Jakarta Punya Fungsi Terlalu Banyak

Jakarta, Kompas – Pembangunan di Jakarta tidak mengikuti pola pembangunan yang jelas sehingga menghasilkan berbagai persoalan lingkungan dan sosial. Demikian antara lain disampaikan Menteri Lingkungan Hidup periode 1983-1988 dan 1988-1993 Emil Salim menanggapi presentasi Syafa Tasya Kamil, siswa kelas III SMP Al Izhar, dan Indra Maharddhika, siswa kelas II SMU Al Izhar, di Perguruan Islam Al Izhar, Jakarta.

Sebelumnya, kedua pelajar itu menyampaikan masalah lingkungan di Jakarta dalam diskusi pembelajaran bersama bertema “Layak kah Jakarta Sebagai Ibu Kota Masa Mendatang? Acara ini untuk memperingati 20 tahun Perguruan Al Izhar.

Tekanan penduduk, tidak adanya perencanaan pembangunan yang jelas, serta perilaku penduduk Jakarta menurut kedua pelajar tersebut menyumbang masalah lingkungan Jakarta.

Menurut Emil Salim, tekanan penduduk terhadap Jakarta—kepadatan Jakarta 13.344 jiwa per kilometer persegi—disebabkan Jakarta memiliki fungsi terlalu banyak. Selain sebagai ibu kota negara, Jakarta juga kota bisnis, perdagangan, dan kota industri.

“Logika menyelesaikan tekanan penduduk dan lingkungan Jakarta adalah dengan memindahkan ’gula-gula’ yang menarik ’semut’ ke Jakarta, ke luar Jakarta,” kata Emil Salim.

Syarat untuk itu adalah adanya Rencana Umum Tata Ruang Jakarta, kawasan langsung di sekitar Jakarta (Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok), dan kawasan lingkar yang lebih luar lagi, yaitu Rangkasbitung, Cianjur, Purwakarta, dan Sukabumi.

Karena itu, jangan lagi dibangun mal di Jakarta dan jalan tol menuju Jakarta, serta mengusahakan agar penduduk di lingkar luar Jakarta tidak tertarik menuju Jakarta. (NMP)

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/07/metro/3364517.htm