasil penggalian.

Pinggir Kali Bekasi

Setelah tiga kali dilakukan survei dan ekskavasi, yakni pada tahun 1964, 1969, dan tahun 1970, akhirnya diperoleh temuan-temuan yang sangat berarti. Buni yang terletak di pinggir Kali Bekasi diduga merupakan permukiman, dengan masyarakatnya sudah mengenal tradisi penguburan secara langsung yang dilengkapi dengan bekal kubur berupa beragam gerabah, beliung persegi, artefak logam perunggu dan besi, perhiasan emas, gelang kaca, manik-manik batu dan kaca, serta bandul jaring.

Penyertaan bekal kubur itu merupakan bagian dari ritus komunitas Buni yang dilatari kepercayaan adanya kehidupan sesudah mati. Untuk melanjutkan perjalanan ke alam arwah, jenazah yang dikuburkan perlu diberi bekal.

Berbagai artefak, terutama tembikar yang ditemukan di situs Buni, telah menarik perhatian para arkeolog. Apalagi bentuk dan corak hiasan tembikar Buni ternyata ditemukan pula di dalam bentang wilayah yang luas. Ibarat sebuah pelangi yang sedang mengembang, penemuan corak hiasan tembikar yang ditemukan di Buni dijumpai dalam wilayah yang begitu luas.

Dalam dunia arkeologi Indonesia, daerah sebarannya dinamakan sebagai Kompleks Buni. Namun, ada pula yang menjulukinya Horison Buni. Kompleks Buni atau Horison Buni merupakan kompleks kebudayaan gerabah. Kompleks tersebut ditafsirkan sebagai bentuk awal peradaban.

Horison Buni di daerah pantai utara Jawa Barat mencakup Kali Bekasi di sebelah barat sampai Kali Cilamaya di sebelah timur, meliputi daerah-daerah Kedungringin, Cabangbungin, dan Bulaktemu di Kabupaten Bekasi.

Di pantai utara Karawang antara lain di Cilebar, Kobakkendal, dan Babakan Pedes di daerah Kecamatan Rengasdengklok. Bahkan sebarannya lebih luas lagi sampai daerah aliran Sungai Ciliwung di Jakarta dan Tangerang. Penggalian arkeologis yang dilakukan di pinggiran Sungai Ciliwung, Jakarta, yang terletak di Pejaten, Condet, Lenteng Agung, dan Kelapa Dua telah memberikan hasil penting melalui pertanggalan carbon 14, sehingga dapat ditetapkan rentang pertanggalannya antara 1000 tahun sebelum Masehi dan 500 Masehi.

Horison Buni merupakan ciri yang mewakili sebuah kelompok masyarakat dan budaya sezaman yang menghuni pantai utara Jawa Barat. Situs ini sekaligus memperlihatkan adanya kehidupan pada masa akhir prasejarah dengan tingkat kebudayaan manusia yang sudah tinggi.

Akan tetapi, selama itu para arkeolog masih menyimpan dendam bahwa suatu saat mereka bisa menemukan kerangka manusia dalam keadaan utuh beserta bekal kuburnya sehingga pemahaman tentang budaya Buni menjadi lebih baik. Perkiraan saat itu hanya tinggal menunggu waktu saja. Mereka yakin, suatu saat kompleks hunian masyarakat Buni yang lebih besar dan utuh pasti akan ditemukan.

Impian itu akhirnya menjadi kenyataan ketika dilakukan penelitian di Batujaya pada tahun 2005. Daerah yang merupakan situs kompleks percandian bata paling luas di Jawa Barat itu terletak sekitar 45 kilometer arah utara Kota Karawang.

Situs kompleks percandian Batujaya meliputi luas sekitar lima kilometer persegi. Di sana ditemukan tidak kurang dari 28 runtuhan bangunan yang semuanya tertutup tanah sehingga menyerupai bukit kecil. Ketinggian puncak bukit kecil itu sekitar dua meter di atas permukaan tanah sekitarnya, berada di wilayah Desa Segaran dan Desa Telagajaya.

Situs tersebut ditemukan sejak tahun 1985 oleh tim Jurusan Arkeologi, Universitas Indonesia. Sejak itu penelitian dan ekskavasi hampir tak pernah henti dilakukan setiap tahun oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Mula-mula Candi Jiwa dan kemudian Candi Blandongan.

Penduduk setempat menamakannya Unur Jiwa dan Unur Blandongan. Unur menurut dialek setempat artinya sama dengan hunyur dalam bahasa Sunda, yaitu rumah sarang rayap yang berbentuk gundukan tanah. Dinamakan Unur Jiwa karena tempat itu dianggap angker.

Karena daerah sekitarnya sering dilanda banjir, Unur Jiwa sering dijadikan tempat menambatkan kambing milik penduduk. Namun beberapa hari kemudian, selalu terdapat kambing mati di sana. Akan halnya Unur Blandongan, tempat itu dipercaya merupakan tempat berkumpul. Dalam dialek setempat, belandongan artinya sama dengan pendopo tempat menerima tamu.

Bangunan candi yang dinamakan Unur Jiwa berdenah bujur sangkar berukuran 19 meter x 19 meter dan tinggi 4,7 meter. Profil dindingnya berbentuk pelipit rata (patta), pelipit penyangga (uttara), pelipit setengah lingkaran (kumuda). Pada bagian permukaan atas bangunan terdapat susunan bata yang melingkar dengan garis tengah sekitar enam meter. Gejala ini masih dipertanyakan, apakah susunan bata yang melingkar itu merupakan bagian dari stupa atau merupakan bentuk lapik dari sebuah teras.

Ekskavasi runtuhan bangunan Unur Blandongan sudah dilakukan sejak tahun 1992 hingga tahun 1998. Kegiatan ini berhasil menampakkan gambaran dan ukuran denah bangunannya yang berbentuk bujur sangkar berukuran 25,33 meter x 25,33 meter. Pada sisi timur laut, tenggara, barat daya, dan barat laut terdapat tangga naik yang terbuat dari bata dan batu andesit. Anak tangga paling bawah berukuran lebar 1,58 meter dan anak tangga bagian atas berukuran lebar 2,33 meter. Anak tangga tersebut menuju ke arah pintu masuk berukuran lebar 2,20 meter yang mengarah ke sebuah lorong.

Dalam ekskavasi tahun 1995, dari runtuhan Unur Blandongan ditemukan tidak kurang dari 43 buah votive tablet dengan salah satu sisinya terdapat relief yang menggambarkan mandala Buddha. Bentuk penampangnya persegi panjang dengan bagian atas membentuk setengah lingkaran, berukuran panjang 6 sentimeter, lebar 4 sentimeter, dan tebal 0,8 sentimeter. Bagian sisi votive tablet tersebut dilingkari bingkai yang berhias garis-garis bersusun menyerupai shikara (bagian puncak stupa). Pada salah satu votive tablet tersebut terdapat inskripsi yang ditulis dalam aksara Khmer.

Situs Batujaya terletak sekitar 500 meter dari aliran Sungai Citarum yang bermuara di Ujung Karawang. Kawasan ini dilalui aliran sungai kecil Kali Asin yang kini masih tetap berfungsi sebagai saluran pembuang.

Situs ini menjadi surga para arkeolog. Lapisan-lapisan tanah yang digali tidak hanya berhasil menampakkan sosok bangunan candi. Yang lebih menarik lagi, dalam penggalian yang dilakukan tim Puslit Arkenas yang bekerja sama dengan Ecole Francaise d’Extreme-Orient dari Perancis, ditemukan lapisan budaya pendahulunya.

Permukaan tanah

Dalam penggalian di bawah Unur Lempeng, di bawah struktur bangunan yang berada pada kedalaman tanah sekitar 2,5 meter di bawah permukaan tanah sekitar, ditemukan kerangka manusia yang masih utuh dengan bekal kuburnya. Kerangka tersebut dikuburkan dengan memakai gelang emas pada pergelangan tangan kanannya sambil memegang pisau besi.

Di antara kedua lutut dan bagian punggungnya terdapat pula senjata dari besi. Di bagian kaki dan atas kepala kerangka terdapat wadah tembikar dengan motif hiasan khas Buni.

Tidak jauh dari kerangka itu ditemukan pula lima kerangka lainnya. Kerangka-kerangka tersebut ada yang masih baik, tetapi ada pula yang sudah rusak. Semuanya dilengkapi dengan bekal kubur berupa barang tembikar.

Menuju ke arah barat dari tempat ditemukannya kerangka pertama, ditemukan sisa bangunan bata berdenah empat persegi panjang. Dindingnya bersekat-sekat berbentuk ruangan. Di bagian bawah, sejajar dengan dinding fondasi, lagi-lagi ditemukan kerangka manusia dalam posisi membujur arah timur laut-barat daya. Kerangka tersebut tidak disertai bekal kubur. Mungkin karena bekal kuburnya sudah terangkat lebih dulu ketika dilakukan penggalian.

Sampai awal pertengahan tahun 2006, di situs Batujaya sudah ditemukan 30 individu yang dikuburkan di sana. Kerangka manusia tersebut sangat beragam, baik usia maupun jenis kelaminnya.

Dalam penelitian paleontologi menunjukkan, ciri tengkoraknya bundar atau sedang, dahi membulat dengan rongga mata tinggi dan persegi. Bagian mulut menonjol sedikit. Keseluruhan ciri menunjukkan pada ras Mongolid. Mereka diduga turunan dari koloni Austronesia yang bermigrasi dari arah utara sekitar Kalimantan dan Taiwan.

Temuan tersebut sangat berharga. Karena itu, untuk melakukan tes DNA, digunakan metode terbaru dengan cara mengambil sampel gigi.

Penemuan kubur komunitas Buni di situs Batujaya tidak hanya memberikan bukti fisiografis dan biologis manusia pada zaman dahulu. Dengan temuan itu juga bisa diketahui aspek budaya yang berkaitan erat dengan ritus dan latar belakang religi. Komunitas Buni yang mendiami pantai utara Jawa Barat sudah memiliki teknik pertanian dan budaya yang tinggi. Hal ini terbukti dengan ditemukannya peralatan yang terbuat dari logam, di samping manik-manik bahan kaca, gelang batu, perkakas dari logam, dan tembikar yang jumlahnya sangat banyak. Barang-barang tersebut ada yang ditemukan dalam keadaan masih utuh ataupun bentuk pecahan.

Setelah dilakukan rekonstruksi, pecahan-pecahan tembikar itu merupakan peralatan rumah tangga seperti kuali, periuk, wajan, piring, pendil, guci, dan jambangan. Dilihat dari jenisnya, tembikar tersebut terdiri dari dua jenis, yakni tembikar lokal dan tembikar nonlokal. Tembikar lokal adalah tembikar Buni. Permukaannya agak kasar, beda dengan tembikar nonlokal. Tembikar nonlokal yang ditemukan di situs Batujaya merupakan tembikar yang berasal dari Arikamedu, sebuah pelabuhan laut di India selatan. Bagian luar tembikar Arikamedu berwarna hitam dan bagian dalamnya berwarna kemerah-merahan, memiliki hiasan dengan teknis hias cungkil atau gores. Jika berbentuk piring, dasar bagian dalam piring tersebut memiliki hiasan lingkaran konsentris. Hiasan ini dikenal oleh para ahli tembikar dengan istilah Rolated Wear.

Bagaimanakah tembikar-tembikar dari Arkamedu itu bisa sampai di “Horison Buni”? Dalam hal ini, hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Selain melalui hubungan dagang, tembikar-tembikar itu dibawa oleh orang-orang India dari negeri asalnya. Para ahli menduga, komunitas Buni yang melandasi awal kebudayaan di Jawa Barat tersebut berlanjut terus hingga masa Tarumanagara.

Situs Cibuaya

Tidak jauh dari kompleks percandian Batujaya, terdapat situs Cibuaya. Dinamakan demikian karena situs tersebut terletak di Desa/Kecamatan Cibuaya, sekitar 40 kilometer arah utara Kota Karawang. Penduduk setempat menamakannya lemah duwur.

Karena salah satu di antaranya memiliki lingga di bagian puncaknya, situs tersebut dinamakan Lemah Duwur Lanang. Situs lainnya dinamakan Lemah Duwur Wadon. Lemah duwur dalam dialek setempat berarti tanah yang tinggi. Sedangkan lanang dan wadon menunjukkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Ketinggian puncak lemah duwur tersebut rata-rata 2 meter di atas permukaan tanah sekitarnya.

Situs Cibuaya terletak pada satu dataran rendah seluas lebih kurang 600 meter x 1.200 meter, sebagian besar area situs itu merupakan sawah. Penelitian arkeologis terhadap situs tersebut sudah beberapa kali dilakukan, baik oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional kini Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) maupun dengan kerja sama Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia menyusul ditemukannya arca Wisnu. Arca Wisnu 1 ditemukan sekitar tahun 1951, arca Wisnu 2 pada tahun 1957, dan arca Wisnu 3 tahun 1977.

Dugaan adanya bangunan suci dan tidak mustahil adanya masyarakat pendukungnya, diperkuat dengan ditemukannya runtuhan batu bata yang terdapat hampir di semua situs Cibuaya. Sampai tahun 1993, di situs Cibuaya terdapat tidak kurang dari tujuh runtuhan bangunan yang tersebar di sektor CBY 1 sampai CBY 5. Dua runtuhan di antaranya terdapat di sektor CBY 5. Namun, tiga di antaranya sudah tidak bisa dikenali lagi, baik bentuk maupun ukurannya.

Dari seluruh runtuhan bangunan yang masih bisa dikenali, para arkeolog menyatakan, bangunan di Lemah Duwur Lanang tergolong paling menarik.

Her Suganda Pengurus Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/07/metro/3362819.htm