Penjernih Air Cepat di Wilayah Krisis Air

Tak lama lagi, krisis air bersih di Jakarta sedikit teratasi. Pemprov DKI Jakarta berusaha menempatkan alat penjernih air cepat di setiap kelurahan yang mengalami problem tersebut. Selama ini, water treatment system seharga Rp 160 juta itu baru ditempatkan di kawasan Kampung Beting, Jakarta Utara.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, pihaknya tertarik dengan alat penjernih cepat karena itu cara mudah dan cepat untuk mendapatkan air bersih. Bang Yos-panggilan Sutiyoso-mengatakan, alat itu akan ditempatkan di titik-titik yang memang dibutuhkan masyarakat. “Terutama di lokasi yang belum tersentuh jaringan air minum dari Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya,” ujar dia saat ditemui di Balaikota kemarin.

Karena itu, alat penjernih air cepat sangat diperlukan di setiap kelurahan. Meskipun harga satu alat itu cukup mahal, Rp160 juta per unit, hal itu tak menyurutkan langkah pemprov menyediakan pelayanan air bersih kepada masyarakat. Water treatment system sendiri terdiri atas dua macam. Untuk alat penjernih air yang mampu menyuling air 6 m3 per jam harganya Rp 160 juta. Sedangkan, alat yang berkapasitas produksi 25 m kubik per jam harganya mencapai Rp 530 juta.

Menurut Bang Yos, harga Rp 160 juta untuk kepentingan masyarakat tak terlalu mahal. Lagipula, alat itu tidak harus ditempatkan di tiap RT, bisa saja, satu kelurahan ditempatkan satu unit.

Seperti diketahui, kemarin pagi, Sutiyoso telah melihat pengujian alat penjernih air cepat tersebut di tepian Kali Sindang, di kawasan Koja, Jakarta Utara. Dengan menggunakan tabung, air kali yang hitam pekat dan berbau busuk tersebut dialirkan ke dalam mesin, diolah dan dicampur oleh zat kimia. Hasilnya, air kali yang sebelumnya hitam pekat mulai berwarna jernih dan tak berbau.

“Air yang kotor itu diubah menjadi air bersih. Meskipun sudah berbentuk air bersih, saya tak merekomendasikan untuk langsung diminum. Harus dimasal dulu karena masih ada bakterinya,” ujar Executive Director PT LMS Joko Triono kepada wartawan di tepian Kali Sindang, Koja, Jakarta Utara, keamrin.

Menurut Joko, alat penjernih air cepat ini sudah diujicobakan saat bencana tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan gempa bumi di Jogjakarta. Pihaknya mengatakan, alat penjernih air cepat yang diujicobakan ini sebelumnya dipakai untuk menyediakan air bersih RSUD Koja. Setiap harinya, alat ini bisa menghasilkan air bersih sebanyak 50 ribu liter. “Keunggulan alat ini yaitu zero maintenance. Hanya menggunakan bahan bakar solar, efektif untuk daerah yang kekurangan air bersih. Karena air bakunya diambil langsung dari sungai,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Wibowo Sukijat mengatakan, wilayah yang membutuhkan alat penjernih cepat adalah kotamadya Jakarta Utara. “Jakarta Utara itu airnya kotor dan asin. Untuk itu, perlu ditempatkan alat ini,” kata Wibowo. Selama ini, pihaknya sudah menempatkan satu alat penjernih cepat milik Departemen Kesehatan (Depkes) di Kampung Beting, Jakarta Utara. “Kita akan meminta alat itu dari Depkes, tetapi sampai sekarang belum ada pelimpahan,” ujar dia. (eko/mg4)

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=275346